Terjebak Di Dua Pilihan

Terjebak Di Dua Pilihan
Perang dingin


__ADS_3

Tania berjalan mengikuti Pras yang tak memberikan nya jawaban. Tania pun akhirnya mengulang perkataannya.


"Om Pras, Tania ingin pulang sendiri aja."


"Kenapa ?"


"Tania hanya ingin sendiri aja."


"Apa kamu ingin mencari lelaki yang kamu cintai disini?" ucap Pras.


Tania terdiam, dan bertanya pada diri nya sendiri ada apa dengan Om Pras. Namun Tania tak memberikan bantahan apapun, dia tidak ingin perdebatannya menjadi panjang.


Sebuah taksi berhenti tepat di hadapan mereka, Dan tanpa basa-basi Pras langsung masuk ke dalam taksi tersebut, Dan Tania yang tadinya ingin pulang sendirian pun ikut masuk.


"Katanya mau pulang sendirian!" ucap Pras tanpa menatap ke arah Tania.


"Tapi Om tidak mengizinkan." jawab Tania ketus.


"Apa saya tadi bilang begitu?"


Tania kembali diam, karena memang Pras sama sekali tidak melarang nya. Namun karena Pras tidak memberikan jawaban iya atau tidak Tania pun jadi ikut naik taksi dengan Pras.


Tak ada yang bicara, keduanya bungkam bahkan sampai tiba dirumah. Pras langsung turun setelah membayar taksinya Dan tanpa bicara apapun Pras membawa barang belanjaan.


Tania pun jadi kebingungan sendiri , ada apa dengan lelaki dihadapannya, tapi dia tak ingin mengatakan apapun, takut malah suasana bertambah panas.

__ADS_1


Tania mengikuti Pras ke dapur, bahkan ikut membantu menyusun barang-barang di kulkas, namun keduanya masih diam.


Namun belum juga selesai menyusun barang-barang kedalam kulkas, handphone Pras pun berdering, Pras mengambil handphonenya yang diletakkan di atas meja dan tak jauh dari kulkas tempat ia sedang menyusun barang.


Sebuah nomor baru terlihat dilayar handphone nya, dan Pras pun mengabaikannya begitu saja.


"Kok enggak di angkat Om?" tanya tania.


"Tidak penting." jawab Pras.


"hmmm." Tania hanya bergumam.


Dan baru Pras ingin menyimpan handphone nya, Kembali terdengar suara dering nya, Pras melihat nomor yang barusan menghubunginya yang kembali menelpon.


"Angkat aja Om, mana tau penting kan."


"Diangkat aja dulu Om, kan jadinya bolak balik ditelpon." ucap Tania.


Dan akhirnya Pras pun mengangkat telpon , walaupun sebentar dia malas karena nomor yang tidak dia kenal.


"Hallo!" ucap Pras ragu-ragu.


"Hallo sayang, akhirnya kamu angkatan juga." jawab suara perempuan diseberang sana.


Dan Pras tidak perlu bertanya itu suara siapa, karena dia sudah hafal dengan suaranya.

__ADS_1


"Kamu ada perlu apa nelpon aku?"


"Ada perlu apa kamu bilang, sayang Aku itu kangen sama kamu."


"Tasya, Kan aku sudah bilang saat ini kamu tidak perlu cari aku, aku sedang berada ditempat keluarga Aku di jakarta."


"Kamu bohong Pras, aku sudah mencari kamu kerumah kakak kamu, tapi mereka bilang kamu tidak disana."


"Apa, kamu kerumah Daniel?"


"Iya, tapi aku tidak bertemu Daniel."


"Kalau begitu kamu lebih baik kembali ke Amerika saja."


"Oke, tapi kita akan kembali bersama-sama."


"Tapi Aku tidak bisa, aku sedang ada keperluan disini."


"Keperluan apa Pras, aku datang untuk mencari kamu, sudah sangat lama kita tidak bersama."


"Maaf tapi lebih baik kamu kembali."


Setelah bicara seperti itu, Pras langsung mematikan handphone nya, dia tak lagi mendengar apa yang dikatakan oleh Tasya.


Namun Tania yang sebenarnya dari tadi mencuri dengar hanya melirik sekolah ke arah Pras. sebenarnya kalau harus jujur Tania tak ingin kalau Pras kembali, namun dia sudah tak ingin memaksakan kehendaknya untuk bersama.

__ADS_1


Tapi untuk saat ini, tak ada yang bicara atau membahas pembicaraan Pras dan tasya. dan Tania pun pergi meninggalkan Pras di dapur sendirian.


Apa perang dingin antara keduanya akan terus berlanjut sampai persidangan besok?


__ADS_2