Terjebak Di Dua Pilihan

Terjebak Di Dua Pilihan
Rencana resepsi pernikahan


__ADS_3

Pras sudah mempersiapkan semuanya selama Tania di rumah sakit, walaupun semuanya tanpa sepengetahuan Tania, Pras juga sudah mengurus perpindahan sahamnya yang di Amerika ke Bandung, dia tidak ingin membawa Tania keluar negeri.


Karena Pras tau Tania lebih nyaman tinggal di Indonesian.


setelah Tiga hari Tania berada di rumah sakit akhirnya ras pengamatannya pulang ke rumahnya, Pras yang mengurus semua kebutuhan Tania , karena memang di rumah itu tidak ada pembantu rumah tangga.


Dan Pras sama sekali tidak keberatan melakukan hal itu, dia begitu memperhatikan Tania , agar bisa cepat pulih dan mereka bisa melakukan resepsi pernikahan.


Walaupun saat ini Pras belum menceritakan niatnya lakukan resepsi pernikahan dan pindah ke daerah lain kepada Tania, Namun Pras akan membujuk Tania untuk setuju dengan apa yang sudah direncanakan olehnya dan papa.


Pagi itu, perban di kepala Tania sudah dilepas, Pras pun berniat untuk bicara dengan Tania akan semua rencananya.


"Sayang!" panggil Pras.


Tania hanya mengalihkan pandangannya, Karena dia sejujurnya Tania merasa aneh dengan panggilan Pras kepada nya, karena selama ini Pras tidak pernah memanggilnya dengan kata sayang.


"Mas ingin bicara." ucap Pras lagi.


Pras memang terlihat kaku dengan cara bicaranya, namun Tania melihat pras sedang berusaha merubah semuanya.


"Apa kamu ingin istirahat?" tanya Pras ragu-ragu.


Karena Pras melihat Tania hanya diam dan tak bicara apapun.


"Tidak mas, Tania hanya ingin duduk disini."


"Sepertinya ada yang serius."


"Tidak juga." jawab Pras terlihat kikuk.


"Mas kenapa? kalau ingin bicara katakan saja."


"Tan."


"Hmmm."


Tania menatap ke arah Pras dengan tatapan menyelidik, apalagi Tania tau bagaimana Pras, pasti ada hal yang penting, begitulah yang ada dipikiran Tania.


"Biara saja mas, kalau memang ada yang penting."


Pras menarik nafas berat, sebnarnya dia bukan takut untuk bicara dia hanya takut kalau Tania menolak keinginan nya.


"Bicaralah , Tania sudah baik-baik saja." ucap Tania .


mencoba meyakinkan Pras untuk bicara kepadanya , karena jujur saja Tania juga penasaran dengan apa yang ingin disampaikan Pras kepada nya.


Pras bangun dari duduk nya, dan tiba-tiba berlutut dihadapan Tania sambil menggenggam jemari Tania. Tentu saja Tania kaget melihat Pras begitu.


"Mas apa yang anda lakukan, ayo duduk di atas!" pinta Tania.


"Tan, biarkan mas disini."


Dan Tania pun terdiam, tatapan itu membuat hatinya luluh, "Begitu tampannya suami ku." ucap Tania dalam hati.


Bahkan Tania saat itu tersenyum, menyapa ke arah Pras, Dia mengagumi pras dalam diam, kenapa tidak Pras yang memiliki perawakan seperti bule itu ,terlihat semakin tampan dengan sikap manis nya saat itu.


"Tania!" panggil Pras.

__ADS_1


Namun Tania masih larut dalam lamunan nya. Dan Pras yang Heran melihat Tania pun bangun dan mendekat kan wajahnya ke hadapan Tania, sambil memanggil namanya.


Sontak Tania kaget, apalagi begitu melihat wajah Pras berada tepat dihadapannya, Tania Pun jadi salah tingkah dibuat nya.


"Mas, kenapa mengagetkan Tania?"


Pras pun sudah kembali ke posisinya semula, dia hanya tersenyum menatap ke arah Tania.


"Bukan mas yang kaget kan, tapi kamu yang melamun.


"Siapa yang melamun."


"Istri tetangga." jawab Pras asal.


Tania pun terlihat kesal, dan memanyunkan bibirnya ke arah Pras, tentu saja Pras langsung menggodanya.


" Kamu kenap manyun-manyun gitu, apa mau?" Pras menahan perkataan nya.


