Terjebak Di Dua Pilihan

Terjebak Di Dua Pilihan
Air mata kesedihan


__ADS_3

Malam itu karena terlalu lelah Tania pun tertidur bahkan dengan lelap nya, sampai-sampai dia tak tau kapan acara pesta yang merayakan pernikahannya itu selesai.


Tania yang baru terbangun pagi itu pun, terkejut melihat dirinya berada di kamar yang lain, bukan kamar rumah sakit yang beberapa hari ini ia tempati.


Tania mencoba mengembalikan kesadarannya , dan mengingat apa yang terjadi, dan Tania pun terlihat sedih ternyata apa yang dialaminya semalam bukan mimpi, dia memang telah dinikahi secara sah.


Tania pun bangun dan memeriksa bajunya, dia menarik nafas lega karena dirinya masih menggunakan pakaian malam tadi, berarti tak terjadi apapun pada nya.


Tania masuk kekamar mandi untuk mandi, dan setelah Kembali dari kamar mandi, Tania melihat ada baju diatas meja rias , dan ada pesan disecarik kertas.


"Pakai baju itu, Dan segera turun ke lobi hotel jika ingin kembali kerumah sakit."


Hanya kata-kata itu, bahkan tak ada tanda-tanda siapa yang menuliskan pesan tersebut


Namun Tania tak ingin ambil pusing, langsung mengenakan baju nya, karena dia ingin cepat kembali kerumah sakit, Tania pun menggunakan lift untuk turun kelantai satu Agar dia cepat sampai.


Setelah berada dibawah Tania langsung menuju ke lobi dan mencari mobil yang biasa digunakan kakeknya Danil.


Tania pun celingak-celinguk mencari keberadaan mobil tersebut, sampai dia dikaget kan oleh sopir pribadi keluarga Sanjaya.


"Nona!"


Tania yang kaget pun sempat hampir menjerit, dalam hati seperti jelangkung saja, datang tak dijemput pulang tak di antar.


"Bapak kenapa tiba-tiba datang, bikin kaget saya aja."


"Maaf kan saya nona, tapi saya memang menunggu nona dari tadi."


"Ya sudah bapak tolong antarkan saya kerumah sakit ya, saya ingin melihat kondisi ibu."


"Baik nona, tapi apa tidak sebaiknya nona sarapan dulu?"


"Nanti saya sarapan dirumah sakit aja."


"Iya nona."


Tania pun berjalan menuju mobil hitam yang menjemputnya kemarin siang, dan langsung masuk setelah dibukakan pintu oleh pak sopir.


"Dimana kakek Sanjaya?" Tanya nya .


"Ada apa nona mencari beliau?"


"Tidak ada ,saya hanya bertanya saja "


"Ooo, beliu sudah kembali kerumah."


"Syukur kalau begitu!" Ucapnya pelan.


"Nona bilang apa?"


"Tidak ada pak, saya bilang ya sudah saya mau Kembali kerumah sakit."


"Iya nona, baik."

__ADS_1


Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang, Tania menyandarkan tubuh nya kejok mobil walaupun Tak ada yang dikerjakan nya, Tania merasa begitu lelah.


Tania yang saat itu sedang memejamkan matanya pun ,merasakan mobil telah berhenti, Tania membuka matanya, dan benar saja dia telah berada diparkiran rumah sakit.


Tania pun turun , dan sebelumnya mengucapkan terimakasih karena sudah di antar.


Tania pun berjalan, tapi lebih cocok dibilang berlari , menyusuri kamar demi kamar sampai akhirnya sampai di depan ruangan ibunya, Tania terlihat sedikit ragu, dia khawatir jika ibunya bertanya tentang keberadaan dirinya malam tadi.


Apa yang harus dia katakan kepada ibu, apakah Tania harus berbohong, padahal selama ini dia berusaha untuk tak pernah berbohong pada ibunya.


Namun tania berpikir kalau pun iya, itu dia lakukan demi keselamatan ibu nya. Tania meraih gagang pintu kamar ruangan rawat ibunya, dan melihat ibu masih tertidur dengan lelap nya.


Tania pun menarik nafas lega, dan mengurungkan niatnya untuk masuk, tania ingin ke kantin dulu untuk sarapan, karena memang dari malam tadi Tania belum makan, selera makannya hilang sudah karena pernikahannya itu.


Tania berjalan menuju kantin dan memesan nasi goreng untuk sarapan nya. Tak berapa lama pesanan Tania pun datang, dia lansung melahap nasi goreng nya karena memang Tania sangat lapar.


Setelah selesai sarapan Tania langsung kembali ke ruang rawat ibu nya. Tania menatap ibu yang masih terpejam.


Berharap dalam hati Tania bisa memenuhi semua harapan ibunya, dan bisa membahagiakan sang ibu.


Tania yang sedang memperhatikan ibu nya pun melihat pergerakan dari ibunya. Dia mendekatkan kursinya lebih dekat ke tempat tidur ibunya.


"Ibu, bagaimana kondisi ibu?"


"Ibu baik-baik saja "


Jawab ibu sambil tersenyum, ke arah Tania.


"Apa ada yang sakit Bu?"


"Nak, kamu dari mana?"


"Tania tidak kemana-mana Bu."


"Tapi semalam ibu tidak melihat Tania." Ucap ibu lemah.


"Tania pulang kerumah Bu, maaf kan tania ya bu karena tidak kembali kerumah sakit."


"Tidak apa-apa nak, kamu pasti capek kan ngurus kuliah dan jaga ibu?"


