Terjebak Di Dua Pilihan

Terjebak Di Dua Pilihan
Rasa yang tak mereka sadari


__ADS_3

Tania menyendok kan nasi goreng didepannya kedalam mulut nya, dia tak lagi berdebat atau pun bicara dengan Pras, Tania tidak tau perasaan nya saat itu, yang jelas dia memang juga merasa berat untuk berpisah dengan Pras, Karena Tanpa dia sadari ada benih cinta yang mulai tumbuh dihatinya.


Setelah selesai makan, Tania bangun untuk memindahkan kotak nasi yang ada di atas meja, namun dia tak juga bicara.


Bahkan Tania membiarkan saja Pras yang belum juga pergi dari rumah nya, padahal saat itu sore sudah berganti dengan malam, Pras masih tetap setiap duduk sambil menonton televisi.


"Kalau Om ingin tidur ,bisa menggunakan kamar yang itu." Tania menunjukkan kesebuah kamar yang juga berada disamping kamar nya.


Pras mengalihkan pandangannya, menatap.ke arah Tania, yang saat itu berdiri tidak jauh dari dirinya.


"Tania istirahat duluan."


"apa kita bisa bicara sebentar?" tanya Pras.


"Tapi Tania ingin istirahat."


"hanya sebanyak saja."


Tania ingin membantah dan berniat masuk kedalam, namun Tania melihat keseriusan Dimata Pras saat itu, akhirnya Tania Oun mendekat ke sofa dimana Pras duduk.


Tania ikut duduk di hadapan Pras, dan mendengarkan hal penting apa yang ingin Pras katakan.


"Apa yang bisa Tania bantu Om?"


Pras masih diam, dan menarik nafas berat, Tania selama bersama Pras belum pernah melihat wajah Pras yang serius ini dengan dirinya.


"Tania, apa sudah tidak ada jalan untuk kamu membatalkan perceraian kita?"


"Om Pras, Tania tau dan belum lupa kalau kita menikah itu karena keterpaksaan."


"Dan Tania juga sadar kalau Om tidak pernah mengharap Kan pernikahan kita ini."


"Jadi menurut Tania ini dialah jalan tebaik untuk kita berdua, Dan Om Kembalilah kepada mbak Tasya."


"Tania tidak ingin merusak hubungan Om Pras dan juga mbak Tasya."

__ADS_1


"Tapi Tania, saat ini saya adalah suami kamu dan saya belum menceraikan kamu, kamu tidak bis pergi begitu saja dari saya."


"Om, bukankah Om pernah bilang, kalau Tania ingin pergi silahkan Tania pergi kan?"


"Dan saat ini papa sudah mengizinkan Tania memilih, jadi biarkan Tania pergi Om, dan Om berbahagialah bersama orang yang Om cintai."


Pras terdiam, karena memang yang Tania katakan benar, dia pernah berharap Tania pergi dan meninggalkan dirinya, namun kenapa hari ini dia seakan tak rela Tania pergi dari dirinya.


"Kalau Om ingin kembali ke Amerika, silahkan saja, Dan Om tidak perlu hadir dipersidangan, semua itu akan mempercepat sidang perceraian kita."


Pras Kembali terdiam, entah apa yang sedang terjadi dengan perasaannya saat ini, dia sendiri bingung apakah saat ini Tania telah menggantikan posisi Tasya di hati nya?


Namun tidak Pras membantah apa yang sengaja terpikirkan oleh nya, dia yakin hanya Tasya lah yang begitu dia cintai.


"Kalau begitu Tania istirahat dulu, permisi Om."


Pras hanya menatap ke arah Tania tak memberikan jawaban sepatah kata pun, dia sendiri bingung harus menjawab apa.


Dan apakah dia terlalu egois jika tidak ingin kehilangan Tasya juga Tania? tapi Pras tidak bisa memberikan pilihan apapun saat ini. walaupun sebenarnya dia telah memberikan pilihannya disaat dia setuju menikahi Tania saat itu.