Dan Tania yang melihat tatapan Pras terhadap dirinya, tentu saja dia langsung merubah ekspresi nya.


"Sudah , mas katanya mau bicara?"


"Iya ,ini penting."


"Ya sudah bicara lah!"


"Mas duduk di atas saja, apa mas tidak capek berlutut terus?"


"Tentu saj tidak, yang penting mas bisa melihat wajah kamu."


Sontak dong, kata-kata sederhana dari bibir Pras berhasil membuat Tania kembali salah tingkah.


"Kamu lapar?"


"Tentu saja."


"Tapi kamu baru siap sarapan."


"Iya mas, tapi kan namanya juga masih sakit." jawab Tanak ngeles.


"Kalau begitu kita pesan makanan dulu."


"Kenapa pesan makana?"


"Kan masakan mas tadi masih ada."


"Biara kamu bisa pilih apa yang kamu mau."


Niat hati ingin mengalihkan pembicaraan malah ditanggapi serius oleh Pras, Alhasil Tania menurut dan memesan cemilan melalui aplikasi online.


Karena Pras tidak ingin membawa Tania keluar dari rumah, yang pertama karena Pras khawatir akan bertemu Tasya, dan juga karena kondisinya yang masih belum sehat.


"Sekarang mas bisa bicara sambil kita menunggu makanan datang!" pinta Tania.


Pras pun diam sesat, meyakinkan dirinya kalau dia pasti bisa meyakinkan Tania untuk setuju dengan rencananya, apalagi semua sudah dipersiapkan.


"Sayang, mas ingin bicara masalah pernikahan kita."

__ADS_1


Tania masih menatap ke arah Pras, namun belum memberikan komentar apapun.


"Kita sudah lama menikah, Dan pernikahan kita Hanay diketahui oleh Papa saja."


"Mas ingin semua orang tau kalau mas telah menikah."


"Bukannya dari pertama kita menikah semua orang sudah tau kalau mas sudah menikah." jawab Tania.


"Iya mas tau, tapi mereka tidak pernah melihat siapa wanita yang telah menjadi istri mas."


"Tapi itu bukan masalah, yang penting mas masih tau istri mas yang mana " jawab Tania asal.


"Iya mas tau itu, tapi mas ingin semuanya tau kalau kamu adalah istri mas yang sah."


"Danil, Al dan semua lelaki yang mencoba mendekati kamu."


Tania tersenyum, dia melihat ada aura kecemburuan disana, namun Tania menepis pikiran itu, dia tidak ingin berharap apapun dulu ,sebelum Pras memberikannya kepastian.


"Mas cemburu?" Tania mencoba menggoda Pras.


"Tidak." jawab Pras singkat.


"Ya sudah, kan tidak akan jadi masalah kan?"


Tania tersenyum ke arah Pras, dengan menaik-turunkan alis nya, Pras yang biasa selalu tersulut emosi, namun sekarang sudah terlihat tenang dan hanya membalas senyuman istrinya.


"Jadi bagaimana, apa kamu setuju?"


"Terserah mas aja, kalau mas merasa sudah siap pernikahan kita diketahui banyak orang, tidak ada alasan untuk Tania menolak."


"Kalau begitu resepsi akan dilaksanakan Minggu depan."


"Papa sudah persiapkan semuanya."


"lalu kenapa mas harus bertanya lagi?"


"Mas hanya ingin mendengar persetujuan dari kamu."


"Bagaimana kalau Tania tidak setuju?"


"Ya kita akan batal kan."


"Mas yakin?"


"Tentu saja, mas sudah janji akan melakukan apapun untuk kebahagiaan kamu."


"Tumben suami ku ini jadi sweet gini." ucap Tania.


Sambil refleks kedua telapak tangannya memegangi kedua pipi Pras, keduanya saling tatap, Pras bagai dihipnotis oleh kecantikan istrinya saat itu, begitu juga dengan Tania.


keduanya larut dalam tatapan masing-masing, Sampai akhirnya suara dering handphone Pras, membuyarkan acara tatap menatap itu.


Pras meraih handphone nya yang ada di atas meja, ternyata papa nya yang menelpon.


"Siapa mas?"


"Papa."

__ADS_1


Pras mengangkat telpon dari papanya, yang ternyata saat itu ingin memberitahukan Masalah persiapan resepsi pernikahan yang telah selesai.


Pras terlihat menyunggingkan senyum nya, akan kah semua berjalan sesuai harapan mereka?


__ADS_2