
Pras menjadi mudah marah setelah kedatangan Al, seharian itu dia terus mondar mandir didalam kamar, bahkan telpon Tasya di abaikannya begitu saja.
Dia sedang berpikir tentang apa yang bik siti katakan untuk mempertahankan Tania, tapi Pras bimbang, karena dia juga tidak bisa kehilangan Tasya.
Pras memang merasa ada yang hilang dengan kepergian tania, karena sikap Tania yang perhatian dan tidak pernah membantah perintah nya, walaupun dalam waktu satu bulan yang diberikan papa nya, Pras malah menjadi semakin dekat dengan Tania.
Bahkan Pras mencari alasan untuk Tania bisa terus berada bersama nya, walupun Pras tidak menyadari akan hal itu, dia merasa itu hal yang wajar Hanya meminta bantuan untuk menyiapkan baju dan sebagainya.
Pras kehilangan sosok Tania yang selalu ceria, dan memperhatikan dirinya , terkadang rasa capek yang di rasakan Hilang seketika. namun Pras tidak yakin kalau yang dia rasakan saat itu adalah cinta, dia Hanya takut kalau itu hanya rasa iba.
Karena Tania yang kehilangan kedua orang tua nya, Pras bahkan sering menempat kan dirinya diposisi Tania, sehingga membuatnya lupa kalau saat itu seharusnya dia membenci Tania, dan fokus pada hubungannya dengan Tasya.
Namun tidak , Pras malah lebih fokus untuk mengantar jemput Tania ke kampusnya, perasaan apa ini sebenarnya?
Pras yang sedang kebingungan di kamarnya pun mengambil sebuah ransel dan memasukan tiga pasang baju milik nya dan juga beberapa keperluan lainnya.
Dia berjalan turun mencari bik Siti, sambil mengotak-ngatik handphone nya. Entah apa yang sedang dicarinya saat itu.
"Bik Siti!"
"Iya tuan, tuan mau kemana?" Tanya bik Siti melihat Pras menggunakan ransel.
"Saya ingin menyusul papa bik."
Bik siti tersenyum simpul, dia tau pasti tuannya itu akan menyusul Tania , Hanya saja gengsi nya yang sangat besar tidak ingin mengakui kalau dia kehilangan Tania.
"Kenapa bibik tersenyum, apa ada yang lucu?"
"Tidak tuan, kalaupun tuan ingin menyusul non Tania bibik pun setuju."
Pras menjadi salah tingkah karena digoda bik Siti, dia pun meninggalkan bik Siti dan Kembali naik ke lantai atas, apalagi ternyata dia tidak mendapatkan tiket pesawat malam itu untuk tujuan Indonesia.Pras yang sudah ingin membuka pintu kamar, malah mengurungkan niat nya dan pergi menuju kamar yang sempat ditempati Tania selama dua bulan ini.
Pras membuka pintu yang masih tergantung kuncinya dipintu, berjalan perlahan masuk kedalam kamar Tania. Pras berjalan ke tempat tidur tania, dan duduk disisi tempat tidur yang dekat dengan meja rias milik Tania.
Pras menatap sebuah foto yang terpasang dimeja kecil disamping tempat tidur ,foto Tania yang mengenakan baju berwarna pink bunga-bunga sedang tersenyum bahagia.
Pras meraih foto tersebut, menatap nya ,dia merasa ada yang hilang di relung hatinya. Dan tanpa sengaja Pras juga melihat handphone dan juga sebuah kartu berwarna gold yang waktu itu pernah dia berikan kepada Tania, namun diletakkan begitu saja diatas meja.
Pras baru tau ,kalau Tania tidak membawa apapun yang dia berikan semua ditinggalkan didalam kamar nya, bahkan handphone pun diletakkan kembali kedalam kotak nya.
"Tania, maaf kan saya yang telah banyak menyakiti kamu ,tapi saya tidak menyangka kalau kamu akan pergi dari saya secepat ini."
Pras menatap foto Tania, ada rasa yang tak bisa dia jelaskan saat itu, karena yang dia tau hanyalah cintanya kepada Tasya saja.
