
Pras masih setia menunggu disamping Tania yang masih memejamkan matanya, Pras terlihat khawatir, namun kenapa? Apa ada rasa sudah dihatinya terhadap Tania, namun Pras menyangkali itu untuk nya Hanya Tasya yang sangat dia cintai.
Sekitar jam sebelas malam, Tania mengerakkan jemarinya, dia tersadar dari pengaruh obat bius. Tania memegang kepalanya yang terasa sakit. Dia meringis kesakitan.
"Dimana saya?"
Pras yang baru ingin terlelap langsung terbangun dan memutar badannya ke arah Tania.
"Kamu sudah sadar?"
"Saya kenapa, Dimana saya?"
"Kamu sedang dirumah sakit, jangan banyak bergerak, tenang lah saya akan panggil dokter."
Pras menekan tombol penghubung keruangan dokter,agar segera datang dan memeriksa Tania.
"Selamat malam tuan!" Sapa dokter yang baru masuk.
"Selamat malam, tolong dokter lihat kondisinya, karena sepertinya dia merasakan sakit."
Dokter mendekat ke arah Tania dan memeriksa keadaan nya saat itu.
"Semuanya normal, mungkin itu hanya karena obat bius yang mulai hilang, saya akan suntikkan obat penghilang rasa sakit. Dokter pun menyuntikkan obat ke cairan infus Tania, Tania terlihat meringis kesakitan saat obat itu disuntikkan.
"Dokter, apa yang dokter lakukan sepertinya dia sangat kesakitan."
"Tidak apa-apa tuan, itu hanya reaksi dari obat nya, nanti setelah ini dia akan lebih tenang dan sakitnya bisa perlahan menghilang."
Pras akhirnya diam, dia tak ingin protes lagi, dokterpun terlihat meninggalkan ruangan rawat Tania, dan Pras Kembali mendekat ke arah Tania.
"Bagaimana apa masih sakit?"
"Tidak."
"Kamu kenapa tidak bilang sama saya jika ingin ke kantor?"
Tania terdiam, ya dia ingat setelah Pras menyebut kantor, bahkan semua kejadian dia ingat smpai tiba-tiba sebuah mobil menghantam dirinya.
Tania terdiam, dia tak ingin membahas hal apapun, dan seandainya saja dia mengatakan yang sebenarnya yang ada Pras akan menertawakan drinya karena memiliki perasaan lebih padanya ,padahal dia sudah diingatkan berkali-kali kalau Pras hanya mencintai Tasya.
"Kenapa diam?"
Tak ada jawaban yang diberikan oleh Tania dia Hanya diam, dan membuang pandangan ke arah lain. Pras yang melihat itu pun merasa salah bertanya, tapi Pras juga bingung kenapa tiba-tiba tania pergi dalam hujan deras.
Tapi saat ini Pras tak ingin bertanya apapun, Karena dia tidak ingin Tania banyak berpikir dulu, setelah hening sesaat Tania pun bertanya pada pras.
"Dimana kak Al?"
"Dirumah nya."
"Apa terjadi sesuatu pada nya?"
"Tidak, dia pulang Karena mobilnya masih tertinggal dijalanan."
"Lalu kenapa Om berada disini?"
"Saya yang menjaga kamu disini."
"Saya tidak apa-apa, jadi tidak masalah jika om ingin pulang kerumah."
"Tidak, saya akan menjaga kamu malam ini, dan besok baru bergantian Dengan bik Siti."
"Sudah om pulang lah istirahat, Tania bisa semuanya sendiri, jadi Om jangan khawatir."
"Lebih baik kamu istirahat, jangan banyak bicara."
Tania mencoba untuk bangun ,namun kepalanya begitu sakit, Tania meringis memegangi kepala nya. pras langsung mendekat kearah Tania melihat Tania yang kesakitan.
"Kan sudah saya bilang jangan banyak bergerak, kamu harus tidur dengan tenang, kepala kamu baru selesai di operasi."
__ADS_1
Operasi? Berarti kecelakaannya tadi lumayan parah, Tania mencoba mengingat apa yang terjadi, namun kepalanya masih terasa begitu sakit.
"Tania ingin pulang saja kerumah!"
"Kalau dokter sudah membolehkan pulang kamu bisa pulang, istirahat lah!"
Membaringkan lagi tubuhnya dengan benar, mencoba memejamkan mata namun susah untuk Tania tidur, namun rasa sakit nya mulia terasa menghilang, mungkin karena obat yang disuntikkan dokter tadi mulai bekerja.
