Terjebak Di Dua Pilihan

Terjebak Di Dua Pilihan
Perjanjian tuan Sanjaya dan pras


__ADS_3

Pagi itu, setelah selesai sarapan, aku pun di antar om Pras ke kampus, aku tidak melihat keramahan diwajah itu, seperti nya dia ingin menerkam ku saja.


Aku pun berjalan dan pamit pada papa, namun belum juga aku mencium punggung tangan papa, klakson mobil om Pras berbunyi ber- ulang Kali.


Terpaksa Aku berlari ke mobil, dan membuka pintu mobil dibagian belakang.


"Kamu pikir saya sopir!"


Suara itu mengagetkan ku, aku pun langsung pindah kedepan tak ingin berdebat.


"Lain kali kalau ingin di antar, jangan lama kali, saya tidak suka menunggu."


"Om, Tania kan cuma mau pamit sebentar."


"Itu bukan urusan saya."


"Kalau keberatan kenapa tidak bilang sama papa kalau tidak ingin mengantarkan Tania ke kampus."


Om Pras mengalih kan pandangan ke arah ku, dan kemudian kembali menatap lurus kedepan.


"Apa tidak bisa Om bersikap baik sama Tania, selama sebulan ini, biarkan Tania hidup tenang, selama disini."


"Tidak bisa!"


"Ya sudah." Jawab ku pelan.


"Kamu bilang apa?"


"Tidak ada!"


"Hari ini kamu boleh nyusahi saya karena ada papa, besok dan sebulan kedepan urus semua sendiri, saya tidak punya waktu untuk mengantar jemput kamu."


"Iya, Tania tau dan paham."


"Bagus, jangan repot kan saya."


Aku hanya diam, namun dengan ekspresi kesal.


"Enggak perlu kamu manyun begitu, saya tidak suka."


"Saya juga tidak suka sama Om-om!"


"Apa kamu bilang, Om-om?"


"Iya."


"Kamu apa mau saya turunin disini, ditengah jalan?"


"Kenapa, emang Tania salah apa?"


"Kalau kamu sekali lagi memanggil saya om-om ,saya akan kasih kamu hukuman."


"Hmmm."


"Kalau di ajak bicara ,kasih jawaban yang bagus."


"Kenapa sih Om ini, seperti perempuan menstruasi saja, suka marah-marah!"


"Kamu memang selalu bikin saya emosi!"


Mobil yang dikendarai Om Pras pun sudah berhenti dihalaman kampus, aku langsung membuka pintu dan turun dari mobil, aku tidak ingin lama-lama lagi didalam, karena bisa terus beradu mulut dengan Om Pras.


Begitu membuka pintu mobil ternyata ada kak Al yang baru tiba dengan motor nya.


"Tania ,kamu baru nyampek juga?"


"Iya KK."


"Diantar si Om?"


"Iya, hari ini Tania tidak bawa mobil."


"Kalau begitu nanti pulangnya kakak antar saja."


"Terimakasih kak, tapi Tania ingin mengantar papa ke bandara."

__ADS_1


"Ya sudah ,mungkin lain kali, ayok kita masuk!"


Aku yang masih berdiri dipintu mobil pun, melongok kan kepala kedalam mobil untuk pamit pada om Pras.


"Om Tania masuk dulu ya, terimakasih sudah mengantar." Aku mengambil tangan Om Pras yang berada disetir dan mencium punggung tangan nya.


Berjalan bersama kak Al, masuk ke kampus dan ternyata mobil Om Pras masih belum meninggalkan kampus.


Dari jauh Pras memperhatikan Tania dan Al yang terlihat tertawa bersama sepanjang jalan menuju lobi kampus.


Pras pun melajukan mobil nya kembali kerumah, dan diruang tamu dia bertemu papa nya.


"Kamu sudah antar Tania sampai ke kampus?"


"Sudah."


"Terimakasih Pras."


"Papa tidak perlu khawatir kan gadis itu, dia cukup cepat dapat teman, terutama teman pria."


" Itu bagus kan Pras, berarti setelah satu bulan kemudian kamu meninggalkan dia, dia bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru, Dan mungkin mendapatkan pengganti kamu Pras."Ya saya tidak heran akan hal itu."


"Dan kamu harus tau, orang yang akan mendapatkan Tania nanti akan sangat bersyukur, karena Tania adalah wanita baik-baik, dan laki-laki yang pertama sekali dicium punggung tangannya adalah kamu Pras."


"Seperti nya papa sangat mengenal gadis itu."


"Sebelum papa mengambil Tania menjadi menantu, papa tentu harus tau bagaimana kehidupannya, apa dia pantas atau tidak jadi menantu keluarga kita."


