Terjebak Di Dua Pilihan

Terjebak Di Dua Pilihan
Panik dan takut


__ADS_3

Diperjalanan Pras Pras terus ngebut, dia cepat sampai ke rumah sakit , Pras begitu khawatir melihat kondisi Tania yang mengeluarkan darah di bagian kepala.


Sesekali Pras melirik kearah Tania yang masih pingsan, Pras benar-benar menyesal dengan apa yang dilakukan Tasya terhadap Tania.


namun Pras juga sedikit lega karena akhirnya dia bisa mengungkapkan semuanya kepada Tasya ,bahwa dia dan Tania telah menikah secara sah.


saat ini Pras tidak ingin memikirkan apa yang akan terjadi dengan Tasya, tapi yang ingin Pras lakukan adalah memberikan kebahagiaan untuk Tania, karena tidak ada lagi hal yang mengganjal di hatinya selama ini.


mobil yang dikendarai Pras akhirnya berhenti didepan lobi rumah sakit, dan dengan panik Pras langsung turun membawa Tania masuk, disana Pras sudah disambut oleh suster jaga hari itu.


Pras meraih handphone-nya dan mencoba menghubungi papanya untuk memberitahu kondisi Tania saat ini. Pras bingung harus ngapain.


Dengan tergesa-gesa Pras mengikuti suster yang tadi membawa Tania pergi. Pras mencoba ikut masuk namun dihalangi suster. Darah terus saja mengalir di kepala Tania.


"Maaf mas, sebaiknya mas tunggu diluar." ucap suster.


"Tapi saya harus menemani istri saya di dalam." jawab Pras.


"jangan menghalangi kerja dokter supaya pasien bisa cepat tertolong."


Mendengar kata pasien yang harus cepat atau tolong respon akhirnya mengalah dan terus menunggu di depan pintu ruangan. Pras terlihat mondar-mandir sambil menunggu bapaknya yang belum juga sampai di rumah sakit.


Ada rasa takut kehilangan yang luar biasa yang pernah rasakan, baru kali ini ia merasakan takut kehilangan seseorang yang selama ini tak pernah dia rasakan ketika bersama Tasya.


"Pras." suara papa Pras membuat dirinya kaget.


Kebetulan saat itu Pras begitu panik dan fokus pada kondisi Tania, sampai-sampai dia tidak tahu akan kehadiran papanya di sana.


"Apa yang terjadi dengan Tania Pras?"


"Kenapa dia bisa masuk rumah sakit."


Pras terlihat bingung, saat ingin menjawab pertanyaan papa nya. Dia tidak tau harus berbicara apa sama papa nya.


"Pras kenapa kamu diam jawab papa."


"Pa , Pras minta maaf karena tidak bisa menjaga Tania dengan baik ini semua kesalahan Pras." jawab Pras.


"Apa maksud kamu Pras."


"Apa kamu melakukan sesuatu kepada Tania sehingga dia masuk rumah sakit?"


"Tidak pa, bukan Pras tapi Tasya yang melakukan semua itu."


"Tasya?"


"Iya pa."

__ADS_1


"Tadi Tasya datang ke rumah."


"lalu?"


"saat itu aku dan Tania sedang berdebat masalah perceraian dan juga pernikahan kami."


"Tasya begitu marah ketika mengetahui bahwa aku dan juga Tania telah menikah."


"Dan Tasya mendorong Tania sampai kepada Tania terluka."


"Apa-apaan perempuan itu benar wanita yang tidak punya etika."


"tapi ini juga tidak sepenuhnya kesalahan Tasya pa."


"Apa kamu bilang, masih berani kamu peras membela perempuan itu."


"Papa tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Tania, kamu ingat itu."


Saat itu papa terlihat marah dan emosi, dia tidak terima karena Tania terluka oleh Tasya.


Tapi semua ini terjadi juga karena aku, yang tidak bisa jujur kepada Tasya dari pertama menikah dengan Tania.


"Mulai hari ini bapak minta sama kamu Pras tolong jauhi perempuan itu, itupun kalau kamu masih ingin melihat Tania."


"Dan Kalau kamu tidak bisa memenuhi keinginan papa , maka papa akan bawa Tania pergi jauh dari hidup kamu."


