Terjebak Di Dua Pilihan

Terjebak Di Dua Pilihan
Perdebatan Pras dan Tasya


__ADS_3

Hari ini Tania kuliah sampai jam tiga sore, tapi tadi dia belum sempat bilang dengan Pras, Karena Pras langsung meninggal kan kampus nya.


Tania akhirnya mencoba mencari angkutan saja, namun belum sempat Tania mengambil handphone nya, Al pun muncul dibelakang Tania.


"Tan, kamu tidak bawa mobil?"


"Tidak kak , tadi Tania di antar Om Pras, tapi Tania lupa bilang jam berapa dijemput, jadi Tania mau cari taxsi saja."


"Kalau begitu kakak saja yang antar, kita bisa bareng."


"Tidak usah Kak, biar Tania sendiri saja nanti Tania malah merepotkan."


"Tidak apa-apa Tan."


"Kalau tidak Tania tunggu Om Pras aja."


"Udah tidak apa-apa ,biar kakak saja yang antar."


"Tapi kak!"


"Udah yok!"


Belum sempat lagi Tania menolak ,Al sudah menarik tangannya, Tania yang tidak terbiasa tangannya dipegang seperti itu, mencoba melepaskan nya dari genggangam tangan Al.


"Ayok masuk!"


Tania sedikit ragu-ragu Karena Pras sudah bilang akan dijemput. Tania membuka pintu mobil Al, namun belum sempat masuk ke mobil , tiba-tiba mobil Pras berhenti tepat disamping mobilnya Al.


"Ayok masuk!"


Tania pun jadi bingung, dia tidak enak dengan Al, tapi juga tidak mungkin menolak Pras yang sudah menjemputnya.


"Kak Al, maaf ya Tania sudah dijemput!"


"Oke, lain kali KK antar!"


Tania hanya tersenyum, dan langsung berpindah arah untuk masuk ke mobil Pras.


"Apa kamu tidak bisa sabar sebentar?"


"Maaf Om, tadi Tania pikir Om tidak jemput Karena Tania tidak bilang kan jam berapa selesai kuliah nya."


"Itu bukan hal yang susah untuk saya."


Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang, namun Tania hafal betul kalau itu bukan arah kerumah, Tania mencoba mengingat-ingat jalan ini, dan ternyata ini arah ke kantor Pras.


"Om kenapa kita kekantor?"


"Saya masih ada sedikit pekerjaan, setelah ini kita pulang."


Tania hanya diam, menurut saja, tak ingin jika beralasan pasti nanti akan panjang ceritanya.


Mobil milik Pras masuki parkiran kantor, mereka langsung turun , Tania saat itu berhenti dilobi dia ingin duduk disana saja menunggu Pras.


"Kamu mau ngapain?"


"Duduk, sambil nungguin Om."


Bukan nya jawaban yang didapat Tania namun malah Pras menarik tangannya, berjalan melewati resepsionis dan menuju ruangan Pras , banyak mata yang saat itu menatap Tania bersama Pras.


Ada yang senang karena berpikir Tania adalah pacar baru Pras, karena banyak di antara mereka yang tidak suka dengan Tasya karena sikapnya yang angkuh. Dan ada yang iri dengan kecantikan Tania.


Pras langsung masuk ke dalam lift dengan masih menggandeng Tania bersama nya, setelah lift terbuka Pras pun membawa Tania masuk ke ruangan kerjanya.

__ADS_1


"Om kenapa Tania tidak tunggu dibawah saja?"


"Jangan banyak protes ,tunggu disini dan kalau mau istirahat kamu masuk lah kedalam, saya mau meeting dulu sebentar."


"Iya Om."


Pras pun meninggalkan Tania sendirian diruang kerjanya,dan Tania pun terpaksa Patuh duduk diruangan Pras, padahal dia tadi ingin duduk dilobi saja, Karena dia lapar ingin makan dulu.


Tapi bukan Pras namanya kalau tak bisa memaksakan keinginannya. Tania pun bosan sendirian, dia mencoba membaca-baca buku yang ada disudut ruangan itu.


Namun lapar nya terus mengganggu, Tania membuka kulkas dan mengambil minuman segar disana berharap bisa menghilangkan rasa lapar nya.


