
"Kamu jangan cengeng, apalagi semua yang saya katakan itu benar kan, dan dengar kan perkataan saya baik-baik , dan ingat siapa kamu sebenarnya."
Setelah bicara pedas pada ku om Pras pun pergi kelantai atas, mungkin dia benar, untuk apa aku menangis, Karena memang benar aku menikah karena uang.
"Non Tania, apa yang terjadi kenapa tuan marah?"
Aku mengangkat wajah ku menatap ke arah bik Siti, dan menggelengkan kepala ku, aku berusaha tersenyum walupun hati ku saat itu terluka oleh semua perkataan om Pras .
Aku berjalan keluar dan pergi ketaman tempat malam tadi aku dan bik Siti duduk, kutatap langit yang mulai menggelap sore itu, gelap segelap hati ku yang sedang terluka.
Andai saja aku punya pilihan dan kesempatan, lebih baik aku hidup dijakarta saja ,mencari rezeki sendiri untuk melanjutkan hidup ku.
"Ibu, Tania rindu dengan ibu, kenapa ibu meninggalkan Tania dan menghadapi pahitnya kehidupan sendiri." Aku kembali terisak, tak kuasa rasanya aku menahan rasa rindu dan kesedihan ku.
Namun nasi telah jadi bubur ini pilihan hidup yang harus aku jalani, dan yang Aku bingung kan kenapa om Pras harus menikahi aku jika memang dia memiliki kekasih.
Saat itu aku seperti mendengar suara mobil memasuki halaman rumah om Pras, tapi siapa yang datang, aku berniat untuk melihat nya, namun aku urungkan aku tidak mau salah lagi.
Karna hari pun semakin gelap Aku pun memutuskan untuk masuk, dan benar saja ada mobil berwarna merah yang saat itu terparkir di halaman begitu saja.
Aku pun tak ingin ambil pusing dengan hal itu, mungkin itu temannya om Pras jadi dia bebas sesuka hatinya. Aku masuk dan bertemu bik Siti diruang tengah tapi tidak terlihat siapa tamu nya.
"Non Tania dari mana?"
"Dari taman disamping rumah bik, ya sudah Tania kekamar dulu ya bik."
"Non!"
Aku menghentikan langkah ku dan menatap bik Siti dengan senyuman."
"Non, kalau ada yang ingin non cerita bibik ada disini."
Tatapan wanita dihadapan ku benar-benar mengingatkan ku akan ibu, tatapannya begitu meneduhkan hatiku, namun saat itu aku hanya menggeleng dan tersenyum ke arah bik Siti, aku pun menaiki tangga menuju kamar ku.
Namun saat akan melewati ruang kerjanya om Pras, aku mendengar suara tertawa perempuan disana, tapi siapa perempuan yang ada disana.
Suara manja dari perempuan itu membuat ku sendiri menjadi risih, aku pun melewati kamar om Pras dan tak ingin ambil pusing akan hal itu. Mungkin itu temannya yang baru datang.
Namun belum lebih dari tiga langkah aku melewati ruangan itu, pintunya pun terbuka.
"Hei Tania!"
__ADS_1
Karena nama ku dipanggil aku pun menghadap kearah suara, dan ternyata Tasya yang ada disana, aku pun tersenyum ke arah nya.
"Tante Tasya disini?" Tanya ku basa- basi.
"Iya, Tania coba rubah panggilan mu terhadap ku, aku rasa aku lebih pantas kamu panggil mbak atau kakak saja."
"Tapi Tante kan pacarnya om Pras, tidak mungkin kalau tania panggil kakak kan, apa tidak aneh kedengarannya ?"
"Haaah ha ha ha, kamu benar juga Tania, kenapa juga Pras harus menjadi om kamu!"
Aku hanya nyengir saja, tidak mungkin kukatakan kalau dia bukan om ku tapi suamiku, dan jika itu kukatakan berarti Aku harus panggil kamu siapa?
Dan dibelakang Tasya terlihat Om Pras yang menuju pintu, dan saat itu tidak mengenakan bajunya, ntah apa yang dilakukan om dan Tante ini didalam.
"Eh Tante, lain kali betuli dulu Bajunya, bagaimana jika ada macan disini pasti dia akan menerkam nya."
Tasya pun langsung melihat ke arah bajunya dan nyengir ke arah ku, karena saat itu bajunya memang terbuka kancingnya, dan aku pun menatap ke arah om Pras, namun tak bicara apapun, karena aku tidak punya hak untuk bicara.
Aku pun berlalu menuju kamar ku, aku terduduk disudut tempat tidur, walaupun aku tidak pernah mencintai om Pras, dan dia hanya menganggap ku orang asing, tapi aku ini adalah istri Sah menurut hukum dan agama, harus kah rumah tangga ku seperti ini, tapi sampai kapan, aku harus hidup dalam ikatan seperti ini.
Aku bukan cemburu, tapi apa begini rasanya menikah, dan kenapa aku harus merasakan pernikahan yang seperti ini, dulu aku berharap suatu saat akan mendapatkan jodoh yang mencintaiku dan selalu mendukung ku namun itu hanya mimpi.
