Terjebak Di Dua Pilihan

Terjebak Di Dua Pilihan
Sakit Namun Tak Berdarah


__ADS_3

Sekitar pukul setengah sepuluh pagi itu, om Pras pun kembali untuk menjemput ku, aku yang memang sudah bersiap agar tak perlu ditunggu sudah duduk santai di teras rumah.


"Kamu sudah siap?" Tanya om Pras pada ku yang sedang duduk diteras.


"Sudah, Tania takut nanti kalau om pulang tapi belum siap."


"Cieh,,!" Pras berdecih dia kesal dipanggil om oleh gadis dihadapannya.


Pras pun masuk kedalam meninggalkan Tania , namun Tania hanya diam saja, dia tak ingin mempermasalahkan hal itu, dia tetap sabar menunggu, karena saat itu dia begitu bersemangat untuk ke kampus.


Setelah menunggu hampir 20 menit, Pras pun terlihat keluar ,namun kali ini sudah mengenakan baju yang santai.


"Ayok, kita berangkat sekarang!"


Aku hanya ikut saja tak membantah, saat itu dengan santai aku masuk dan duduk di kursi belakang, dan tak ada protes dari om pras, ya sudah aku pun duduk manis ditempat ku.


Namun saat diperjalanan Aku melihat mobil om Pras berbelok ke sebuah gedung, aku berpikir apa ini kampusnya?


Namun aku melihat digedung itu sebuah nama perusahaan, berarti bukan kampus dong, namun aku masih diam dan mungkin ini kantor nya om Pras, tapi kenapa om Pras tidak turun?


Banyak pertanyaan dibenakku saat itu, namun hanya diriku saja yang tau, dan saat aku sedang menatap lurus kedepan, aku melihat seorang wanita bak model tinggi semampai, dengan pakaian kurang bahan, sedang berjalan.


Aku terus memperhatikan dan benar saja, dia berjalan semakin dekat ke arah mobil kami apa wanita itu yang ditunggu om Pras? Entah kenapa aku bergidik geli sendiri melihat cara berpakaian nya, tapi ini Amerika mungkin sudah terbiasa begitu pikir ku lagi saat itu.


Dan ternyata benar saja, wanita itu langsung membuka mobil yang saat itu juga aku tumpangi, dan masuk disamping kemudi, aku sedikit terbelalak, tapi bukan karena wanita itu duduk disamping om Pras, namun Karena tanpa rasa malu wanita itu langsung mencium pipi om Pras.


Apa apaan ini batin ku, menodai mata ku saja pagi-pagi. Aku pun membuang pandangan ke samping kaca saat itu, aku tidak Sudi melihat kemesraan mereka berdua.


Dan wanita yang baru saja masuk ke mobil itu pun memutar tubuhnya menghadap ke arah ku.


"Sayang, ini ya keponakan kamu yang dari Jakarta? Cantik juga!"


Aku hanya tersenyum, senyum terpaksa, entah kenapa aku tidak suka dengan wanita dihadapan ku, namun dia malah mengulurkan tangannya kearah ku.


"kenalkan aku Tasya, pacarnya Pras!"


"Aku Tania!"


"Sudah kenalan nya, kita berangkat sekarang!"


"Oke sayang!"


Dan wanita itu seperti prangko saja, terus menempel pada om pras , dalam hati aku berpikir berarti wanita seperti inilah yang disukai suami ku ini.


Suami? Kata-kata itu membuatku senyum sendiri, suami hanya status. Perlahan mobil sudah mulai melaju di jalan raya aku yang sedikit tidak suka dengan wanita didepan ku yang terlalu manja dengan om Pras, bahkan sedang ada aku disana, ku sibukkan diriku dengan membuka sebuah buku tentang dunia berhitung.


Sampai akhirnya mobilnya pun terlihat berhenti disebuah gedung yang begitu megah nya, dan bertuliskan university, aku pun melebarkan senyum, akhirnya kami sampai, dan aku tak perlu melihat drama romantis dihadapan ku lagi.


Aku langsung membuka pintu mobil dan menatap ke gedung yang tinggi menjulang itu.


"Sudah, ayok kita masuk kedalam , jangan hanya bengong disitu."


Aku hanya menurut aja, dan mengikuti langkah mereka berdua, karena memang aku sama sekali tidak tau arah dan tujuan.


Setelah menggunakan lift kami pun sampai diruangan administrasi , dan setelah selesai mendaftarkan, aku pun hanya tinggal mengikuti tes melalui jalur online.


"Tania kita pulang kerumah!"


"Terserah om saja."


"Apa enggak bisa kalau?" Namun pras mengentikan perkataan nya hampir saja dia menegur Tania untuk tidak memanggilnya om, Tania lupa kalau ada Tasya disampingnya.