Pras, menatap ke arah Tania yang tak lagi bicara, Pras saat itu berpikir apa yang sebenarnya terjadi, kenapa Tania tiba-tiba seakan begitu marah dengan dirinya? Bukannya ini bukan yang pertama kali Tania tau apa yang dilakukannya dengan Tasya.
Pras tak ingin menebak-nebak ,dia pun berjalan ke sofa yang ada diruangan itu dan mencoba merebahkan tubuhnya. Pras pun tertidur karena kecapean.
Keesokan paginya, Tania ternyata sudah bangun, dan suster sudah membantunya untuk ke kamar mandi, karena Pras masih terlelap dalam mimpinya.
Bik Siti sudah datang untuk menemani Tania pagi itu, karena pasti Pras harus ke kantor.
"Apa tuan sudah berangkat?"
Tania tak memberikan jawaban hanya mengarahkan pandangannya ke arah Pras, bik Siti hanya geleng kepala melihat tuannya yang sepetinya sangat mengantuk.
"Sepertinya tuan sangat mengantuk!"
"Hmmm!"
"Bagaimana keadaan non, apa sudah lebih baik,?"
"Iya bik" jawab Tania pelan, saat itu tania sudah bersandar ditempat tidur setelah dibantu oleh suster.
Bik Siti menarik kursi dan mendekat ke arah Tania, menyentuh tangan tania,dan tersenyum ke arah nya.
"Non, apa ada yang ingin non ceritakan?"
Tanya bik Siti kepada tania yang saat itu terlihat murung, bik Siti yakin itu bukan karena kepalanya yang sakit, karena pasti ada sesuatu yang terjadi sampai Tania mengalami kecelakaan ,bahkan hujan-hujanan.
Menatap ke arah bik Siti, namun belum mengatakan apa pun, tapi mata Tania berkaca-kaca, tak kuasa rasa hatinya saat itu mengingat apa yang terjadi, padahal ini bukan yang pertama kali Tania tau kalau Pras tidur dengan Tasya.
Bik Siti yang tau nona nya sedang tidak baik-baik saja pun bangun dan mendekat ke arah Tania, Tania memeluk tubuh bik Siti menyandarkan kepalanya ke bahu bik Siti, rasa sakit dikepalanya tidak sebanding dengan rasa perih dihatinya saat itu.
"Bik, Tania ingin pulang kejakarta saja bik, Tania ingin tinggal disana saja."
"Bukannya non sudah Senang tinggal disini bersama tuan?"
"Bik, tidak ada gunanya Tania disini,Tania ingin kebebasan dan bisa memilih jalan hidup sendiri bik."
"Non ,saat ini kan non sudah bahagia, non sudah punya kehidupan yang layak, seorang suami juga kan?"
"Tapi bik, Tania hanya manusia biasa, tidak akan sanggup Tania melihat Pras dan Tasya bik."
"Non, Bibik paham tapi apa yang sebenarnya terjadi, apakah saat ini non sudah menerima pernikahan non dan tuan."
Tania diam, kepalanya sakit karena menangis, dia meringis kesakitan, bik Siti pun panik , dan langsung menekan tombol penghubung ke ruangan dokter.
Pras yang sebenarnya sudah bangun dari tadi dan berpura-pura tidur pun bangun melihat bik Siti yang panik, dan mendekat ke arah mereka, ternyata tubuh Tania terkulai lemas.
"Non Tania ,non kenapa?"
"Apa yang terjadi bik?"
"Saya juga tidak tau tuan, sepertinya non jatuh pingsan."
Dokter pun masuk dan mendekat ke arah Tania, dan melihat Tania yang pingsan dokter langsung meminta Pras dan bik Siti menjauh, mereka mengambil tindakan untuk Tania.
Pras berdiri tak jauh dari sana, dan dokter mulai memeriksa keadaan Tania yang ternyata memang pingsan.
"Bagaimana keadaan nya?"
"Maaf tuan, sepertinya kondisinya masih belum stabil, jangan biarkan dia berpikir dulu, biarkan dia rileks agar tidak terjadi sesuatu pada luka operasi nya."
"Iya dokter , terimakasih dokter!"
__ADS_1
"Iya tuan, kalau ada apa-apa langsung hubungi kami."
Setelah dokter keluar ,Pras masih terdiam ditempatnya, ada rasa bersalah dihatinya, karena ternyata dirinya dan Tasya lah yang membuat Tania menjadi seperti ini.