Namun tidak juga bisa, akhirnya Tania memutuskan masuk keruangan yang tadi ditunjuk oleh Pras, dan ternyata didalamnya terdapat tempat tidur yang nyaman, melepaskan tas dan sepatunya, dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dan larut dalam mimpinya.


Pras yang sudah selesai dari meeting pun kembali ke ruangannya ,namun tak mendapatkan Tania disana,setelah membuka pintu ternyata gadis itu sedang tertidur pulas di atas tempat tidur.


Pras menelan ludah nya dengan susah payah, bagaimana tidak Tania yang memakai dres diatas lutut itu tidur sesuka hati, sampai-sampai bajunya tersingkap naik ke atas, untuk saja Tania memakai celana pendek ketat didalam nya.


Pras menutup pintu itu kembali, kehadiran Tania beberapa hari ini memang sering menggangu iman nya, dia membuka kulkas dan meneguk minuman dingin yang ada disana.


Melonggarkan dasinya, dan membuka jas nya, memejamkan mata, mencoba menghilangkan rasa lelah dan debaran kencang di jantung nya.


Namun belum sempat lagi Pras bersandar, pintu ruangannya pun dibuka tanpa diketuk terlebih dahulu.


"Sayang!" panggil seorang wanita yang baru saja datang


"Kamu kesini kenapa tidak bilang dulu?" Ucap Pras pada Tasya.


"Sejak kapan aku harus bilang kalau kesini, aneh kamu!"


"Untung saja aku sudah selesai meeting."


"Apa kamu capek, apa perlu Aku bantu menghilangkan rasa capek?"


Melihat Pras yang hanya diam Tasya pun merasa aneh, tidak pernah Pras menolak ajakan nya.


"Aku capek!"


"Biasanya kamu tak pernah kenal capek sayang."


"Tapi hari ini aku lelah."


Pras pun terpikir dengan kesepakatan dirinya dan papa nya selama sebulan, dan Pras berencana bicara dengan Tasya saat itu, karena mungkin ini kesempatannya bicara. Biasanya asal bertemu tak pernah Pras punya waktu untuk bicara, karena keduanya sibuk dengan hasrat masing-masing.


"Tasya!"


"Hmm!


Tasya sudah bergelayut manja dipangkuan Pras. Namun pras memintanya untuk duduk dikursi yang ada dihadapannya.


"Tasya, duduk lah dulu, aku ingin bicara serius tentang hubungan kita."


"Hubungan kita, bukannya tidak ada masalah dengan hubungan kita?"


"Iya aku tau, tapi ada hal yang serius yang Aku ingin bicarakan."


"Oke, katakan saja Aku siap mendengarkannya.


"Tasya, hubungan kita ini sudah bertahun-tahun."


"Ya Aku tau itu, bahkan kita sudah melakukan banyak hal bersama, apa lagi yang ingin kita bicarakan."


"Dengarkan dulu baik-baik apa yang ingin aku katakan saat ini, ini semua demi kelanjutan hubungan kita."

__ADS_1


Tasya merasa aneh dengan apa yang Pras katakan, tidak pernah pras bicara seperti itu dengan nya apalagi dengan mimik wajah yang begitu serius.


"Tasya aku ingin kita meresmikan hubungan kita, dengan menikah!"


"menikah?"


"Iya, aku ingin kamu menjadi istriku yang sah, dan kita bisa memiliki kelurga kecil yang bahagia."


"Sayang, kita sudah pernah bahas ini sebelumnya, aku tidak ingin menikah , aku sudah bahagia dengan hubungan kita saat ini, jadi tidak perlu ada kata menikah."


"Aku tau Tasya, tapi Aku ingin menikahi kamu, aku ingin hubungan kita halal sya, bukan hanya seperti ini."


"Tapi Pras, aku tidak mau menikah Pras, aku ingin kebebasan ,aku ingin melakukan sesuatu dengan bebas."


"Aku tidak pernah mempermasalahkan tentang kebebasan kamu Sya, kamu masih bisa melakukan sesuatu seperti biasa."


"Tapi aku enggak bisa Pras, aku lebih bahagia kita seperti sekarang ini."


"Tapi aku butuh seseorang untuk mengurus aku dan menemaniku setiap waktu."