"Sayang, bagaimana kalau kita jalan-jalan dulu, aku ingin beli sesuatu."


"Oke!"


Mobil pun kembali melaju membelah keramaian jalan raya, aku sebenarnya lebih senang kalau di antar pulang aja, dari pada mengikuti mereka berdua, namun aku terpaksa menurut, andai saja aku tau jalan pulang kerumah ,aku akan pulang ,Mobil terlihat berhenti disebuah pusat perbelanjaan, aku pun ikut turun , semua wajah asing yang kulihat, tak ada wajah orang Indonesia yang tertangkap oleh mata ku saat itu.


Aku berjalan pelan sendirian ,dengan malas nya aku terus mengikuti kemana arah jalan mereka, dan ternyata si Tante Tasya itu mau beli tas branded?


"Sayang, kamu boleh pilih yang mana yang kamu mau!"


"Terimakasih sayang!" Tasya langsung aja memeluk om Pras, padahal itu tempat umum.

__ADS_1


Karena bosan aku pun berjalan menjauh sedikit dari mereka mendekat ke sebuah rak yang berisi jam tangan, begitu banyak jam mewah disana yang mungkin hanya bisa aku lihat saja, aku tersenyum sendiri, tapi aku tetap bersyukur dengan kehidupan ku.


Dan saat sedang melamun kan hidup ku, tiba-tiba seseorang menegur ku.


"Hai, permisi!" ucap seorang pria.


Aku pun mengalihkan pandangan ku ke arah samping, dan terlihat seorang pria berkulit putih,dengan badan tinggi tegap, tersenyum ke arah ku.


"Yoe seem to like watch?" ( Kamu sepertinya menyukai jam tangan )


"No, I'mjust taking a look."( Tidak, aku hanya melihat-lihat saja)


"Look like you're an imigran?"


( Sepetinya kamu seorang pendatang?)


"Yes, I'am come from Jakarta!"( Iya, saya berasal dari Jakarta


"OOO, kalau begitu kita sama-sama pendatang, kenal kan saya Alfin, kamu boleh panggil Al."


Aku masih menatap nya, belum menyambut uluran tangan itu.


"Kamu jangan takut saya bukan orang jahat "


Aku pun menyambut uluran tangan lelaki dihadapan ku,dan tersenyum. Ternyata aku bisa menemukan orang Indonesia juga disini.


"Saya Tania Renata, panggil saja Tania!"


"Kamu bersama siapa kesini?"


"Bersama om saya."


"Hmm, kamu sudah lama berada di Amerika?"


"Baru dua hari"


"Apa kamu sedang jalan-jalan disini?" tanya Alfin


"Ya saya juga kuliah disini, sudah tiga tahun."


Dan kami terus bicara panjang lebar, Karena om Pras dan tasya belum juga selesai berbelanja. Ternyata kak Al kuliah dikampus yang sama dengan ku, hanya beda jurusan saja.


Dan kak Al juga orang yang ramah membuat kita jadi cepat akrab, Tampa aku sadari dari jauh om Pras sedang memperhatikan ku.


"Tania!" Aku membalikkan tubuhku.


"Om Pras, om dan Tante Tasya sudah selesai berbelanja?"


"Sudah dong Tania, kamu lihat kan aku sudah bawa banyak barang!"


"Hmm, aku tau."


"Tania, ini om dan Tante kamu?"Tanya Alfin


"Iya, kenal kan ini om Pras dan pacarnya tasya."


Tasya langsung mengulurkan tangannya ke arah kak Al, namun lain hal nya dengan om Pras, malah memasang wajah datar, dan tak menyambut tangannya kak Al. Dan agar tidak canggung aku langsung mencairkan suasana dengan sedikit bercanda.


"Kak Al, om nya Tania tidak suka berjabat tangan dengan orang asing ,maaf ya!"


"OOO oke, no problem."


"Lebih baik kita pulang, jangan terlalu akrab dengan orang asing!"


"Sayang, biarkan saja, Tania itu kan butuh teman disini, tidak mungkin kan dia hanya hidup sendiri tanpa teman." Ucap Tasya dengan suara manjanya.


"Sudah kita pulang sekarang!"


"Kak Al, Tania pulang duluan ya!"


"Oke, hati-hati dijalan,sampai jumpa lagi nanti dikampus."


Aku hanya tersenyum membalas perkataan Kak Al, dan segera berlari kecil menyusul om Pras yang sudah berjalan lebih dulu.

__ADS_1


Suasana didalam mobil hening sesaat, tak ada yang bicara, apalagi aku yang hanya dijadikan obat nyamuk disana. Mobil terus melaju dan kembali berhenti di depan kantornya Tante Tasya.