"Pa, tolong berikan Pras waktu."


"Sudah banyak waktu yang terbuang sia-sia karena hubungan kamu dan Tasya."


"Dan kamu jangan lupa Pras papa sudah memberikan kamu dan juga Tasya kesempatan untuk bersama."


"Namun Apa yang dilakukan Tasya ia malah tidak ingin menjadi istri kamu."


Pras terdiam ,dia tidak mampu untuk berkata apa pun, apalagi saat ini memang hubungannya dan juga Tania sedang di ujung tanduk.


Pras tak ingin gegabah, apalagi kalau sampai papa nya berkeras untuk memisahkan dirinya dan juga Tania, seperti saat dia berkeras menikahkan dirinya dan juga Tania.


Tak berpa lama, saat keduanya sedang berdebat, dokter pun keluar dari ruangan tempat Tania sedang di obati tadi.


Pras dan papa nya langsung mendekat ke arah pintu ruangan.


"Bagaimana kondisi anak saya dokter?" tanya papa.


"Untuk saat ini di masih belum sadar, tapi pendarahan di luka yang ada Ada di kepalanya sudah berhenti."


" Syukur lah kalau begitu." jawab papa.

__ADS_1


"Apa saya boleh melihat istri saya dokter." tanya Pras.


"Silahkan!, tapi tolong bergantian."


"Baik dokter, terimakasih."


Setelah dokter pergi Pras langsung masuk ke kamar dimana Tania berada, Pras begitu khawatir melihat Tania yang masih belum sadarkan diri karena pengaruh obat bius.


"Tania, bangun Tan!" ucap Pras.


Pras mendekat dan mengelus rambut di kepala Tania, dia berharap Tania segera sadar.


"Tan, aku lebih senang mendengar kamu yang marah-marah kepadaku ,daripada melihat kamu diam seperti ini."


"Tan aku janji akan mengantar kemanapun kamu ingin pergi."


"tapi tolong kamu sadar Tan."


"Aku juga janji akan menjauh dari kehidupan Tasya, tapi kamu harus cepat sembuh aku tidak bisa melihat kamu seperti ini Tan."


Namun yang diajak bicara hanya diam, karena kondisinya masih belum sadarkan diri, Pras duduk di sebuah kursi di samping Tania menggenggam erat jemari wanita yang telah sah menjadi istrinya ,namun tidak pernah diakui di hadapan banyak orang.


Rasa takut akan kehilangan Tania membuat Pras begitu terpukul. Pras terus memanggil Tania dan memanggil namanya.


Namun sayangnya sepertinya pengaruh obat pada diri Tania belum hilang. Sudah hampir dua jam Tania memejamkan matanya.


Pras terus menekan alarm penghubung ke ruangan dokter untuk meminta dokter datang dan melihat Tania.


Sampai-sampai dokter kewalahan menjelaskan kepada Pras, bahwa semuanya akan baik-baik saja itu hanya pengaruh obat bius.


Namun bukan Pras nama nya jika terus berkeras dengan apa yang dia katakan. Dan benar saja akhirnya setalah dua jam.berlalu Tania pun tersadar dan mulai menggerakkan jemarinya.


"Tania, Tan kamu baik-baik saja." ucap Pras.


Namun Tania masih diam dia masih belum sanggup untuk bicara hanya matanya saja yang menatap lurus ke depan.


Pras lagi dan lagi, menghubungi ruangan dokter. Agar dokter segera datang.


"Bagaimana kondisi nya dokter?" tanya Pras.


"Dia baik-baik saja "


"Lebih baik pasien dipindahkan ke ruang rawat terlebih dahulu." jawab dokter.


Dan Pras langsung setuju, untuk Tania dipindahkan keruang rawa, agar dia lebih nyaman.


Akhirnya Tania pun dibawa keruang rawat, Dan Pras mengikutinya sampai kesana, saat itu Pras sampai lupa kalau papa nya sudah tidak ada dirumah sakit, itu semua karena rasa khawatir yang luar biasa.

__ADS_1


Entah apa yang akan Pras lakukan setelah ini kepada Tasya?


__ADS_2