"Aku tidak bisa Pras, sudah ada pembantu rumah tangga, jadi untuk apa mereka kamu bayar kalau bukan untuk mengurus semua keperluan kamu Pras."


"Tapi Sya itu beda "


"Sudah lah Pras, aku tidak ingin bertemu kalau untuk membahas masalah ini, oke! Aku pergi."


Tasya pergi meninggalkan Pras yang masih duduk ditempat nya, Pras meraup wajah nya dengan kasar. Pras tidak mengerti dengan jalan pikiran Tasya, biasanya wanita akan bahagia bila di ajak menikah namun lain hal nya dengan Tasya, dia malah lebih senang kumpul kebo dengan Pras dari pada menikah.


Tania yang sudah terbangun sejak terjadi keributan antara Tasya dan Pras masih duduk disisi tempat tidur, dia belum Berani untuk keluar, takut kalau Pras akan marah kepadanya juga.Dan Tania tiba-tiba mendengar seperti barang-barang berjatuhan, Tania mencoba memberanikan diri untuk melihat dengan membuka sedikit pintu dan ternyata barang -barang yang berada dimeja Pras yang jatuh berhamburan Karena Pras yang sedang kesal.


Tania keluar dari dalam ruangan pribadi Pras, dan berjalan dengan sedikit takut mendekat ke meja Pras, Tania melihat Pras yang menyandarkan kepalanya ke atas meja bertumpu kedua tangannya.


Takut untuk menegur, Tania pun berjalan membuka kulkas dan mengambil sebuah minuman coklat dingin untuk pras ,mendekat kembali perlahan ke meja Pras.


"Om, ini minum dulu biar om lebih tenang, sepetinya Om sangat capek."


Tania bicara dengan hati-hati, dia takut salah bicara, Pras mengangkat kepalanya ke arah Tania yang masih berdiri dengan memegang botol minuman.


Tania langsung menyodorkan botol yang sudah dibuka nya kehadapan Pras, namun Pras masih diam dengan tatapan yang tak bisa Tania artikan, Tania mengambil tangan Pras dan memberikan air minum yang dipegangnya, Pras masih diam tak ada penolakan, meneguk minuman itu sampai setengah nya.


Tania berjongkok untuk membereskan kertas yang berserakan di lantai samping meja Pras, sebenarnya itu karena dia takut kalau melihat wajah Pras ,yang baru saja marah dengan Tasya.


Setelah semuanya selesai Pras masih duduk bersandar, tak ada larangan atau apapun saat itu.Tania memberanikan diri duduk dihadapan Pras, ditempat yang tadi Tasya duduki.


"Apa Om sudah baik-baik saja?"


Hanya menatap ke arah Tania, namun Tania bersikap seolah tak mendengar apa pun perdebatan Tasya dan Pras.


"Ayok kita pulang!"


Pras bangun dari duduk nya dan keluar dari ruangannya, sebelum ikut pergi Tania mengambil tas nya yang tertinggal didalam kamar pribadi Pras.


Berjalan setengah berlari mengejar Pras yang sudah hampir masuk ke lift, dan untung nya masih terkejar, Tania tidak ingin dimarahi karena kondisi hati Pras yang sedang tidak baik.


Setelah sampai dilantai dasar, Pras langsung menuju parkiran, Tania sedikit kesusahan mengejar Pras karena langkahnya yang panjang.


Tanpa bicara sepatah kata pun Pras langsung masuk ke mobil diikuti oleh


Tania, senyap, tak ada yang bicara selama perjalanan, Tania menatap lurus kedepan sambil sesekali melirik ke arah Pras, Karena dia takut ,saat itu Pras mengemudi dengan kecepatan tinggi.


Sepertinya mood Pras benar-benar tidak baik, Ingin rasanya Tania meminta untuk turun dijalan saja, dia takut dengan mobil yang melaju begitu kencang nya.


Sebentar saja mobil yang dikendarai oleh Pras sudah masuk ke halaman rumah, Pras turun dan meninggalkan mobilnya begitu saja dihalaman, Tania saat itu Hanya geleng-geleng kepala dia tidak ingin mengatakan apapun, dia takut dengan Pras yang sedang marah.

__ADS_1


Akan kah perdebatan Pras dan Tasya berdampak buruk pada Tania?


__ADS_2