Terjebak Di Dua Pilihan

Terjebak Di Dua Pilihan
Ingin memulai namun terluka


__ADS_3

Malam itu Pras, sama sekali tidak turun untuk makan malam, Tania yang sudah berada dimeja makan juga belum makan karena menunggu Pras.


"Dimana tuan ya non, kok belum turun?" Tanya bik Siti.


"Iya bik, sepertinya Om Pras belum turun, kalau begitu biar Tania panggilkan."


"Tidak usah non Tania, bibik khawatir karena tadi tuan sepetinya sedang ada masalah, nanti malah non Tania kena imbasnya, biar bibik aja."


"Sudah tidak apa-apa bik, biar Tania saja."


Tania pun langsung menggunakan lift biar cepat sampai karena dia pun sangat lapar sebenarnya. tiba didepan kamar Pras, Tania malah ragu-ragu untuk mengetuk pintu, dia sebenarnya takut juga kalau Pras marah.


"Tok,tok,tok!"


Tania mengetuk pintu ,bahkan ber- ulang kali, namun tak da jawaban, "apa si om bunuh diri ya gara-gara ditolak tasya?"


Begitu pikiran Tania saat itu, karena berulang kali tak ada jawaban Tania memberanikan diri memutar gagang pintu, dan ternyata tidak terkunci.


Berjalan perlahan dan masuk, namun tak melihat Pras disana, Tania memutar matanya namun tak menemukan pras juga, saat itu terlihat oleh Tania pintu ke arah balkon terbuka.


Tania berjalan menuju balkon, dan entah dari mana ke isengan nya, yang melihat Pras sedang melamun , Tania malah mengagetkan Pras.


Pras pun memutar kepalanya, dan menatap Tania.


"Apa kamu tidak ada kerjaan lain, bagaimana kalau saya terjatuh kebawah sana."


"Ah, Om ini bercanda saja, mana mungkin Om jatuh itu kan tinggi ,sedada Om." Ucap Tania begitu polos.


"Ada apa kamu kemari?"


"Om ,ini kan waktunya makan malam, Tania lapar sudah dari tadi menunggu Om tapi tidak datang-datang."


"Apa kamu tidak bisa makan sendiri?"


"Bisa Om, tapi kan dirumah ini cuma ada kita berdua ya wajarkan kalau Tania nunggu Om?"


"Kamu makan duluan saja."


"Ish, enggak Om, Tania sudah capek-capek kesini masa harus turun lagi sendirian om, ayok Om kita makan dulu nanti Om kesini lagi untuk melamun."


"Saya tidak lapar."


"Emangnya Om makan apa kenyang? Makan angin tadi dijalan?"


Pras tak memberikan jawaban untuk pertanyaan konyol nya Tania, dia hanya diam menatap langit malam. Tania yang benar-benar udah lapar, pun menarik pergelangan tangan Pras.


"Apa-apaan kamu ini?"


"Ayok Om Tania lapar banget, bagaimana kalau nanti Tania mati kelaparan disini."


"Itu tidak mungkin."


"Kok tidak mungkin seh Om, namanya kelaparan, pokoknya ayok kebawah."


Akhirnya Pras mengalah, karena terus ditarik-tarik oleh Tania, selama ini belum ada yang berani memaksa dirinya.

__ADS_1


Setelah sampai dilantai bawah, Tania yang masih menarik tangan Pras pun langsung ke ruang makan, disana ada bik Siti dan dua pelayan lain yang termenung melihat Pras ditarik-tarik oleh Tania hanya diam saja.


Namun ada senyuman diwajah bik Siti, karena selama ini belum pernah ada yang Berani memaksa tuannya, namun kali ini Tania berhasil, Tania yang sudah tau kesukaan Pras langsung menyendok kan nasi dan lauk nya kedalam piring Pras.


Pras masih diam, Hanya menatap ke arah Tania yang sedang mengambilkannya makan malam. dia juga heran tadinya dia ingin marah kepada gadis dihadapannya, namun entah kenapa dia malah ikut dan nurut saja.


"Ayok makan Om, tidak akan kenyang kalau hanya dilihat saja."


Pras masih diam, dia memang sedang tidak selera makan, Karena sedang kesal dengan Tasya.


"Kok masih diam Om, apa perlu Tania suapi?"


