Terjebak Di Dua Pilihan

Terjebak Di Dua Pilihan
Ketakutan Ku saat ini


__ADS_3

Aku berdiam diri didalam kamar pagi itu, tak ingin keluar apalagi bertemu om pras, berdiri dibalkon kamar menatap kehalaman rumah dari lantai dua, berharap mobil yang biasa dipakai om Pras akan pergi ke kantor.


Namun sudah hampir dua jam Aku berdiri di balkon belum ada tanda-tanda kalau mobil akan pergi, jam terus saja berputar dan sudah hampir jam sebelas siang, aku harus ke kampus, tidak mungkin aku bolos baru sehari aku kuliah.


Ku ganti pakaian ku dan turun ke bawah Untuk ke kampus, aku berjalan dengan malas nya, aku sudah tidak punya semangat lagi untuk pergi kuliah.


Dan aku pun berjalan dengan cepat melewati ruang tamu dan ternyata diteras malah ada orang yang saat itu tidak ingin aku jumpai.


"Kamu mau kemana?"


"Mau kekampus, hari ini kelas siang."


Karena tak ada lagi jawaban, aku pun pergi ke garasi mobil untuk berngkat kuliah dan tak ada larangan atau apapun, jadi Aku berpikir saja kalau masih boleh menggunakan mobil tersebut.


Hari ini aku akan belajar dikampus sampi sore, mungkin itu lebih baik, aku tidak akan bertemu Om Pras sama sekali, karena pasti dia akan ke kantor.


Setelah kuliah selesai Aku langsung pulang kerumah, aku ingin tidur dan istirahat, mata ku lelah ,karena lama menangis.


Setelah memarkirkan mobil aku pun menarik nafas panjang, aku bersyukur karena mobil Om Pras tidak ada di garasi.


Aku pun berjalan setenga berlari , masuk kedalam rumah.


Namun begitu kaget nya aku, disana ada yang lebih kutakutkan dari seorang Om Pras, Tuan Sanjaya.


"Tu tuan!" Ucap ku tergagap.


"Tania, kenapa masih memanggil saya Tuan, panggil saya papa!" Jawab nya didepan semua pelayan dirumah itu.


Aku diam, dan kulihat ada dua orang pelayan,buang saat itu saling pandang, kecuali bik Siti yang sudah tau kalau aku adalah istri dari Om Pras.


Aku pun berjalan mendekat ke arah tuan Sanjaya, dan mencium punggung tangannya, aku melihat tuan sanjaya tersenyum, senyum yang mungkin sangat mahal harganya, karena belum pernah Akau melihat nya sejak bertemu.


Aku berjalan sedikit menjauh,mengedarkan pandangan ke segala arah dirumah itu namun aku tetap tak menemukan Om Pras, dimana dia, apa dia yang meminta papa nya datang untuk apa yang sudah ku lakukan padanya.Dan sekarang kemana dia pergi, aku mulai pucat pasi, aku takut apa yang kupikirkan malam tadi akan terjadi, kalau aku akan berpindah rumah ke jeruji besi?


Aku meremas jemari ku saat itu, begitu gugup, namun aku mencoba untuk tegar dan akan menerima apapun keputusan mereka berdua.


"Tania, Dimana Pras?" Pertanyaan tuan Sanjaya membuyarkan lamunan ku saat itu.


"Saya Tidak tau tuan, karena baru pulang kuliah." Jawab ku dengan suara bergetar.

__ADS_1


"Apa Pras tidak bilang mau kemana?"


Belum sempat aku membuka mulut untuk menjawab, bik Siti pun yang tau Aku sedang ketakutan memberikan jawaban walaupun tak diminta.


"Maaf tuan kalau saya lancang, tuan Pras tadi keluar sebentar, katanya sedang ada keperluan."


"Berarti Pras bukan kekantor?"


"Tidak tuan, hari ini tuan Pras tidak ke kantor, Karena ingin istirahat."


"Kamu Tania kekampus dengan siapa, kenapa kamu tidak minta di antar Pras, Pras itu suami kamu."


"Maaf tuan, eh papa karena Tania ke kampus menyetir sendiri."


"Menyetir?"


"Iya."


"Berarti kamu punya banyak kemajuan sudah bisa menyetir padahal baru sebulan kamu disini."


"Iya saya dikursuskan menyetir, supaya bisa lebih mandiri."


"Iya, kalau begitu saya permisi."


Aku pun berjalan seperti setengah berlari, karena memang dari sejak tadi aku ingin lari dari hadapan tuan Sanjaya, lutut ku saja bergetar, tapi yang Aku herankan tuan Sanjaya tidak bertanya tentang pertengkaran aku dan Om Pras.


Dan sepertinya dia juga tidak sedang marah, apa tuan Sanjaya datang sendiri ke rumah om Pras ini, dan ada hal apa sebenarnya.