"Apa menurut papa dia sangat pantas?"


"Tentu saja, Tania berasal dari kelurga baik-baik walupun hidupnya tidak punya materi, tapi Tania adalah gadis yang baik yang begitu menjaga martabat diri dan keluarganya, bahkan Tania adalah gadis yang belum pernah disentuh laki-laki lain, itu yang membuat papa yakin."


Setelah bicara pada Pras papa pun pergi meninggalkan ruang tamu dan kembali ke kamar nya.


Sekitar pukul 10.00 pagi itu pras mengantar papa nya ke bandara, namun sebelum itu mereka menjemput Tania dikampusnya, dan sesampai di depan kampus ternyata Tania sudah menunggu mereka.


Tania langsung masuk ke mobil ,begitu mobil Pras berhenti didepan.


"Sudah lama kamu menunggu?" Tanya tuan Sanjaya.


"Maafkan papa, kuliah kamu jadi terganggu."


"Tidak apa-apa pa."


Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang, namun didalam mobil itu rasanya hanya ada dua orang yang hidup, karena Pras sama sekali tidak mengeluarkan suara nya, diam dan fokus pada jalanan .


Jarak rumah ke bandara hampir satu jam perjalanan,mereka pun turun setelah mobil terparkir dengan sempurna, petugas di bandara dan juga bodyguard papa Pras ternyata sudah sampai lebih dulu.


Mereka langsung mendekat membantu membawa barang-barang tuan Sanjaya, karena pesawat masih setengah jam lagi lepas landas ,kami pun duduk sebentar disana mengistirahatkan diri di kursi tunggu keberangkatan.


"Pras, Tania!,Hiduplah yang rukun dibawah satu atap, saling menghargai dan saling menjaga, papa tidak bisa memaksakan kehendak untuk kalian saling mencintai, akan tetapi papa berharap semua bisa sesuai harapan papa."


"Maafkan Tania pa, tapi tania tidak bisa berjanji, apalagi memberikan sebuah jawaban sama papa."


"Kamu tidak salah Tania, maafkan papa, selama ini sudah berlaku kasar sama kamu, bahkan mungkin berlaku tidak adil."


"Sudah lah pa, Tania malah ingin berterima kasih sama papa, karena papa sudah mengizinkan Tania untuk terus kuliah.


"Papa juga berterima kasih, karena kamu masih ingin bertemu papa."


"Mungkin ini jalan takdir Pa, biarkan semua berjalan seperti air yang mengalir deras."


Dan terdengar suara panggilan untuk keberangkatan ke Yordania, papa yang sedang duduk pun bangun untuk masuk karena pesawat akan segera lepas landas, Aku dan Om Pras juga ikut mengantar sampai ke pintu masuk.


Aku mencium tangan papa, dan mengucapkan selamat tinggal, dan papa beralih ke Om Pras , dan aku melihat papa memeluk om Pras dengan erat.


Aku masih diam ditempat ku menatap ke arah om Pras dan papa, namun ekspresi papa sungguh berbanding terbalik dengan Om Pras, dia masih berdiri tegak ditempat nya, seakam tak mengenal orang yang sedang memeluk nya.


Papa melepaskan pelukan pada putra nya dan berjalan masuk kedalam, aku melambaikan tangan ke arah papa.


Setelah terdengar pesawat lepas landas, aku dan Om Pras beranjak dari bandara, kami lansung menuju parkiran.


Karena tak ingin berdebat aku Lansung masuk dikursi depan, tepatnya disamping Om Pras, saat itu Om Pras Diam seribu bahasa.


Mobil mulai berjalan meninggalkan bandara, mobil masih sunyi, tak ada suara misiky disana.

__ADS_1


"Apa kamu akan kembali ke kampus?"


"Tidak Om, Tania mau pulang kerumah saja."


Ditengah perjalanan handphone Om Pras berdering,dan aku tidak tau siapa yang menelponnya, aku hanya duduk diam saja,tak ingin bertanya.


"Kita ke kantor sebentar, ada hal yang penting!"


"ya Sudah Om ,Tania turun disini saja,


"Tania bisa menggunakan taksi untuk pulang."


Namun tak ada jawaban Mobil yang tadi lari dengan kecepatan sedang, berubah ke kecepatan tinggi, tentu saja aku berpegangan kuat aku takut, bermacam do'a aku panjat kan dalam hati, mata ku terus terpejam.


Mobil sebentar saja sudah terparkir didepan sebuah gedung yang menjulang tinggi ,Om Pras terlihat turun dengan terburu-buru, tentu saja aku langsung mengikutinya.