Karena Pras masih juga belum menggerakkan tangannya untuk makan Tania langsung mengambil kursi disamping Pras, dan menariknya semakin dekat dengan Pras, tanpa bertanya lagi Tania menyuapkan nasi ke mulut Pras.


"Ayok makan, buka mulut nya Om!"


"Saya bisa makan sendiri."


"Sudah tidak apa-apa,Tania suapi saja, sepertinya Om sangat capek hari ini ,karena meeting terus jadi biar disuapi saja."


"Saya bukan bayi, bisa makan sendiri, bukannya kamu sangat lapar, makan lah biar saya makan sendiri."


"Udah ayok makan Om."


Tania terus memaksa menyuapi Pras,padahal perutnya sudah kriuk- kriuk. Pras yang saat itu mendengar suara perut Tania pun menatap gadis itu. Karena terus ditatap oleh pria dingin dihadapannya, Tania pun memasukkan nasi yang sudah disendokkan nya untuk Pras kedalam mulut nya.


Sambil nyengir kuda Tania terus mengunyah makanan yang baru masuk ke mulut nya, dia sampai lupa kalau nasi yang dimakan adalah nasi dan sendok yang sama untuk Pras.


Bik Siti Hanya berdiam ditempatnya, sebenarnya dia takut kalau Pras akan marah karena alat makan nya digunakan Oleh Tania, namun tak terjadi apa-apa Pras membuka mulutnya lagi saat Tania menyuapinya.


"Enak kan Om?"


"Kok hmmm, bik Siti capek tau Om masak nya."


Bik Siti saat itu sampai geleng-geleng kepala melihat kepolosan Tania, namun entah kenapa ada rasa hangat dihati bik Siti melihat mereka dekat seperti itu.


Semua makanan di piring pun ludes mereka makan berdua, Tania memberikan air putih kepada Pras, pras langsung meneguk nya.


Berniat untuk kembali ke kamar, namun Tania malah menariknya pelan menuju ruang keluarga.


"Kita mau ngapain? Saya mau istirahat."


"Ya sudah kita istirahat sambil nonton Om, kan seru dari pada televisi nya nganggur tidak ada yang nonton."


"Tidak apa-apa biar kan saja, emangnya apa yang mau kamu tonton?".


"Bukan Tania om, tapi kita yang akan nonton, ayok duduk!"


Menarik tangan Pras untuk duduk dilantai yang beralaskan karpet berbulu lembut, Pras masih diam melihat apa yang gadis dihadapannya lakukan.


Tania memutar film cartoon , sesuai hobinya menonton cartoon, Pras pertama mengernyitkan dahinya, menonton televisi untuk nya menghabiskan waktu saja, namun perlahan Pras pun larut dalam tontonan yang sama bersama Tania.


Mereka berdua tertawa lepas ,seakan tak ada Masalah di antara merek berdua dan Tak ada beban yang sedang Pras pikir kan, bik Siti yang kebetulan melewati ruangan tersebut ikut tersenyum bahagia, mudah-mudahan ini awal yang baik untuk hubungan keduanya.


Dan keduanya yang tadi duduk berjarak, menjadi berdampingan ,mereka tak sadar karena keasyikan menonton, dan tanpa sengaja mereka ternyata sedang berpegangan tangan diatas bantal sofa yang tadinya dipegang Tania.

__ADS_1


Semua rencana yang kuasa tak ada yang dapat menolak nya, keduanya terdiam saat menyadari hal itu , Tania menarik tangannya, dan Pras yang merasa canggung pun berpindah tempat ke atas sofa, dia menatap Tania dari belakang.


"Ternyata gadis ini lucu juga." Ucap Pras dalam hati, tersungging seulas senyum dibibir Pras, hari ini ke sikap Tania yang usil membuatnya lupa akan penolakan Tasya tadi dikantor.


Tania yang sedang menonton pun bangun mendekat ke arah Pras, dia terlihat menguap, karena memang sudah jam 10 malam.


" Om ,ayok kita tidur Tania mengantuk."


"Matikan dulu televisi nya!"


Tania langsung mematikan televisi karena dia ingin tidur, dan besok dia akan kuliah pagi lagi.keduanya pun menuju kamar masing-masing untuk ber istirahat.


Keesokan pagi seperti biasa mereka sarapan bersama, dan hari ini Tania di antar Pras lagi ke kampus.dan begitu juga saat pulang Pras lah yang menjemputnya.


