
Suasana hening untuk beberapa saat, Tak ada yang bicara baik Tania mau pun Pras. Keduanya hanya menatap lurus kedepan.
Tania tiba-tiba mengalihkan pandangan nya ke arah Pras, menatap pria tampan yang beberapa bulan yang lalu telah menjadi suami nya, walaupun hanya suami sebatas status.
Pras yang menyadari kalau Tania sedang menatap dirinya pun sedikit salah tingkah, entah apa yang terjadi dengan dirinya ,padahal selama ini dialah yang membuat gadis-gadis salah tingkah.
Malam itu, udara semakin menusuk ke tulang dinginnya, namun Tania belum juga mengajak Pras untuk beranjak dari sana.
"Kamu kenapa ?" tanya Pras.
"Tidak ada, Tania hanya ingin melihat Om saja, apa itu salah?"
Wajah Tania masih terlihat datar aja, tidak ada senyum disana ,hanya ada kesedihan di wajah nya.
"Om Pras, Tania tau kehadiran Tania telah membuat hidup Om jadi bermatakan."
"Tapi Om Tania tidak pernah menginginkan semua ini, namun kondisi Tania dan ibu yang membuat Tania harus masuk dalam kehidupan Om."
"Tapi semua belum terlambat Kam Om, Tania akan berusaha untuk mengambilkan semuanya seperti semula."
"Apa maksud kamu Tan?"
"Om, mungkin perceraian kita ini adalah jalan terbaik."
"Tania bisa melanjutkan kehidupan Tania sendiri, begitu juga dengan Om, bisa Kembali kepada Mbak Tasya."
Pras yang tadi menatap lurus kedepan ,memalingkan wajahnya menatap Tania, sesaat keduanya saling menatap, Bahkan Tania seakan larut dalam tatapan Pras saat itu.
"Apa kamu tidak ingin mempertahankan hubungan kita lagi?" tanya Pras tiba-tiba.
Namun Tania tidak memberikan jawaban, dia mengarahkan tatapan nya lurus kedepan.
"Kenapa kamu diam?"
"Tania tidak ingin menjadi duri dalam hubungan Om Pras dan mbak Tasya."
__ADS_1
"Tania, kita bisa menyelesaikan semua nya jika bersama-sama."
"Tania tau, tapi semua itu tidak bisa terjadi jika Om dan mbak Tasya masih sangat saling mencintai."
"Tania, jujur memang sulit untuk bisa meninggalkan Tasya."
"Karena Tasya itu sudah menemani hidup ku begitu lama, Bahkan dia lah Yang selalu ada disaat aku terpuruk dan sendirian."
Tania menarik nafas berat, ada pedih dihatinya. Namun Tania juga tidak ingin egois karena dia lah yang hadir dalam hubungan keduanya.
"Kan Tania sudah bilang Om, kembali lah kepada Mbak Tasya."
"Itu tidak mungkin karena, papa tidak akan setuju."
"Tania yang akan bicara dengan papa Om."
"Tapi Tasya tidak ingin menikah."
"Apa itu sebuah Masalah untuk Om? bukannya selama ini kalian juga tidak pernah menikah."
Keduanya kembali terdiam untuk beberapa saat, sebenarnya kalau harus jujur Tania pun tidak ingin kalau rumah tangganya dan pras harus berakhir, Namun Tania sadar kalau mempertahankan rumah tangga yang tidak pernah diinginkan oleh keduanya itu sulit.
Tania takut kalau tidak akan mampu untuk menghadapi apa yang akan terjadi kedepannya, apalagi Tania tahu kalau Tasya dan Pras sulit untuk dipisahkan. bahkan hubungan mereka berdua melebihi hubungannya dan Pras yang telah sah Dimata hukum dan agama.
"Lebih baik kita masuk kedalam, ini sudah hampir jam 10.00 malam."
"Om masuk lah, tapi Tania masih ingin disini."
"Tan, udara malam tidak baik untuk kamu, lebih baik kita masuk dan istirahat."
Pras pun bangun dan ingin beranjak, dengan harapan Tania juga akan beranjak untuk masuk kedalam. 164 peras melangkahkan kakinya Tania kembali memanggil namanya.
"Om Pras."
Pras menghentikan langkah nya, menatap ke arah Tania yang masih setia duduk ditempat nya.
__ADS_1
"Om, besok lusa kita akan ada mediasi lagi, lebih baik Om tidak datang."
"Besok kita bicarakan semua itu lagi, lebih baik kamu istirahat."
"Iya Om, sebentar lagi."
Pras berjalan masuk meninggalkan Tania sendirian, dan Pras menuju dapur, dia mengambil gelas dan membuatkan teh hangat untuk dirinya dan Tania.
Dan tak berapa lama Pras keluar lagi dengan membawa gelas yang berisi teh hangat tadi.
"Ini minum dulu!" menyodorkan segelas teh untuk Tania.
Menatap sejenak kearah Pras, tadinya Tania berpikir kalau Pras masuk dan meninggal kan dirinya sendiri. Ternyata Tania salah menduga.
"Terimakasih ya Om."
"Sama-sama."
Tania menyeruput teh nya Yang masih benar-benar hangat.
"Manis, ternyata Om pintar juga bikin teh."
"Kamu baru tau? Kamu pasti akan ketagihan kalau makan masakan ku."
"Memang nya Om bisa masak?"
"Tentu saj bisa."
"Kalau begitu sekali-kali Tania ingin dimasakin Om."
"Oke, siapa takut aku akan masakin kamu setiap hari."
Keduanya pun tersenyum, malam semakin larut tapi keduanya sibuk dengan cerita masing-masing, Bahkan mereka tidak menyadari kalau waktu terus berputar.
Dalam diam Tania berpikir mungkin malam ini akan menjadi kenangan untuk dirinya dan Pras, walaupun hanya sesaat.
__ADS_1
Dan mungkin hanya tinggal hitungan hari, akan kah semuanya harus benar-benar berakhir?