
"Lebih baik kita sarapan!" ajak Pras untuk mencairkan suasana.
Namun Tania masih diam , hanya menatap Pras dengan tatapan kesal. Namun Pras tidak ambil pusing, dia mengambilkan sarapan untuk Tania, yang masih duduk diam ditempat nya.
Dan Pras mengisi piringnya sendiri , dengan santai Pras langsung melahap sarapan Yanga dibuat oleh dirinya pagi itu. Dia bahkan bersikap seakan barusan dia sedang tidak melakukan apapun.
Namun tanpa Pras sadari, hal itu malah membuat Tania semakin kesal, namun Tania tak ingin berdebat panjang lebar lagi, karena dia juga sedang lapar.
Keduanya pun disibukkan dengan piring masing-masing, setelah sarapan selesai Tania bangun dan membereskan meja makan, walupun masih kesal ,tapi Tania masih ingat akan tugas nya sebagai seorang istri.
Tania mencuci piring kotor , Dan terlihat Pras mulai membereskan meja makan, Tania tersenyum sendiri melihat sikap Pras, ternyata banyak hal Yang tidak Tania ketahui tentang Pras, bahkan tentang apa yang bisa dan tidak bisa Pras lakukan.
Setelah selesai Tania langsung menyusul Pras kedepan yang ternyata sedang duduk di teras, pagi itu Tania melihat pras sedang memainkan handphone nya.
Tanpa bicara apapun, Tania langsung mengambil posisi duduk dihadapan Pras. Pras hanya menatap Tania sesaat, dan tidak bicara apapun.
"Om!" panggil Tania pelan.
Namun Pras tidak menjawab ,dia masih sibuk dengan handphone nya, dana Tania pun mengulang panggilannya.
"Om, Tania sedang bicara!" kali sedikit lebih keras.
Pras melirik ke arah Tania, menatap nya sesaat, namun masih tidak bicara.
"Kapan Om akan kembali keluar negeri?"
Dan ternyata pertanyaan Tania Kali ini berhasil membuat Pras, menyingkirkan handphone dari tangannya, dan menjawab perkataan Tania.
"Kamu mengusir ku?"
"Iya." jawab Tania santai.
"Ya sudah, kalau begitu besok kita kembali ke luar negeri."
"Kita?"
"Iya, kita."
"Enggak, Tania tidak ingin kembali kesana."
"Kenapa?"
"karena tempat Tania Disini."
"Ya sudah, kalau begitu kita akan tinggal disini."
"Om itu punya rumah, ini rumah Tania."
"Kita akan beli rumah lain, rumah kita berdua."
"Tapi Tania enggak mau kalau didatangi oleh itu mbak Tasya."
"Akita tidak perlu memberitahunya rumah kita."
"Tapi sepertinya dia punya seribu mata Om, apa Om lupa kalau rumah ini aja dia bisa tau."
"Itu hanya kebetulan."
"Tapi Om."
Pras mencondongkan tubuhnya ke Raha Tania, dan menutup mulut Tania dengan telapak tangannya. Tania pun mencoba melepaskan tangan Pras, dan karena kesusahan Tania pun menggigit tangan Pras.
__ADS_1
"Aduh!, apa yang kamu lakukan? kenapa menggigit tangan ku."
"Salah siapa, kenapa Om tiba-tiba menutup mulut Tania?"
"Apa kamu tidak jenuh memanggil ku dengan sebutan Om terus?"
"Lalu Tania harus panggil apa?, bukannya dari dulu juga Tania panggilnya Om." jawab Tania ketus.
"Aku itu bukan Om kamu, tapi suami kamu Tania." jawab Pras tanpa sadar.
"Sejak kapan Om menganggap diri Om itu sebagian suami Tania?"
"Bukan begitu Tan."
"Lalu seperti apa?"
"Sudah lah, lebih baik kita pergi jalan-jalan." ajak Pras mengalihkan pembicaraan.
Dan pras langsung bangun, sambil menarik tangan Tania untuk masuk kedalam.
"Cepat bersiap, kita akan jalan-jalan ke mall."
Setelah bicara begitu Pras langsung masuk ke kamarnya meninggalkan Tania Yanga masih terpaku ditempat nya.
Tania pun akhirnya ikut masuk untuk berganti pakaian, walaupun sebenarnya tania masih kesal.
Taka berapa lama keduanya keluar dari kamar dengan sudah berganti pakaian.
"Kita naik taksi saja ya!" ucap Pras.