Pras ingin rasanya pergi malam itu juga untuk mencari Tania, namun dia baru mendapatkan tiket penerbangan besok pagi, jadi Pras terpaksa menunggu lagi.
Malam itu Pras pun tertidur dikamar Tania dengan masih memegang foto Tania ditangannya, untuk sesaat Pras melupakan Tasya, orang yang di akui begitu dicintai oleh nya, namun kehilangan tania membuatnya melupakan Tasya.
Keesokan pagi Pras langsung menuju ke airport, karena dia akan terbang ke Indonesia sekitar pukul 07.00 pagi. Pras pergi tanpa memberitahu Tasya, bahkan Hanya asistennya dikantor saja yang tau kalau dia telah terbang ke jakarta.
__ADS_1
Pras, juga tidak memberi tahu papanya kalau dia akan ke Jakarta. Karena dia takut kalau Tania akan menghindari dirinya, dan dia akan kesusahan mencari Tania, Pras berencana akan kerumah kakak nya di jakarta yaitu papa Danil.
Karena dengan begitu Pras akan mudah tau tempat tinggal dari Tania. Walupun Pras belum punya rencana apa yang akan dilakukan nya setelah bertemu Tania, yang penting dia bisa tiba di Jakarta dan mencegah papa nya mengajukan berkas perceraian dia dan Tania.Sedang Tania yang sudah tiba di jakarta langsung diantar menuju rumah nya yang dulu, dan betapa terkejutnya tania ternyata rumah itu telah dibangun oleh tuan Sanjaya, dan saat ini menjadi jauh lebih baik dari sebelum nya.
Tania tak henti-hentinya mengucapkan terimakasih kepada tuan Sanjaya, yang telah meminta orang untuk mengurus rumah dan makam ibu nya.
"Tania, kalau menang keputusan kamu sudah bulat, tinggallah kembali dirumah ini."
" Terimakasih pa!"
"Jangan sungkan, jaga diri kamu baik-baik karena setalah ini mungkin papa akan jarang mengunjungi kamu, tapi papa janji akan mentransfer semua biaya kuliah untuk kamu."
"Terimakasih pa, sebenarnya papa tidak perlu repot, tania akan bekerja separuh waktu disini."
"Tidak nak, fokuslah pada kuliah kamu, biar papa yang urus semuanya, papa juga akan mengurus kepindahan kuliah kamu."
"Iya terimakasih pa."
"Untuk sementara kamu dirumah dulu sampai semua selesai dan kamu bisa kuliah kembali."
"Iya pa."
"Kalau begitu papa akan kembali ke apartemen."
"Papa tidak akan kerumah Danil?" tanya tania
"Ya sudah papa hati-hati."
Tuan Sanjaya meninggalkan rumah Tania, dan tinggallah Tania yang merenungi nasib nya, sebentar lagi dia akan menyandang status janda, padahal dia hanya menikah dengan Pras selama dua bulan.
Seperti pesan tuan Sanjaya, Tania hanya dirumah saja, karena memang untuk saat ini dia belum bisa masuk kuliah. Tania rindu dengan dua sahabatnya, namun dia takut tidak tau harus berkata apa jika mereka tau tentang hidupnya saat ini.
Dan yang paling Tania khawatirkan bagaimana jika dirinya bertemu dengan Danil, apa yang akan dia katakan pada Danil, kenapa dia sampai menghilang dari Jakarta.
Dan bagaimana jika Danil sampai tau kalau dialah yang menikahi paman nya, apa yang akan dipikirkan Danil tentang dirinya.
Keesokan paginya, Caca yang saat itu kuliah di jakarta datang kerumah Tania yang dulu, dan Caca juga sudah tau kalau rumah itu telah dibangun, namun Caca tidak tau siapa yang membangunnya, dan dia juga tidak tau kemana tania pergi saat itu.
Caca mendekati rumah baru Tania, Karena dia melihat seperti ada pergerakan didalam rumah Tania yang saat itu pintunya terbuka, hanya pintu pagarnya yang dikunci.
