
Pras menatap Tania dari belakang yang mulai menghilang menuju kamar nya, namun Pras tak berbicara apapun juga.
Namun Pras sadar kalau hubungannya dengan Tania seperti ini ,maka otomatis pernikahannya dan Tania tak akan dapat terselamatkan.
Pras menutup rapat kulkas yang sudah diisi dengan bahan makanan. Dia duduk di kursi meja makan dan menyandarkan tubuhnya.
Dia sekarang sedang dalam kebingungan, Karena memang dia sendiri lah yang sebelum nya menginginkan perceraian dengan Tania, Namun saat ini dia merasa dia juga lah yang sedang berusaha. Menolak perceraian mereka.
Untuk beberapa saat Pras termenung sendiri, memikirkan apa yang sebenarnya dia inginkan.
Pras memutuskan untuk ke kamarnya, Dan. Dia melihat kamar Tania yang tertutup rapat, mungkin Tania sednga tidur, pikir Pras saat itu.
Pras pun memutuskan untuk istirahat, dia tak ingin mengganggu istirahat nya Tania, Dan begitu sampai dikamar Pras pun mendengar suara handphone nya.
Dengan malas Pras,meraih handphone yang tadinya diletakkan dimeja kecil yang tak jauh dari tempat tidur.
Pras menyapa layar handphonenya yang masih menyala, sebuah nomor baru terlihat disana, Pras pun kembali meletakkan handphone, di enggan menjawab panggilan tersebut.
Pras yakin kalau yang menelpon adalah Tasya, Dan dia tidak ingin diganggu dengan ocehannya Tasya.
Hari itu, sampai siang berganti malam keduanya masih betah dikamar, bahkan Tania dan Pras melewati makan malam mereka, dan keduanya baru bertemu lagi keesokan paginya.
Pagi itu Pras melihat Tania sudah rapi padahal masih jam 08.00 pagi, Pras pun berpikir kalau Tania begitu bahagia akan bercerai darinya.
Sedangkan dirinya pagi itu masih belum mandi apalagi berganti pakaian. Pras enggan untuk pergi, namun jika dia tidak hadir maka dipastikan dia dan Tania akan benar-benar bercerai.
"Kamu sudah siap?" tanya Pras mencairkan suasana pagi itu.
"Hmmm."
__ADS_1
"Tapi ini masih terlalu pagi kan?"
"iya, tapi kasihan papa kalau harus menunggu lama."
"Apa kamu akan pergi bersama papa?"
"Papa, akan menjemput."
"Tapi Tan!"
"Tapi apa Om?"
"Apa tidak sebaiknya kita kesana berdua saja?"
"Tidak usah Om, ras juga aneh, kita sudah akan bercerita tapi masih pergi bersama."
"Tapi Tan!"
Belum sempat Pras melanjutkan kata-katanya, Tania sudah pergi keluar dari rumah pagi itu dengan alasan akan menunggu papa nya.
Pras pun memutuskan untuk membersihkan diri, dia tidak ingin ketinggalan jika papanya datang.
Pras bergegas membersihkan diri dan mengganti bajunya dengan yang lebih rapi. Dia pun segera menyusul Tania, dan beruntung karena papanya baru aja Sampek.
"Pa!' panggil Pras.
"Kamu tinggal disini Pras?" tanya papa yang baru saja datang.
"iya pa, apa itu salah?"
__ADS_1
"Sampai hari ini tidak, lebih baik kita berangkat."
Dan belum sempat papanya masuk ke mobil, Pras pun masuk dan duduk di depan.
"kamu ikut juga Pras?" tanya papanya.
"Iya pa."
"Kalau kamu ingin sidang ini cepat selesai, lebih baik kamu tidak hadir."
Pras hanya diam, dia tidak ingin berdebat, Pras hanya duduk ditempatnya. Dan mobil pun mulai melaju menuju kantor pengadilan.
Hati dan pikiran Tania mulai tidak karuan, ketika mobil mereka tumpangi berhenti disebuah gedung mewah.
"Ayo kita turun." ajak papa.
Tania dan Pras masih diam ditempatnya , Taka terlihat pergerakan diantara mereka berdua.
"Pras, Tania , atok turun sidang mediasi nya akan dimulai jam 09.00 pagi ini."
"Iya pa!" jawab Tania tak bersemangat.
Mereka berjalan masuk ke pengadilan negeri, dengan tak bersemangat, begitu juga dengan Pras terlihat menarik nafas berat.
Tak berpa lama mereka pun tiba didalam gedung, Dan setelah beberapa saat mereka berdua pun di pinta untuk masih keruang mediasi.
Pikiran Tania semakin kacau, dia takut kalau harus menerima kenyataan bahwa dia akan menjadi seorang janda diwaktu yang mudah.
keduanya masih diam, padahal sudah berada di ruang mediasi, akan kah hari ini semua hubungan yang tak mereke harapkan akan berakhir begitu saja?
__ADS_1