Namun sesampai dilobi, Om pras malah meminta ku untuk menunggu disana, ya sudah tentu saja tidak ada penolakan.


Aku mencari tempat duduk yang nyaman untuk menunggu, banyak mata yang lewat menatap ke arah ku, aku pun sampai bingung dan berulang kali menatap diriku sendiri, apa ada yang aneh dengan ku saat itu, namun aku tidak menemukannya.


Tania memang gadis yang sangat cantik, walaupun berasal dari keluarga kelas rendah, apalagi dengan dirinya yang saat ini,menggunakan baju bagus dan mahal, membuat aura kecantikannya semakin terlihat.


Banyak staf pria yang tertarik dengan Tania, Namun Tania seakan tak menyadari akan hal itu, dia hanya santai saja menunggu Pras, dan tak perduli dengan orang-orang disekelilingnya.


Hampir satu jam Tania menunggu, namun belum ada tanda-tanda kalau Pras sudah keluar, karena bosan Tania pun berjalan keluar lobi, menuju kesebuah restoran yang terletak diseberang kantor milik Pras.


Namun pras yang sudah selesai dengan pekerjaan nya pun tak melihat Tania, dia bertanya pada satpam yang saat itu menjaga diluar yang mengatakan kalau Tania kerestauran di depan kantor, Pras pun segera menyusul.


Mencari-cari keberadaan Tania didalam restauran, yang dipenuhi banyak pengunjung. Dan setelah mengedarkan pandangannya Pras menemukan Tania yang menyeruput minuman dinginnya.


"Kenapa tidak menunggu dilobi?"


"Maaf Om, Tania haus dan juga lapar, ini sudah waktunya makan siang Om."


"Apa tidak bisa perut kamu itu bersabar sebentar lagi?"


"Tania juga bosan dan takut om berada dilobi kantor, banyak orang yang menatap Tania, tapi Tania sudah periksa apa ada yang salah dengan baju Tania."


"Lalu?"


"Ya Tania tidak menemukan apa pun Om ,baju ini bagus ,kan papa yang belikan tidak ada yang salah."


"Dasar bodoh, kamu pikir orang sedang melihat baju kamu?"


"Maksud Om?"


"Sudah habiskan minumannya, kita pulang!."


"Tania lapar Om, apa kita tidak makan dulu?"


"Tadi saya sudah berpesan sama bik Siti kita akan makan siang dirumah."


"Ya sudah Om kalau gitu kita pulang, kasian bik siti sudah capek masak dan menunggu kita pulang."


Mereka pun beranjak dari sana, setelah Pras meninggalkan selembar uang di atas meja. Setelah menuju mobil mereka pun kembali kerumah, dan benar saja bik Siti sudah menunggu dan menyiap kan makan siang.


Tania langsung ingin makan karena memang dia sangat lapar, tadi pagi tania Hanya makan sedikit saja karena ingin cepat ke kampus.


"Bersihkan diri dulu baru makan siang." Terdengar suara dingin itu.


Tania pun mengurungkan niatnya untuk makan, dan langsung menuju kamar nya dilantai dua, setelah selesai mandi Tania pun menggunkan dres Tampa lengan sepanjang lutut.


Sebelumnya agak kesusahan untuk Tania menyesuaikan pakaiannya nya, Karena dia tidak terbiasa dengan pakaian mahal dan modern. Selama bersama ibunya dia cuma punya satu dres yang bagus itu pun dibelikan saat ada acara penting disekolah nya setahun sekali, tapi Tania sangat senang walupun dipakai berulang-ulang.


Tania sudah turun dan menuju meja makan, disana juga sudah ada Pras yang juga baru turun, Tania berputar arah kemeja Pras dan mengambilkan makan siang untuk Pras.


Tanpa sengaja rambut Tania malah mengenai wajah Pras yang saat itu ingin memutar wajah nya ke arah Tania, wangi mawar ,dari sampo yang digunakan Tania, membuat Pras memejamkan matanya, sesaat Pras terhipnotis oleh harum dari tubuh Tania yang berada begitu dekat dengannya.


Namun momen yang tak disadari oleh Tania pun buyar, karena Tania yang tiba-tiba menjauh untuk mengambilkan Pras lauk ke piring Pras yang masih dipegang nya.


Pras yang tersadar dengan pikirannya yang saat itu menerawang entah kemana pun ,terlihat menggosok tengkuk nya dan mengupat untuk dirinya dalam hati.


Namun, Tania masih saja dengan kegiatannya, gadis polos itu tak memahami akan apa yang sedang terjadi dengan Pras.


Akankah sebulan bisa mengikat Pras dan Tania atau kah memang perpisahan lah Yang akan terjadi akhirnya?

__ADS_1


__ADS_2