
Siang itu Tania sudah berada dikediaman nya Pras ,yang saat itu sudah menjadi suaminya. Rumah Pras yang begitu mewah bahkan cocok dibilang istana menurut Tania.
Barang-barang Tania sudah diletakkan dikamar tamu, dan sudah ditata dengan rapi semua pakaiannya, dirumah itu terdapat tiga pembantu yang memiliki tugas yang berbeda.
Tania masuk ke kamar yang lebarnya mungkin bisa 5 kali dari kamar dirumah Tania yang dulu, namun tentu suasana nya berbeda,walaupun rumah kecil tapi Tania menemukan kebahagiaan disana.
Tania berjalan mendekat ke arah balkon kamar ,ternyata ad pemandangan yang indah yang bisa dilihat dari balkon kamar nya, Tania berjalan dan menyandarkan tubuhnya, menatap ke indahan negeri Paman Sam itu dari lantai dua rumah Pras.
Mencoba tersenyum, senyum getir yang ia paksakan saat itu, kehilangan sang ibu dan menikah dengan pria asing, begitu pelik nya hidup Tania rasakan.
Setelah menikmati pemandangan siang itu, Tania pun masuk kedalam untuk mandi dan membersihkan diri, dia mengambil baju santainya, ternyata begitu banyak pakaian yang disiap kan oleh tuan sanjaya untuk dirinya.
Tersenyum sendiri memikirkan kalau dia sempat salah paham terhadap tuan Sanjaya, dan bahkan sempat marah kepada tuan sanjaya didalam hati.
Setelah mengenakan longdres bunga-bunga berwarna pink muda, Tania pun turun kelantai satu , Tania memutuskan untuk menggunakan tangga saja, walaupun sudah disediakan lift dirumah itu.
Perlahan Tania turun dan menuju kedapur, tapi dia malah kebingungan Karena begitu luasnya rumah Pras sampai dia tidak tau dimana dapur itu berada, Tania celingak-celinguk mencari dapur, dia berniat untuk ikut membantu memasak.
Saat sedang kebingungan, seorang pembantu bernama bik Siti pun menghampiri Tania.
"Maaf nona, sedang mencari apa?"
"Eh bik, tania mau kedapur."
"Apa ada yang nona perlukan, biar saya ambilkan!"
"Tidak bik, Tania hanya ingin melihat-lihat saja."
"Hmmm, ya sudah non, nanti bibi antar berkeliling ,setelah makan siang ya, sekarang non ke ruang makan dulu, mari saya antar "
Bik Siti, merupakan pelayan kepala dirumah itu, dia terkenal baik dan juga paling dipercaya oleh Pras.
Dalam hati Tania begitu mengagumi desain rumah milik Pras, begitu indah dan rapi. Begitu juga ruang makan nya yang begitu luas, bahkan mungkin seluas rumah Tania dulu.
Tania masih berdiri ditempatnya, menatap meja makan yang penuh dengan makanan, Tania pun berpikir apakah akan ada tamu yang datang, sampai masak begitu banyak.
Karena penasaran Tania pun bertanya kepada bik Siti dengan masakan yang begitu banyak.
"Bik, apakah akan ada tamu hari ini?"
"Tidak nona, kenapa?"
"Bukankah yang tinggal disini cuma tuan Pras?"
"Iya nona, tapi memang setiap hari meja ini dipenuhi makanan."
__ADS_1
Bik Siti menjawab sambil tersenyum, dan meminta Tania duduk disalah satu kursi yang ada dimeja makan.
Sambil mengangguk tanda mengerti Tania pun duduk ditempat nya ,menunggu tuan rumah Prasetya itu datang, namun dalam hati Tania pun ngedumel, berarti rumah ini setiap hari buang makanan, apa dia tidak tau bnyak orang yang tidak bisa makan diluar sana.
"Selamat siang tuan!" Terdengar suara bik Siti menyapa tuannya.
Tania pun ikut mengarahkan pandangannya ke arah orang yang disapa. Dan tak ada jawaban , hanya tatapan saja, dalam hati Tania sungguh majikan yang sombong.
Pras saat itu langsung mengambil tempat yang berhadapan dengan Tania, dan terlihat bik Siti langsung mendekati Pras dan ingin mengambilkan makan siang untuk Pras, namun Tania menahan bik Siti.
"Sudah bik, biar Tania saja!"
"Tapi non!"
Tampa menunggu jawaban dari bik Siti, Tania pun langsung mengambilkan piring Pras, namun belum sempat nasinya masuk ke piring Pras, sibibik pun berbicara pada Tania.
"Non Tania,biar bibik ajarin dulu!"
Tania pun menurut menganggukkan kepala nya tanda setuju, Tania memperhatikan dengan begitu teliti, dan terlihat dia tersenyum ke arah bik Siti tanda sudah mengerti.
Namun pras seakan tak melihat insiden Yang ada didepan matanya, dia tetap santai dan langsung melahap makan siang nya, dan kali ini bik Siti berpindah ke samping Tania. samping Tania, namun Tania melarang nya karena dia bisa melakukan nya sendiri.
Bik siti pun berpindah ke samping Tania, untuk mengisi piring Tania, namun Tania melarang bik Siti Karena dia bisa melakukannya sendiri.