Pras dan Tania terlihat Semakin dekat, selama dua tiga Minggu ini memang Pras terus mengantar dan menjemput Tania, bahkan Tania sering diminta untuk membantu Pras memilihkan baju untuk ke kantor.


Walaupun keduanya masih belum bisa menerima pernikahan dan masih tinggal dikamar terpisah, setidaknya ada perubahan ke arah yang lebih baik.


Mungkin hanya tersisa dua Minggu untuk mereka bersama karena , Pras juga masih berusaha meyakinkan Tasya untuk menikah, bahkan Pras juga mengatakan kalau semua itu harus mereka lakukan agar papa nya tak meminta mereka untuk berpisah.


Namun saat itu tania sama sekali tidak tau kalau Pras masih berusaha untuk meyakinkan Tasya untuk menikah, Karena yang Tania tau Tasya menolak menikah dengan pras.dan itu artinya mereka harus saling menerima pernikahan nya saat ini.


Tania yang berpikir, mungkin inilah jalan terbaik untuk nya, dan mungkin pernikahannya dan Pras adalah yang terbaik, sudah mulai merasa nyaman berada disamping Pras, walaupun masih dalam situasi yang sama, namun setidaknya Pras sudah tidak lagi menjaga jarak dengannya seperti sebelum-sebelumnya .


Siang itu Tania masih berada dikampus ,dia menunggu Pras menjemputnya, namun hari semakin sore, Pras belum juga datang menjemput dirinya.


"Tan, kok belum pulang." Tanya Al yang baru saja keluar dari kampus nya.


"Iya KK, Om Pras belum jemput, mungkin dia sibuk dikantor."


"Kalau begitu kakak aja yang ngantar kamu."


"Tidak usah kak."


"Tapi ini sudah mau hujan Tania, dan sudah jam enam sore,apa kamu masih mau nunggu?"


Akhirnya Tania pun memutuskan ikut Al, tapi Tania minta di antar kan ke kantor Pras saja, karena sudah berulang kali Tania menelpon namun tak ada jawaban. Tania malah takut nanti Pras datang menjemput dirinya.


Setelah mengantar Tania mobil Al meninggalkan halaman kantor Pras.


Tania langsung menuju lobi dan karena dia sudah sering ke kantor, Tania bebas keluar masuk kantor Pras.


Tania menekan tombol lift menuju ruangan Pras,dia berjalan mendekat ke pintu ruangan Pras, namun Tania tidak melihat keberadaan sekretaris Pras hari itu.


Akhirnya diputuskan oleh nya untuk membuka pintu, dan ternyata tak dikunci, Tania berjalan masuk dan mencari keberadaan Pras namun tak terlihat disana, Tania melihat pintu kamar pribadi Pras terbuka dan dikursi kerjanya masih ada jas Pras.


Tania berpikir kalau Pras sedang ketiduran makanya tidak mengangkat telpon dari nya, Tania ingin membuka pintu kamar pribadi dan melihat apa benar Pras sedang tidur, namun Tania mendengar suara yang membuatnya merinding, suara sepeti *******.


Tania menarik nafas panjang, dengan ragu-ragu Tania memutar gagang pintu yang juga tak terkunci, dan begitu pintu terbuka, Tasya dan Pras yang sedang berada didalam begitu terkejut.


Dan Pras langsung bangun dan menarik selimut menutupi tubuhnya, namun Tasya seakan tak perduli, dia masih asik menarik tubuh Pras saat itu.


Tania merasakan sesak di dadanya, dia tak pernah menyangka akan melihat sendiri apa yang dilakukan laki-laki yang telah sah menjadi suaminya dengan wanita lain, padahal Tania telah belajar membuka hati untuk menerima Pras.


Tania mundur perlahan, dan keluar dari sana dengan setengah berlari, hatinya sakit, dia juga tidak tau perasaan apa yang dia rasakan saat itu. Dia pergi meninggalkan kantor Pras.

__ADS_1


Pras saat itu langsung mengenakan bajunya, dia tidak perduli dengan Tasya lagi, walaupun Tasya terlihat kesal Pras tetap pergi, padahal bukan masalah kalau Pras tidak perduli akan kehadiran Tania, karena Pras memang tidak mencintai bahkan mengharapkan tania.


Namun entah apa yang terjadi dengan Pras dan Tania, apakah telah saling membuka hati?


__ADS_2