Ku pejamkan mata dan bersandar pada kepala tempat tidur, kapan aku bisa lepas dari kesedihan jika hidup ku terus seperti ini, memiliki suami namun suami ku malah mencintai wanita lain.
mungkin saat ini yang harus aku lakukan adalah berusaha untuk tidak memiliki perasaan apapun pada om pras, karena itu hanya akan menyakiti ku saja, anggap saja memang ini lah status ku hanya sebagai keponakan dan Om. aku pun tak ingin memiliki suami yang punya kelakuan seperti om pras,lelaki yang tidak memahami agama, dunia luar negeri membuatnya lupa akan aturan.
Suara dering telpon dikamar itu pun membuyarkan lamunan ku saat itu.
" Hallo nona Tania ini bik Siti, segera turun ya non , kita akan makan malam!"
" Bik, Tania belum lapar, makan lah duluan!"
" Tapi non, Tuan bisa marah kalau non tidak turun untuk makan"
" Bik, Kan tidak ada bedanya, Biasanya om pras juga makan sendirian kan, apalagi hari ini juga sudah ada tante Tasya kan,Ya sudah ya bik, Tania mau istirahat."
Aku mematikan telpon, dan menarik selimut untuk tidur, aku lelah, namun bukan badan ku yang lelah, namun hati dan pikiran ku yang lelah, akan kah Aku kuat, baru sehari aku sudah tak kuat melihat Om Pras dan Tasya, Bagaimana jika wanita itu setiap hari kesini.
Dilantai Bawah Om Pras dan Tasya sudah berada di meja makan, Untuk makan malam bersama.
" Bik , Dimana Tania?"
__ADS_1
" Non Tania , Katanya tidak lapar Tuan , Dia minta untuk tidak ditunggu." jawab bik Siti hati-hati.
" Apa dia sudah makan?"
"Belum Tuan."
" Ya sudah, Bik Siti lanjutkan pekerjaan saja!"
"Baik Tuan"
"Apa kita sudah bisa makan ? Aku sudah sangat lapar sayang"
" Sebentar aku akan menelpon kamar Tania dulu."
"Kenapa sepertinya kamu khawatir sekali dengan gadis itu ?"
" Tidak, Aku hanya tidak ingin kalau Papa berpikir aku tidak mengurusnya dengan baik."
" Dia itu sudah dewasa, tidak perlu di urus lagi, Kamu jangan terlalu khawatir dia pasti akan baik-baik saja, kalau lapar dia pasti akan turun sendiri untuk makan bukan ?"
" Tunggu sebentar aku akan menelpon nya dulu, Kalau kamu sangat lapar makan lah duluan."
"Oke!"
Tasya pun mengambil piring dan mengisi nya dengan makanan yang ada dimeja, dia memang kelaparan setelah kegiatan panas nya dengan pras tadi, Namun lain hal nya dengan pras, dia menghubungi kamar Tania dengan handphone nya, Namun tak ada jawaban, pras pun pergi kelantai atas meniggalkan Tasya Yang sedang makan, Pras tidak mau kalau sampai Tania sakit maka Papa nya akan marah besar.
Pras mengetuk pintu berulang kali, Namun tak ada jawaban, Pras pun mencoba memutar gagang pintu kamar nya dan ternyata tidak dikunci oleh Tania, Pras pun perlahan masuk dan melihat Tania sedang tidur lelap, Pantas saja tidak ada jawaban.
"Apa se pulas itu dia tidur sampai tidak dengar suara telpon dan juga pintu diketuk?"
Pras pun bicara sendiri sambil geleng-geleng kepala,Perlahan Pras mendekat ke arah tempat tidur Tania, Menatap gadis polos dihadapannya, dan Pras melihat ada sisa air mata di ujung mata gadis itu, apa yang terjadi, apa karena perkataannya tadi begitu menyakiti hatinya? Pras menarik nafas panjang, ada rasa bersalah dihatinya, walaubagaimana pun Pras sebenarnya adalah orang baik, Namun didikan Papa nya yang keras setelah mamanya tiada membuat Pras Larut dalam kehidupan yang bebas, apalagi setelah dia hidup sendiri diluar negeri membuat dia terjerumus dalam kehidupan yang tanpa aturan.
Pras menatap ke sekeliling kamar Tania, dia melihat sebuah foto yang berbingkai lusuh, Pras pun berpikir kalau itu pasti ibunda Tania. Pras menarik nafas berat, mungkin saat ini dia sedang membuat hidup Tania jadi kacau, tapi Pras juga merasa itu bukan salah dirinya juga, karena Tania sendiri yang menyetujui menikah.
Pras mengusap wajah nya kasar, dia bingung, apa yang harus dia lakukan, tapi yang jelas dia tak akan bisa mencintai Tania, Karena dia sangat mencintai Tasya, dan jika menceraikan nya pun tidak mungkin karena Papa telah mengancam
Nya.
Melihat lelap nya Tania tidur Pras pun mengurungkan niatnya membangunkan Tania, dia pun berniat untuk kembali ke lantai bawah. Namun belum sempat Pras melangkahkan kakinya, dia mendengar suara Tania menyebut namanya.
"Om Pras, Maaf kan Tania, tapi Tania bukan orang Jahat, Tania sayang ibu."
__ADS_1
Ternyata Tania hanya mengigau, Pras kembali menarik nafas berat, ternyata baru dua hari bersama Dirinya gadis ini bisa membuatnya galau.
Memang Pras sama sekali tidak tau alasan Tania menikah dengan dirinya, Tapi dia memang tidak ingin tau, Tapi bagaimana nanti Pras menghadapi Tania, karena jika terus bersama Pras akan terus menyakitinya.