
Tania berjalan menjalan meninggalkan Pras yang masih mematung ditempat nya, jujur saat itu Tania begitu bingung, apakah dia harus sedih, ataukah sangat bahagia dengan panggilan persidangan untuk perceraian nya dan juga Pras.
Tak berapa lama Pras menyusul masuk kedalam, dan Pras terlihat ragu untuk bicara dengan Tania, dengan pelan Pras berjalan dan duduk tepatnya di sofa yang berhadapan dengan Tania.
Dan belum juga sempat Pras membuka mulutnya untuk bicara, Tania sudah lebih dulu membuka pembicaraan.
"Ini surat panggilan untuk mediasi, dan besok kita diminta hadir jam 09.00 pagi." ucap Tania dengan ekspresi yang tak dapat Pras pahami.
Namun belum lagi sempat Pras menjawab, handphone Tania pun berdering, Tania menyapa layar handphone nya ternyata papa mertuanya yang menelpon, yaitu papa nya Pras.
"Hallo pa!"
"Hallo Tania, apa kamu sudah menerima surat dari pengadilan?" tanya papa dari seberang telpon.
"Sudah pa."
"Apa surat untuk Pras juga dikirim ke alamat yang sama?"
"Iya pa, kedua surat itu ada dirumah Tania."
"Ya sudah, besok papa akan jemput kamu, dan surat untuk Pras tidak perlu kita kirim kan kepada nya."
"Tapi pa!"
"Tania, dengan Pras tidak hadir maka persidangan itu akan cepat selesai, kamu dan Pras bisa segera berpisah."
Tania terdiam sesaat, ada luka yang menggores hatinya disaat papa nya mengatakan tentang tentang berpisah. Ingin rasanya Tania menangis, tapi seketika dia tersadar kalau tidak ada gunanya menangisi hubungan yang hanya dirinyalah yang menginginkan nya.
"Hallo Tania, Tan!" panggil papa Pras yang tak lagi mendengar suara Tania.
"Iya pa!"
"Kamu kenapa?"
"Tidak ada pa, Tania baik-baik saja."
"Besok papa akan jemput kamu."
"Tidak usah pa, Tania akan kesana sendirian saja, papa jangan khawatir."
"Kamu jangan sungkan, papa sudah janjikan, akan mengurus semua Masalah perceraian kamu."
"Terimakasih pa."
"Walaupun saat ini papa tau, kalau Pras sedang berada di Jakarta, tapi papa rasa Pras tidak perlu tau masalah ini."
"Iya pa."
"Tapi papa bingung saat ini dimana Pras berada, dirumah papa nya Danil juga pras tidak berada disana."
Tania kembali diam, karena saat itu dia tau dimana keberadaan Pras.
"Tania, apa Pras menghubungi kamu , apa kamu tau saat ini Pras dimana?"
"Iya pa, Tania tau."
"Berarti kamu sudah bertemu Pras?"
"Bukan bertemu pa, tapi sudah beberapa hari ini Om Pras tinggal bersama Tania."
__ADS_1
"Apa? Tinggal bersama kamu?"
"Iya pa."
"Dimana Pras sekarang, papa ingin bicara?"
"Iya pa."
Tania mengalihkan pandangannya kepada Pras yang sejak tadi hanya diam duduk dihadapannya.
"Om Pras, papa ingin bicara." sambil menyerahkan handphone yang ada ditangannya.
Dan tanpa basa-basi Pras langsung meraih handphone yang ada ditangan Tania.
"Hallo pa!"
"Pras, kamu apa-apaan , kenapa kamu bisa berada dirumah Tania."
"Memangnya kenapa pa?" jawab Pras dengan santai.
"Kenapa ? Kamu apa sedang Amnesia Pras, bukannya Kamu dan Tania akan bercerai, kamu jangan melakukan apapun pada Tania." suara papa terdengar marah.
"Pa, seharusnya papa bahagia, kalau aku dan tania bisa hidup satu atap, bukannya papa marah-marah begini." jawab Pras masih dengan santai.
"Dengar ya Pras, kalau kamu melakukan sesuatu pada Tania, papa tidak akan memaafkan kamu."
"Pa, apa itu masalah?"
"Pras, biarkan Tania hidup bahagia dengan orang lain nantinya jangan kamu hancurkan masa depannya."