"Terserah Om saja."
Ternyata Pras sudah memesan taksi, karena saat mereka keluar dari rumah, sebuah taksi pun berhenti di depan rumah nya Tania.
"Kita mau ngapain ke mall Om."
"Mau menginap." jawab Pras asal.
"Apaan seh Om, kan Tania tanya bagus-bagus."
"Habisnya kamu aneh, ke mall ngapain, ya belanja lah Tania."
"Maksud Tania , kita mau belanja apalagi? bukannya kita kemarin sudah belanja bnyak."
"Sudah kamu ikut aja, dan satu lagi tolong jangan panggil aku dengan sebutan Om."
"Lalu harus panggil apa, Tania bingung."
"Terserah, asal jangan Om."
"Ya sudah paman saja!"
Dengan kesal Pras menatap ke arah Tania, dia yakin bukan Tania tidak mengerti dengan maksud dirinya, karena Pras tau betul kalau Tania itu adalah gadis yang sangat-sangat pintar.
"Sekalian saja kamu panggil aku kakek."
"Oke baik, Tania setuju." sambil nyengir.
"Kamu mau aku tutup mulut kamu lagi?"
"terserah." jawab nya tak perduli.
__ADS_1
"Tapi kali ini bukan pakek tangan."
Tania menatap kearah Pras, dan saat itu Pras memberikan isyarat dengan menunjuk bibir nya, sontak Tania menutup mulut nya, menatap tajam ke arah Pras.
"Om jangan macam-macam, jangan mesum.Tania bisa berteriak sekuat-kuatnya.
"Silangkan saja, memangnya ada yang akan menangkap kita?" berbicara sambil menaik-turunkan alis nya.
Pak sopir yang sedang mengemudi pun terlihat tersenyum dari spion depan mobil, membuat Tania jadi salah tingkah.
Hari ini Pras memang membuatnya kesal, Tania pun memutuskan untuk duduk dengan benar, dan tak lagi mengajak Pras untuk bicara.
Setelah sekitar 30 menit perjalan, taksi yang mereka tumpangi pun berhenti disebuah showroom mobil, Pras langsung turun namun berbeda dengan Tania dia masih duduk ditempatnya.
Dia bingung kenapa pras turun disana ,padahal tadi Pras katanya akan mengajak nya ke mall.
Pras Yang melihat Tania masih belum turun, kembali mendekat ke arah taksi yang tadi dan membuka pintu nya.
"Apa kamu akan berada didalam taksi ini selama nya?" tanya Pras.
"Kenapa kita turun disini Om, tapi katanya kita akan ke mall?"
"Berhenti menyebut kata Om, atau Aku akan melakukan yang kukatakan tadi."
"Ayo turun!"
Tania Yang raya kalau Pras itu akan melakukan apa yang dia katakan, maka Tania tak lagi menjawab . Akhirnya dia ikut turun dan berjalan mengikuti Pras.
Mereka berdua masuk kedalam sebuah showroom mobil yang begitu luas.
"Sekarang pilih lah mobil mana yang kamu inginkan!" pinta trans?"
"Tania?" tanya tania kaget sambil menunjuk dirinya.
"Iya, apa ada orang lain di sampingku saat ini?"
"Tapi Tania tidak butuh mobil."
"Tapi kita perlu mobil untuk kemana-mana."
"Kan ada taksi."
"Udah, jangan banyak bertanya, katakan saja kamu mau mobil yang mana."
Tania masih diam, sampai akhirnya seorang pekerja di showroom mobil itu menunjukkan sebuah mobil berwarna silver.
"Apa kamu suka yang ini?" tanya Pras.
"Terserah, Tania ikut aja."
Dan tanpa menunggu lama, Pras langsung menyelesaikan pembayaran mobil tersebut, karena dia memang ingin mengajak Tania ke mall.
Pras sudah berada di belakang setir, dan begitu juga dengan Tania sudah duduk manis disamping Pras.
Tania terlihat lebih banyak diam, bukan karena dia marah, tapi karena dia takut salah bicara.
"Kenapa kamu diam saja?"
"Tidak, Tania hanya tidak punya topik yang harus dibicarakan."
"Tumben, biasanya kamu selalu bawel."
__ADS_1
Tania hanya membalas dengan senyum, sebenarnya di paksakan seh!
Tania menatap lurus kedepan, pikirannya menerawang, akankah semua perhatian Pras hanya untuk sesaat ini saja?