"Tuan, kalau tuan ingin ke kantor, silah kan saya sudah bawakan baju tuan."
"Tidak bik, sepertinya saya tidak akan ke kantor hari ini ,karena kondisi Tania sepertinya mengkhawatirkan."
"Ya sudah tuan, terserah tuan saja,ini baju tuan."
Bik Siti menyerahkan sebuah Tote bag kepada Pras, Pras pun mengambilnya dan keluar dari sana untuk membersihkan diri dan mengganti bajunya.
Bik Siti saat itu menatap ke arah Tania,bik siti sudah paham pasti begitu besar luka yang dirasakan Tania, melihat suaminya bersama wanita lain.
Namun ,semua sudah seperti ini jalan nya, Ada rasa dihati Tania untuk Pras, namun itu membuatnya terluka.
Bik Siti menarik nafas berat, dia begitu prihatin dengan kehidupan Tania, sepertinya begitu besar beban Gadis dihadapannya itu.
Tak berapa lama Pras sudah kembali, namun dia tak menggunakan baju yang dibawa bik Siti, tapi Hanya mengenakan baju kaos oblong berwarna hitam dan celana jeans, karena Pras tidak jadi ke kantor.
"Bagaimana kondisi nya?"
"Dia masih belum sadar tuan, mungkin karena pengaruh obat dari dokter."
"Ya sudah bik Siti apa sudah sarapan?"
"Sudah tuan, apa tuan ingin sarapan?"
"Tidak bik saya masih belum lapar, kalau bibik ingin pulang silahkan saja, biar saya yang menjaga Tania."
"Tidak tuan, saya ingin menunggui non Tania, bibik khawatir kalau dia terbangun nanti, sepertinya non Tania sedang menyimpan sesuatu Masalah tuan."
Pras akhirnya tak memaksa bik Siti untuk pulang, karena sepertinya Tania memang merasa nyaman bersama bik Siti, Pras lalu pergi ke kantin untuk sarapan pagi.
Diruangan Tania, bik Siti begitu khawatir dengan keadaan Tania saat itu, tadinya dia bersyukur kedua majikannya sudah mulai dekat, namun ternyata malah seperti ini.
Saat sedang menunggui Tania, seseorang datang keruang rawat Tania, bik Siti sedikit kebingungan karena tidak pernah melihat orang yang saat itu datang.
"Maaf, anda cari siapa?"
"Maaf Bu, saya ingin menjenguk Tania."
"Anda siapa?"
"Saya teman kampusnya Tania, kebetulan malam itu saya ada disana dan ikut mengantar Tania kerumah sakit, perkenalkan Bu saya Al."
Al mengulurkan tangan dan mencium tangan bik Siti, dia memang tidak tau siapa wanita dihadapannya, tapi menurutnya itu mungkin kelurga Tania, karena sedang menunggui Tania yang sedang sakit.
"Bagaimana keadaan Tania setelah operasi Bu?"
"Ya, begitu sempat sadar namun kembali pingsan, Oya nak Al jangan panggil saya ibu, panggil saja bik Siti, saya pelayan dirumah Tania."
"Berarti juga tinggal dirumah om nya Tania?"
"Iya nak Al."
"Saya sedikit bingung bik, sebelum kecelakaan saya sempat mengantar Tania dari kampus menuju ke kantor Om Pras,Karena Tania takut kalau om Pras menjemputnya ke kampus."
"Berarti non Tania tidak dijemput tuan?"
"Iya bik,dia sudah menunggu lama, dan akhirnya saya antar ke kantor, dan saya langsung pulang karena juga ingin ke bengkel, tapi sayangnya saat saya bertemu Tania dia sedang hujan-hujanan dan sambil menangis."
"Apa tuan juga ada disana?"
"Iya bik, saat saya ingin mengantar Tania pulang, tiba-tiba om Pras datang dan meminta saya pergi dari sana."
Al pun menceritakan semuanya sampai tiba-tiba tania ditabrak oleh mobil yang sedang dikendarai dalam hujan deras.
Bik Siti pun terdiam, dia berpikir pasti ini ada hubungannya dengan Tasya, karena saat sadar Tania sempat menyebutkan nama Tasya dan Pras saat itu, namun bik Siti diam tidak mungkin dia mengatakan hal apapun pada Al.
__ADS_1
Bik Siti diam, memikirkan bagaimana nanti akhir dari hubungan Tania dan tuan Pras? Akan kah sebulan yang diberikan tuan Sanjaya akhir dari pernikahan yang tak pernah mereka rencanakan?