Pras hanya diam, dia tau apa yang dimaksudkan papa nya, dan walupun Pras sadar dia bukan lelaki yang baik, tapi dia tidak mungkin menghancurkan hidup Tania, apalagi disaat pernikahan mereka sednga di ujung tanduk.
"Tapi pa, Pras berhak untuk datang."
"Pras, lebih cepat semuanya selesai akan lebih cepat untuk kamu bisa kembali bersenang-senang dengan Tasya."
Pras Kembali diam, bahkan dia tidak sadar kalau papa nya telah mematikan handphone nya.
Tania hanya menatap ke arah Pras, menatap wajah tampan yang saat ini telah menjadi suaminya, namun lebih tepatnya yang sebentar lagi akan menjadi mantan suami untuk dirinya.
"Ini handphone nya!"
Namun Tania masih melamun ,pikirannya menerawang entah kemana, bahkan dia tak sadar kalau Pras sedang berdiri dihadapannya.
"Tania!'' Pras mendekatkan wajahnya.
Dan sontak saja Tania kaget, dan hampir saja menjerit kalau Pras tidak menutup mulut nya.
"Jangan berteriak, ini handphone kamu."
Tania terlihat kesal dan langsung mengambil handphone nya.
"Besok kita berangkat bersama ke pengadilan."
"Kata papa, Om tidak perlu datang."
"Tapi saya akan datang."
"Tapi Om."
__ADS_1
Sekarang ganti baju kamu."
"Kita mau kemana, panggilannya masih besok."
"Saya tau, kita akan belanja bulanan, tuanya ini seperti tidak da penghuninya , tidak ada yang bisa dimakan."
"Tapi Om."
"Jangan membantah."
Dan Tania akhirnya menurut, masuk ke kamar dan mengganti bajunya, saat keluar Pras sudah menunggunya didepan pintu kamar.
"Ini." Pras menyerahkan Tote bag kepada Tania.
"Apa ini?"
"Ambil lah!"
"Tapi ini apa?"
"Kamu ambil dan buka, supaya kamu tau ini apa."
Tania pun meraih tote bag yang diberikan Pras, dan membukanya, dan ternyata isinya adalah handphone miliknya yang saat itu pernah Pras berikan, dan juga sebuah kartu kredit.
"Ini untuk apa?"
"Ini milik kamu kan?"
"Bukan."
"Ambil dan pakailah, jangan menolak pemberian orang lain tidak baik."
"Tapi Tania masih punya handphone, dan Tania enggak butuh kartu kredit."
"Anggap aja ini nafkah Yanga saya berikan untuk kamu."
"Tidak perlu, Om tidak usah memberikan Tania nafkah, karena pernikahan ini juga tak pernah kita inginkan."
Pras diam, tapi entah kenapa dia Merasakan ada goresan dihatinya, mendengar perkataan Tania.
"Kalau begitu terserah kamu, kalau kamu tidak menginginkan nya kamu buang saja."
setelah bicara pada Tania Pras pun keluar meninggalkan Tania, Namun Tania masih diam ditempat nya, dia merasakan sedang melihat sisi lain dari pria yang saat ini menjadi suaminya.
Tania meletakkan Tote bag itu di meja ruang tamu, dan segera menyusul Pras karena dia mendengar suara mobil berhenti, dan Tania berpikir itu pasti taksi online yang dipesan Pras.
Dan benar saja, Pras terlihat masuk ke dalam mobil tersebut, dan tanpa menunggu lagi Tania pun berjalan kearah mobil dan masuk dari sebelah kiri.
Mobil mulai melaju meninggalkan. pekarangan rumah Tania, Namun suasana didalam mobil begitu hening, Pras hanya menatap lurus kedepan, Dan Tania sesekali mencuri pandang terhadap Pras, namun di tak Berani bicara.
Mobil terus melaju sampai akhirnya berhenti di supermarket, Pras dan Tania langsung turun dari mobil dan masuk ke pusat perbelanjaan itu.
Namun keduanya masih bungkam. Pras mulai memilih-milih barang belanjaan, dan itu bukan hal yang sulit untuk Pras, karena dulu Pras pernah lama hidup sendirian.
Setelah selesai berbelanja, mereka berdua pun keluar dari supermarket, namun masih belum saling bicara.
"Om, Tania pulang sendiri aja."
Pras hanya menoleh, tak memberikan jawaban, Apa ini adalah pertanda kalau hubungan mereka memang tak bisa sejalan?
__ADS_1