Bahakan dia menjadi seorang janda namun masih perawan, ada perih yang dia rasakan dihatinya, namun tania tak dapat membuat pilihan lain.


Seandainya saja dia bertahan, dia takut tidak akan kuat melihat hubungan suaminya dan juga kekasihnya itu, hatinya akan begitu sakit, wanita mana Yang ingin suami nya bermesraan dengan wanita lain.


Dan mungkin ini jalan terbaik untuk nya, dan biarlah pernikahannya ini hanya dirinya dan juga tuhan yang tau.


dan Pras yang masih larut dalam pikirannya saat itu, tiba-tiba handphone nya berdering, dan begitu Pras melihat layar ponselnya tenyata tasya yang menelponnya, Pras pun mengabaikan saja , dia tau pasti Tasya akan marah besar jika tau dirinya telah pergi ke Jakarta.


berulang kali Tasya mencoba menghubungi nya, namun Pras tetap mengabaikannya, Dan karena merasa terganggu dengan telpon dari Tasya yang berulang kali, Pras pun mematikan handphone nya.


Pras bangun dari duduknya dan masuk kedalam kamar yang tadi telah disiapkan eh Tania, sudah dua bulan lebih dia dan Tania tinggal dirumah yang sama, namun mereka belum pernah tidur di ruangan yang sama.


Pras, masuk dan mendudukkan tubuhnya dia tempat tidur , menatap ruang kamar yang sederhana, namun begitu menenangkan hatinya saat itu.


ketenangan yang tidak dia temukan dirumah mewahnya di luar negeri. Pras membaringakn tubuhnya, mencoba untuk tidur malam itu dan mengistirahatkan tubuhnya yang lelah karena baru tiba dari Amerika.

__ADS_1


Dan tak terasa keduanya pun larut dalam mimpi masing-masing, Sekitar pukul 05.00 pagi Tania sudah bangun, dia langsung menuju dapurnya saat itu, dan disana hanya ada telur, semua isi kulkasnya kosong.


Maklum saja rumah itu sudah lama ditinggal olehnya, dan mungkin yang mengurus rumah ini tidak menginap disana.


Tania akhirnya mengambil telur dan juga nasi Yang sudah dimasak nya malam tadi untuk dibalut nasi goreng lagi, padahal malam tadi Pras juga membelikannya nasi goreng.


Namun mau gimana lagi, Tania tidak bisa memaksa selain itu karena tidak ada bahan makanan.


Setelah memasak ,Tania Kembali ke kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian, dan membangunkan Pras yang sepetinya masih tidur.


"Om, Om Pras bangun sarapan dulu."


Namun yang dipanggil belum memberikan jawabannya, sepertinya Pras tidur dengan nyenyak.


Tania pun kembali mengulang panggilannya, sampai akhirnya Pras pun terbangun, dan langsung berjalan ke pintu kamar untuk membuka pintu .


" Kenapa?" tanya Pras yang masih terlihat mengantuk.


"Om mandilah dulu, biar kita bisa sarapan."


Setalah bicara Tania pun kembali kedapur.


Pras langsung mandi dan menuju ke meja makan untuk sarapan bersama.


"Kamu masak nasi goreng?"


"Iya, karena cuma itu yang bisa dimasak, semua bahan makanan kosong." jawab Tania namun masih fokus pada makanannya.


"Apa Om tidak suka?"


"Tidak, nasi gorengnya lebih enak dari malam tadi."


Tania hanya menatap ke arah Pras mendengar pujian dari suaminya itu. dan melihat tak ada respon dari Tania dia pun langsung melanjutkan sarapannya.


Sepertinya, kali ini memang Tania tak ingin perduli dengan apapun yang dikatakan Pras. dia lebih fokus dengan pemikirannya tentang kehidupannya setelah dia berpisah dengan Pras.

__ADS_1


akhirnya keduanya pun fokus pada sarapan pagi di piring masing-masing, Pras juga tidak ingin menggangu sarapan pagi Tania. mungkin Pras harus menerima kenyataan kalau memang dia dana tania akan hidup dijalan masing-masing


__ADS_2