Dan om Pras terlihat belum juga menjalankan mobilnya padahal Tasya telah jauh berjalan masuk ke lobi kantor.


"Om, kenapa belum jalan, apa Tante Tasya akan kembali bersama kita juga."


"Kamu pikir saya sopir, pindah kedepan!"


"Tapi om, Tania lebih nyaman duduk disini."


"Ini mobil saya, saya yang boleh mengatur siapa yang akan duduk dimana."


Dengan kesal aku pun turun dan duduk didepan, tapi dengan muka ditekuk, aku kesal baru dua hari om Pras itu sudah terlihat taring nya, galak!


"Saya tidak suka melihat muka kamu seperti itu."


Aku mengalihkan pandangan ku, namun masih dengan wajah merenggut, dan menatap ke arah om Pras,entah kenapa waktu dan situasi merubah aku menjadi keras kepala.


"Lain kali jangan sok akrab dengan pria asing, kamu itu belum tau kehidupan disini, saya bicara seperti ini karena tidak ingin terjadi sesuatu sama kamu dan papa bisa marah besar."


"Iya om Tania paham."


"Kenapa kamu tidak panggil saya kakak saja seperti pria tadi, kenapa harus om?"


"Karena memang lebih pantas dipanggil om, kalau kak Al itu jauh lebih muda dari om, jadi tidak mungkin Tania panggil om."


"Sudah duduk dan diam, jangan terus membantah."


Aku pun kembali diam, tak bicara sepatah kata pun sampai mobil terparkir sempurna dihalaman rumah om Pras, aku langsung turun dan berlari kecil kedalam rumah meninggalkan om Pras sendirian.


Aku langsung mencari bik Siti, dan menceritakan apa yang aku lakukan hari ini, bik Siti hanya tersenyum mendengar kan cerita ku sambil membereskan meja makan.


Karena aku terlalu fokus bicara dengan bik Siti, aku sampai tidak lihat kalau om Pras sudah masuk kedalam,setelah selesai bercerita aku pun kembali ke kamar dan mengganti baju ku dengan baju santai, long dres tanpa lengan diatas lutut.


Aku kembali turun ke lantai satu, dan ternyata si om masih duduk di ruang tamu, aku pun berniat untuk keluar ke teras saja.


"Tania!"


"Hmm."


"Kamu mau kemana?"


"Mau ke teras om, apa ada yang bisa Tania bantu?"


"Saya mau bicara dengan kamu."


Aku pun berjalan mendekat dan duduk disofa di samping om Pras. Saya tidak bisa selalu mengantar dan menjemput kamu saat sudah aktif kuliah, jadi beberapa hari ini setiap sore saya akan bawa kamu untuk keliling daerah sini agar kamu hafal jalan pulang dan bisa bawa mobil sendiri."


"Bawa mobil om?"


"Iya apa perkataan saya kurang jelas?"


"Bukan om, tapi Tania tidak bisa bawa mobil jangan kan mobil motor saja Tania tak pernah punya."


"Menyedihkan sekali hidup kamu, pantas saja kamu bersedia menikahi pria tua seperti papa saya."


Aku terdiam, kata-kata om pras kali ini entah kenapa terasa begitu sakit, walupun memang kenyataan nya aku memang saat itu setuju menikah dengan tuan Sanjaya bukan om Pras, namun apa yang om Pras katakan kalau aku menikah karena hidup ku yang menyedihkan dan aku ingin hidup menjadi orang kaya.


Itu semua tidak benar, tapi aku tau semua orang akan beranggapan begitu, mata ku terasa panas, namun aku berusaha menahan nya.


"Besok kamu akan belajar mengemudi, saya akan daftarkan kamu."


Aku masih diam, aku tak berani berkata-kata apapun ,karena masih menahan air mata ku yang sudah berada di ujung mata.


"Dan satu lagi, apa kamu tidak punya handphone lain yang lebih bagus, itu sudah seperti rongsokan saja."


Aku masih diam,menatap tangan ku yang saat itu menganggap handphone yang pernah ibu belikan untu ku, hari itu hati ku terasa sakit namun tak berdarah.


"Tania, saya tidak suka jika saya sedang bicara dan kamu hanya diam saja."


Kali ini suara om Pras, mengagetkan ku, suaranya yang tinggi dan tegas membuat air mata ku lolos dengan sendirinya, aku menundukkan kepala ku dan mencoba menghapus air mata ku.


Suara om pras pun membuat Bik Siti datang ke ruang tamu. Namun bik Siti tak berani berkata apapun hanya menatap ke arah ku. aku bingung akan kah aku sanggup bertahan hidup dengan orang yang membenci ku?

__ADS_1


__ADS_2