Caca, berdiri didepan pagar, memperhatikan siapa yang ada dirumah Tania saat itu, Caca yakin itu pasti Tania yang sudah dua bulan ini tak pernah dijumpainya.
"Tan, Tania!" Panggil Caca.
Tania yang merasa namanya disebut, berjalan ke arah luar, dan betapa terkejut Tania ternyata sahabatnya Caca yang sedang berada diluar pagar.
Membuka pintu dan memeluk Caca, ada kerinduan yang mendalam dihatinya, begitu juga dengan Caca, begitu merindukan Tania.
"Tan ,kamu kemana aja selama ini?"
__ADS_1
"Aku tidak kemana-mana ca."
"Tan kamu jangan bohong, setiap hari Aku datang kesini untuk bertemu kamu, bahkan saat aku Kembali dari liburan, aku malah mendapat berita kalau ibu kamu meninggal tan, dan kamu menghilang entah kemana."
"Iya ca, aku sekrang sudah tidak punya siapa-siapa, banyak hal yang sudah aku lalui dalam waktu dua bulan ini ca."
Caca, memperhatikan Tania, ada perban yang menempel dikepalanya, Caca menyentuh kepala sahabatnya."
"Apa yang terjadi dengan kamu Tan?"
"Tidak ada ca, ini hanya kecelakaan kecil."
"Kecelakaan kecil kamu bilang, kenapa kamu tidak pernah mengabari Aku tentang kehidupan kamu sekarang."
"Kamu jangan khawatir ca, aku baik-baik saja, lebih baik kita masuk kedalam."
Tania menarik pelan tangan Caca, dan membawanya masuk kedalam rumah, Caca bingung sebenarnya melihat perubahan rumah Tania, dan juga baju yang di gunakan nya, tapi Tania berpura-pura tidak tau kalau Caca sedang menatap penuh tanda tanya ke arah nya. dia tidak ingin Caca bertanya banyak hal yang tak mungkin dia ceritakan.
"Tan, kamu sekarang kuliah dimana?"
"Aku saat ini sudah berhenti kuliah."
"Berhenti, berarti sebelumnya kamu kuliah?"
"Hmmm"
"Dimana ?"Tania menarik nafas panjang, dia bingung mau bercerita dari mana, tapi kalau dia diam saja, pasti Caca akan terus memaksanya untuk menjawab.
"Ca, aku sebnarnya selama dua bulan ini berada di Amerika."
"Amerika?" Tanya Caca dengan ekspresi terkejut.
Karena seingat Caca tidak ada undangan beasiswa ke Amerika. Tapi kenapa Tania bisa sampai ke sana.
"Saat itu ada orang baik, yang ingin membantu aku kuliah, tapi diluar negeri."
"Lalu kenapa kamu kembali ke jakarta, kamu tidak sedang libur kan?"
"Tidak ca, aku ingin melanjutkan kuliah di jakarta, aku rindu dengan rumah ini." Jawab Tania sedikit berbohong.
"Berati kamu akan tinggal disini lagi Tan?"
"Iya ca, dan kita bisa bareng-bareng lagi kan."
Tania memperlihatkan senyum nya, sebenarnya senyum yang dia paksakan, masih bnyak cerita yang belum bisa dia ceritakan kepada Caca sahabatnya, pernikahan nya, suaminya, mungkin ini biarlah menjadi rahasia untuknya sendiri.
Karena hari sudah sore, Caca pun izin pulang, tinggal lah Tania sendiri, mungkin setelah ini dia juga akan kembali menghadapi Danil, apa yang akan dia katakan pada Danil, dan bagaimana jika Danil tau kalau dirinya lah yang menikah dengan pamannya saat itu.
Malam itu,adalah malam pertama dirinya kembali kerumah orang tuanya yang sudah penuh dengan perubahan , Bahkan begitu banyak perubahan yang terjadi, semua itu dilakukan oleh tuan Sanjaya untuk nya, bahkan membuat hidupnya banyak berubah
__ADS_1