Keduanya makan dengan tenang tanpa ada yang bicara, namun Tania malah tidak enak karen hanya dia dan Pras yang makan sedang kan pelayan dirumah itu hanya berdiri menunggui mereka.
Walupun Tania berasal dari keluarga tidak mampu, namun Tania bukan lah gadis yang bodoh, dia cukup tau bagaimana kehidupan lain diluar sana. Bahkan tania juga tau bagaimana cara makan orang kaya.
Karena selama disekolah menengah atas Tania sering dibawa untuk mengikuti berbagai kegiatan Karena kepintarannya, hanya saja takdir hidup yang membuatnya berada di kehidupan berbeda dengan kawan-kawan nya.
Setelah makan siang selesai, Pras memanggil semua pelayan dan juga Tania keruang tamu rumah nya.
Tania menurut saja, dia tak bertanya ada apa dan kenapa mereka semua dikumpulkan.
"Tania masih berdiri dihadapan Pras, berdampingan dengan pelayan yang lain.
Saat itu Tania masih dengan santai menatap ke arah Pras, namun pria itu seakan tak perduli dengannya.
"Saya kumpulkan kalian semua disini untuk memperkenalkan gadis yang ada didepan saya, supaya kalian tidak bertanya-tanya."
Tak ada yang menjawab semua diam, seakan memang sedang menunggu lanjutan dari perkataan Pras, namun lain hal nya dengan Tania, dia tak perduli akan diperkenalkan dengan siapa, bisa saja dia diperkenalkan sebagai pelayan mungkin begitulah pikir Tania saat itu.
"Ini adalah Tania, dia saya bawa dari Jakarta Karena akan melanjutkan kuliah nya disini, Tania ini sepupu jauh saya, jadi tolong layani dia dengan baik."
"Iya tuan baik." Jawab bik Siti.
__ADS_1
Entah kenapa saat itu Tania merasakan kecewa saat diperkenalkan sebagai sepupu jauh dari Pras, padahal tadi dia Bahkan berpikir lebih jelek diperkenalkan sebagai pelayan.
Namun Tania masih diam, dia tak punya hak untuk bicara, diizinkan untuk melanjutkan kuliah saja adalah yang paling membahagiakan untuk nya.
Setelah Pras selesai bicara, semua pelayan pun bubar dari sana, begitu juga dengan Tania, namun belum sempat tania berjalan meninggalkan Pras sendirian , namanya pun dipanggil oleh Pras.Yang dipanggil langsung berhenti dan membalikkan tubuhnya ke arah pras.
"Saya ingin bicara dengan kamu!"
"Iya, katakan saja tuan."
"Jangan panggil saya tuan, kamu bukan pelayan rumah ini."
"Iya om!"
"Om?, Apa saya terlihat begitu tua sehingga pantas dipanggil om,,? Berapa umur kamu?"
"18 tahun."
"Apa? 18 tahun?"
"Iya om, saya baru berumur 18 tahun 7 bulan."
Pras memang saat itu terlihat begitu kaget, dia tak menyangka gadis yang dinikahinya tenyata masih terlalu muda, memang seharusnya dia pantas dipanggil om, bahkan umur mereka terpaut 12 tahun.
Tapi bukan Pras namanya kalau tak pintar menyembunyikan rasa terkejutnya. Pras pun bangun dan mendekat ke arah Tania.
"Kamu harus tau, siapapun yang datang kesini jangan pernah mengatakan kalau kamu itu istri saya, karena saya tidak pernah mengakui pernikahan kita, itu hanya pernikahan di atas kertas."
Tania menelan ludah nya, tenggorokan nya seakan tercekat saat itu, memang seharusnya tak penting untuk nya di akui ataupun tidak, karena dia dan Pras Memang menikah bukan karena cinta, bahkan tak saling kenal.
Tapi entah kenapa Tania Merasakan hatinya teriris, terikat dalam pernikahan yang hanya merubah status kebebasan hidup nya, namun Tania hanya diam dan tak memperlihatkan rasa kecewa apalagi sedih, dia masih diam mendengarkan apalagi yang akan Dikatakan Pras padanya.
"Dan satu lagi yang perlu kamu ingat, kalau saya tidak akan pernah mencintai kamu , saya mau membawa kamu kesini karena papa saya, jadi jangan pernah berharap lebih dari saya."
"Saya paham, Dan saya setuju untuk tidak mengakui hubungan apapun diantara kita."
"Dan kamu perlu tau, kalau saya memiliki kekasih ,dan Tasya biasa bebas datang kesini kapan pun dia mau, tutup mulut kamu, Dan jangan pernah bicara apapun pada Tasya, jangan pernah ikut campur urusan pribadi saya."
"Saya mengerti om, kalau begitu saya permisi."
Setelah itu Tania pun meninggalkan Pras sendirian, dia berpikir berarti Tania harus mengendalikan dirinya, melupakan pernikahan yang tak pernah di akui oleh
Pras.
Menepis semua perasaan kecewa, namun Tania bingung kenapa dia harus kecewa dengan penolakan Pras terhadap pernikahannya saat itu.
__ADS_1
Tania pun pergi ke kamar nya, menarik nafas panjang, ini baru awal dari kehidupan barunya, bagaimana kedepannya, akan kah semua lancar sesuai harapan tania?