Terjebak Di Dua Pilihan

Terjebak Di Dua Pilihan
Kondisi Ibu Yang Kritis


__ADS_3

Hari sudah mulai gelap, Tania masih setia duduk didepan ruang ICU, karena ibunya telah dipindahkan kesana karena kondisinya bukannya membaik, tapi malah kritis.


Tania menatap keruangan ibunya dengan mata yang masih basah oleh air mata. Dia belum pulang untuk biacra dengan om dan tante nya.


Dia belum ingin meninggalkan ibunya sendirian ,karena tidak ada yang menggantikannya menjaga ibu.


Sekitar jam 7 malam, Tania melihat kedua sahabatnya datang kerumah sakit, Tia dan Caca berjalan setengah berlari menghampiri Tania.


Keduanya pun memeluk sahabatnya dari sebelah kiri dan kanan, mereka pun tak kuasa menahan kesedihannya, melihat sahabatnya menangis.


"Tan, kamu yang sabar ya!"


"Iya Tan, kamu jangan sedih kita akan selalu ada untuk kamu Tan "


"Bagaimana keadaan ibu Tan, ibu sakit apa?" Tanya Caca.


Tania masih diam, belum bisa memberikan jawaban ,dia masih larut dalam kesedihannya, terisak dalam dekapan kedua sahabatnya.


"Tan, kamu jangan nangis, cerita sama kita Tan, apa yang bisa kita berdua lakuin untuk kamu?"


Tania tak memberikan jawaban, hanya Isak tangisnya yang semakin kuat, sampai akhirnya Caca dan Tia pun tak ingin bertanya apa-apa lagi, dia tak tega melihat sahabatnya itu.


Setelah beberapa saat terlihat Tania mulai tenang, dia mulai bisa mengendalikan kesedihannya, Tania menggenggam tangan kedua sahabatnya, menarik nafasnya pelan untuk menenangkan pikirannya.


"Tia, Caca!"


Yang dipanggil pun memfokuskan arah duduk kesahabatnya, mereka seakan menguatkan Tania untuk bisa sabar menghadapi musibah yang dialaminya saat ini.


Tania pun mulai bicara dengan keduanya, Tania menceritakan semua kesedihannya ,dan apa yang terjadi dengan ibunya, bahkan harus di operasi namun Tania tak memiliki biaya yang begitu besar.


"Jadi bagaimana Tan?"


"Aku bingung ca, dari mana aku bisa dapatkan uang sebanyak itu, kalau pun aku ada tabungan aku hanya punya beberapa belas juta saja."


Ketiga nya terdiam, Tak ada yang bicara mungkin saat itu sedang larut dalam pikiran masing-masing.


"Tan aku juga punya sedikit tabungan."


"Gak usah ca, kamu juga perlu uang itu."


"Gak apa-apa Tan, nanti untuk ibu kamu aja, yang penting ibu bisa segera di operasi"


"Iya Tan, aku juga punya sedikit tabungan, mungkin bisa mengurangi beban kamu walupun gak banyak."


Tania memeluk kedua sahabatnya yang begitu baik ingin membantunya, disaat Tante dan om nya seakan tak perduli dengan dirinya, namun Tania kali ini tetap harus bicara dengan om dan tantenya.


"Tia, Caca apa boleh aku minta tolong?"


"Tentu saja Tan, jangan sungkan katakan aja apa yang bisa kami bantu?" Jawab Caca.

__ADS_1


"Kalian apa bisa tolong jaga ibu sebentar, aku harus pulang untuk bicara dengan om dan tante ku."


"Iya Tan tentu bisa, kalau gitu kamu pakai saja motor ku." Jawab Tia kali ini.


Tampa pikir panjang, Tania pun mengambil kunci motor matic milik Tia dan keluar menuju parkiran, dan kemudian melajukan motor nya kerumah Tante dan om nya.


Tak berpa lama tania pun sudah memarkir kan motor nya dihalaman rumah om dan tantenya, rumah om dan tantenya memang sangat jauh berbeda dengan rumah nya.


Karena om dan tante Tania merupakan orang yang berada , mereka juga memiliki seorang anak perempuan yang sebaya dengan Tania.


Tania pun berjalan pelan, bahkan terlihat sangat ragu-ragu ,dia takut untuk menemui om nya, namun Tania tetap


harus bicara demi ibunya.


Tania menekan bel rumah mewah itu, bahkan sampai berulang kali, baru lah terdengar suara orang dari dalam rumah, dan ternyata itu adalah tantenya.


Namun setelah membuka pintu bukannya memintanya masuk ,tapi malah memberikan berbagai pertanyaan kepada nya.


"Ada apa kamu kesini, apa mau minta bantuan? Kan sudah Tante bilang gak usah dibawa kerumah sakit, kayak punya uang aja."