Aku menyimpan tas ku,diatas meja belajar, dan secepatnya mandi dan berganti pakaian ,karena takut kalau tuan Sanjaya meminta ku untuk turun dan makan malam.Setelah selesai berbenah buku-buku yang tadi kubawa ke kampus Aku pun turun kelantai satu, dan kebetulan sekali, mobil om Pras pun terdengar memasuki garasi, aku bersyukur berarti kami akan menghadapi semua kesalah pahaman ini bersama-sama Agar tak ada lagi rahasia.


Om Pras yang baru masuk Sama kaget nya dengan Aku saat pulang dari kampus, namun kali ini bukan dia yang ditatap tuan Sanjaya, tapi dia yang menatap ku tajam.


Apa lagi ini? Apa dia berpikir kalau Aku yang meminta papa nya datang? Aku kembali bicara pada diriku sendiri, Aku menundukkan kepala ku tak Berani menatap keduanya.


"Pras, kamu dari mana baru pulang jam segini?"


"Saya ada keperluan tentang kantor."


"Apa kamu kekantor?"

__ADS_1


"Tidak, Hanya bertemu klien di luar."


"Kalau begitu, besihkan diri kamu dan kita makan malam, papa ingin bicara sebelum kembali ke Yordania."


Om Pras meninggalkan ruang tamu, namun tak ada kehangatan di antara ayah dan anak itu padahal keduanya sudah lama tidak bertemu, mereka berdua terus berbicara se akan tak saling kenal, tatapan dingin dan datar,membuat Aku semakin takut saja.


"Sekitar pukul 07.00 malam, kami semua sudah berada dimeja makan, Aku melihat ke arah bik Siti yang saat itu memberikan isyarat supaya mengisi piring mertua dan suaminya, sepertinya bibik sedang meminta ku untuk menyembunyikan apa yang terjadi, tapi aku malah bingung, namun Aku tetap bangun dan mendekati piring tuan sanjaya.


"Papa Mau makan apa, biar saya ambil kan?"ucapa ku, namun ucapan ku sempat membuat om Pras menatap ku tajam, apa dia marah karena panggilan papa itu Aku sebutkan untuk orang tuanya.


Aku Pun berpindah ke samping om Pras, dan bertanya apa yang ingin dia makan, namun kata terserah yang kudapat.


Aku pun mengisi piring om Pras, dengan makanan yang sering dia pilih untuk di makan saja, aku kembali duduk dan mengisi piring Ku sendiri, sesaat suasana hening, tak ada yang bicara dimeja makan.


Setelah selesai dan bik Siti segera membereskan meja makan, aku ingin membantu, namun aku melihat lagi gelengan kepala dari bik Siti tanda kalau Aku tidak perlu membantu, aku pun menurut, aku takut kalau tuan Sanjaya akan marah dengan bik Siti dan Yang lain.


Setelah selesai makan malam, aku pun ikut duduk diruangan tempat biasa digunakan untuk menonton, namun disana, hanya tuan Sanjaya yang menatap lurus ke layar televisi, namun Aku yakin saat itu om Pras sama dengan ku pikiran kami menerawang entah kemana.


"Pras, Tania, papa ingin bicara serius."


Aku dan Om Pras bersamaan mengalihkan pandangan kami kearah tuan sanjaya, Namun Kami masih bungkam Tak ada yang bicara.


"Papa besok akan kembli ke Yordania, tapi papa ingin membawa beban ini bersama papa."


Aku masih diam, dan mendengar kan apa sebenarnya yang ingin di sampaikan Tuan sanjaya.


"Pras!" Menatap ke arah om pras yang saat itu berada disamping nya.


"Maaf kan papa, mungkin saat ini kamu sedang marah dan membenci papa, tapi apa yang papa lakukan semuanya demi masa depan kamu, hanya kamu dan kakak kamu yang saat ini papa punya."


Om Pras persis seperti patung batu, diam tak menjawab, bahkan tak ada reaksi apapun disaat itu, "memang lah mahluk dingin seperti es batu mana bisa dia memperlihatkan ekspresi nya" Aku terus mengupat dalam hati melihat sikap Om Pras.


" Seandainya saat ini kamu membenci papa ,papa sangat paham dengan perasaan kamu."


Aku menatap ke arah tuan Sanjaya, selama aku bertemu dengannya belum pernah kulihat sisi lain dari tuan Sanjaya yang saat ini kulihat, aku bisa merasakan wajah itu penuh dengan beban dan kesedihan, tak seperti wajah yang aku jumpai selama ini , seakan tak memiliki perasaan.


Namun apa sebenarnya yang ingin tuan sanjaya katakan kepada kami, aku bertanya-tanya dalam hati akan hal itu, apakah rahasia yang tuan Sanjaya


sembunyikan sebenarnya?

__ADS_1


__ADS_2