"Tidak Bu, hanya saja sedikit ada keperluan yang harus Tania urus, jadi Tania tidak balik kerumah sakit."


Tania tersenyum ke arah ibu, supaya tidak ada rasa khawatir dihati ibunya, sebenarnya Tania begitu merasa bersalah karena telah berbohong pada ibu nya.


Namun tak ada yang bisa Tania lakukan, karena tak mungkin Tania menceritakan semuanya kepada ibu, apalagi dalam kondisi ibu saat ini.


"Tania!"


"Iya Bu."


"Seandainya saja, waktu ibu sudah habis untuk bersama kamu nak."


"Ibu bicara apa Bu, ibu sudah sehat kan sekarang, operasi nya berjalan lancar Bu."

__ADS_1


"Tania, kamu harus janji sama ibu, terus lah berusaha untuk kuliah gapai semua cita-cita mu nak, jadilah orang yang sukses, walaupun tanpa ibu."


Tania tak kuasa menahan air matanya ,memeluk ibunya dari samping, Tania tak akan mampu membayangkan jika itu terjadi maka hidup nya akan hancur, tak ada lagi penyemangat untuk dirinya.


Ibu mengusap kepala Tania perlahan, seakan sedang bicara untuk meminta Tania terus kuat, namun tangan yang tadi terus mengelus kepala Tania pun seakan melemah.


Tania yang menyadari akan hal itu melepaskan pelukannya, dan menggenggam erat jemari ibu nya, Tania melihat nafas berat dari ibu saat itu.


"Ibu, ibu baik-baik aja? Tania akan panggil dokter ibu Tenang, jangan banyak pikiran."


Namun yang di ajak bicara hanya diam dan tersenyum, Tania pun segera menekan tombol bantuan yang terhubung keruangan dokter.


Tania terus menggenggam jemari sang ibu, Dan saat itu ibu pun terlihat menghembuskan nafas berat, namun tetap terlihat tenang, jemari yang tadi digenggam Tania pun seakan hilang kekuatannya.


Tania panik, dan terus memanggil nama ibunya, sampai dokter pun tiba diruangan tersebut, namun Tania diminta untuk keluar dan menunggu pemeriksaan dokter.


Diluar ruangan rawat ibunya, Tania terus saja menangis , dan berharap tak terjadi apapun pada ibu nya. Tania mencoba menghubungi om dan Tante nya, namun tak ada yang mengangkat telponnya.


Pada siapa lagi Tania harus mengadu, disaat kedua sahabatnya sedang tak ada disampingnya.


Saat Tania masih mondar mandir, dokter yang tadi memeriksa ibunya keluar ,namun melihat reaksi dari dokter Tania pun merasakan firasat buruk.


Berjalan mendekat ke arah sang dokter yang saat itu menatap sendu ke arah dirinya, Tania tak kuasa lagi menahan tangis, dia mendekat ke arah dokter.


"Dokter, bagaimana kondisi ibu saya?"


"Maafkan saya Tania, tapi ibu kamu sudah tiada, dia sudah meninggalkan kita semua."


"Tidak dokter, itu tidak mungkin, Tania belum sempat membahagiakan ibu."


Ucap Tania lirih, seluruh tulang nya terasa remuk, perlahan Tania berjalan menuju ruangan ibu nya, dan dia melihat ibunya yang telah ditutupi kain, Tania terus berjalan mendekat dan memeluk ibu nya yang saat itu telah menjadi jenazah.


Tania seakan kehilangan dunianya, dia tak kuasa menerima kenyataan, harta berharga satu-satunya yang dia miliki kini telah hilang, pengorbanan yang dia lakukan namun tak dapat membuat ibunya bisa terus bersama.


Tania yang saat itu masih memeluk tubuh ibunya pun merosot kelantai, dia jatuh pingsan dan tak sadar kan diri.


Terlalu berat rasanya beban yang harus ia tanggung, terpaksa menikahi pria tua


demi menyelamatkan nyawa ibunya, namun takdir malah berkata lain, sang ibu pergi untuk selamanya, setelah dirinya sah menjadi seorang istri orang yang tak dikenal nya.


Dokter dan perawat yang berada diruang itu pun memindahkan Tania keruangan lain, dan mereka mempersiapkan jenazah ibunya Tania.


Dokter yang menangani ibu Tania itu segera menghubungi tuan Sanjaya, dan memberitahu berita duka tersebut.


Dan tak berapa lama tuan Sanjaya terlihat tiba dirumah sakit, dan segera meminta anak buah nya untuk mengurus jenazah dan kepulangan ibu Tania, serta pemakaman nya.


Setelah selesai diruangan ibunya, tuan Sanjaya segera menuju ruangan tempat Tania dirawat, dan Tania masih terlihat belum sadarkan diri.


Tuan Sanjaya saat itu meminta dokter melakukan yang terbaik, supaya Tania segera sadar dan pemakaman ibunya segera bisa dilaksanakan.


Tuan Sanjaya menelpon om dan tantenya Tania, untuk bisa menemani Tania, dia tidak mau kalau sampai danil mendengar kabar meninggal nya ibu Tania dan melihat dirinya.


Setelah semua persiapan selesai, jenazah ibu nya Tania segera dibawa ke pemakaman umum, saat itu Tania sudah ditemani om ,Tante dan sepupunya menuju tempat pemakaman.

__ADS_1


Tania hanya diam, seakan jiwa nya ikut pergi bersama ibu nya, tatapan nya kosong, entah bagaimana cara Tania melanjutkan hidup nya setelah ini?


Akan kah Tania kuat menghadapi dua cobaan sekaligus?


__ADS_2