Tania masih tetap tenang, dia berusaha menahan semua kesedihannya, dia harus kuat dan berani ini semua demi ibu nya.


"Tante, Tania ingin bertemu dengan om!"


" Om kamu sedang pergi, kamu bicara aja sama Tante!"


"Tapi Tante Tania harus bertemu om, karena om adalah satu-satunya keluarga ibu."


"Maaf kan Tania Tante, tapi tolong izin kan Tania bertemu om, Tania akan terima apapun yang akan om katakan nanti."


"Oke, baik. Tunggu disini Tante akan panggil om kamu, dan tidak usah masuk."


Tania hanya diam, dia sudah terbiasa dengan perlakuan tantenya, dan ini semua demi ibu nya, Tania mungkin akan menerima jawaban pahit dari mereka, tapi yang penting Tania sudah berusaha.


Tania pun menunggu Tante dan om nya didepan pintu, dia tidak masuk bahkan tidak duduk sama sekali, padahal diteras rumah itu terdapat kursi rotan.


Tak berapa lama, Tania pun melihat om dan tante nya, bahkan Tania bisa melihat jelas wajah sinis tantenya saat itu, namun Tania berpura-pura sekan tak melihat itu, hanya wajah ibunya yang terbyang oleh nya saat itu.


"Om!" Tania mencium tangan Om nya.


"Tania ada apa datang menemui om?"


"Om, apa boleh Tania bicara sebentar?"


"Ya tentu saja, duduk lah!"


Tania pun berjalan mengikuti om nya dan duduk diteras rumah, dia ingin rasanya bicara dengan cepat dan pergi dari sana.


"Katakan saja, apa yang ingin kamu bicarakan pada om" ucap om nya.

__ADS_1


Tania terlihat menarik nafas berat, rasa takut bercampur aduk dalam dirinya. Perlahan Tania mulai bicara dengan om dan juga tantenya.


"Om, kondisi ibu sedang kritis, saat ini ibu harus segera di operasi."


"Ibu kamu kritis ? Memangnya dia sakit apa?"


"Om, ibu mengalami kangker usus stadium akhir, dan harus segera di operasi, Tania datang kesini untuk minta bantuan dari om."


Terlihat pria yang merupakan adik ibunya satu-satunya itu terdiam, Tania bisa melihat kalau om nya juga memperlihatkan raut wajah sedih.


"Berapa biaya yang diperlukan?"


"Sekitar seratus sampai dua ratus juta om."


"Apa! Dua ratus juta, kamu pikir disini tempat pinjaman bank." Ucap Tante dengan nada marah.


"Iya Tante, tapi Tania tidak memiliki uang sebanyak itu Tania hanya memiliki sekitar lima puluh juta, itu pun pinjaman dari teman-teman Tania."


"Enggak! Tante gak akan memberikan sepeser uang pun untuk pengobatan ibu kamu."


"Tapi ma, ibunya Tania adalah satu- satunya keluarga papa!"


"Mama tidak perduli pa, yang jelas papa gak boleh mengeluarkan sepeser uang pun."


"Tapi ma!"


"Kalau papa mau bantu Tania, mama dan juga Mita akan pergi dari sini." Ancam istrinya.


Saat itu, Tania hanya diam sebagai pendengar, dia pun berpikir telah salah datang kesana sampai membuat om dan tantenya bertengkar.


Tania pun menyudahi pertengkaran keduanya, dengan bicara pada om dan tantenya.


"Om ,Tante tolong jangan bertengkar, maafkan Tania sudah datang kesini, karena Tania hanya punya kalian."


"Bagus kalau kamu sadar, lebih baik kamu pergi dari sini!"


"Maaf kan om Tania, om tidak bisa bantu kamu."


" Tidak apa-apa om, Tania paham, Tania minta izin untuk kembali kerumah sakit, jika om punya waktu datang lah untuk menjenguk ibu!"


"Iya, nanti om akan datang."


Tania pun meminta izin mencium tangan Tante dan om nya, dan pada saat om akan memberikannya uang, Tante langsung mengambil uang tersebut, dan Tania pun pergi untuk kembali kerumah sakit.


Tania melajukan motor matic milik Tia, sepanjang jalan air matanya terus saja membasahi pipi, sudah tidak ada lagi harapannya untuk membantu biaya operasi ibu nya.


Tania Yang sudah sampai di parkiran rumah sakit, langsung saja memarkirkan mobilnya dan berjalan menuju ruang ICU, disana masih terlihat kedua sahabatnya.


"Tania, kamu kenapa menangis?"

__ADS_1


"Om dan Tante tidak mau membantu biaya operasi ibu, apa yang harus aku lakukan."


Kembali Tania terisak ,dia tak mampu berpikir kalau hal buruk terjadi pada ibunya, akan kah ada jalan untuk Tania?


__ADS_2