Ternyata Suamiku Tampan

Ternyata Suamiku Tampan
Ingin di kunjungi


__ADS_3

Perjalanan pulang dari pasar ke rumah kakek, bahkan dari rumah kakek kerumah Dinata. Max dan min kelelahan membujuk Dinia, semua karena ulah mereka yang menendang Usman melayang sampai lima meter, Bahkan wanita kesayangan tuan muda mereka menyumpahi mereka berdua.


“Karma berlaku.”..


Dengan artian, apa yang mereka lakukan kepada Usman tadi akan di balas oleh yang maha kuasa.


Dinia dengan segala perasaan sedihnya memejamkan mata selama perjalanan. bahkan ia tidak tahu kalau mereka sudah tiba di rumah suaminya.


_______________________________________________


Keadaan di rumah Dinata, Sean baru saja kembali dari perusahaan, tapi tidak menemukan Istrinya yang sedikit bodoh itu di sana.


lantas pria itu bertanya kepada Kepala pelayan.


“Pak Prem, Dia belum kembali!?”


“Belum tuan, tapi saya sudah menghubungi max agar membawa Nona cepat kembali.” jawab Prem.


“Seharusnya kau melakukan itu dari siang tadi.” ujar Sean sedikit kesal. entah kenapa setiap kepulangannya, dia ingin sekali melihat Dinia menyambutnya. Mengerjai wanita itu di setiap kesempatannya–tentu ia sangat senang dengan itu bukan.


“Maafkan saya tuan.”


“Sudahlah, suruh dia menemui Ku di kamar.” ujar Sean lalu melenggang pergi.


“Baik.”


Prem menatap Ham yang juga akan segera pulang, seraya berkata.


“Anda tidak marah kan Tuan Ham,” Tanya Prem kepada Sekertaris tuan mudanya.


“Untuk apa aku marah, Aku tahu bagaimana susahnya berada di posisimu, menjaga nona bukanlah perihal mudah.


aku akan menunggu sampai mereka kembali.” Ujar Ham, lalu duduk diatas Sova sambil membuka gadgetnya.


”Terimakasih tuan Ham.”


“Terimakasih juga pak Prem.” keduanya duduk di sova yang sama sambil menunggu kedatangan Dinia yang terlalu lama.


Titt tittt.


klakson mobil terdengar di sana, membuat kedua pria itu melangkah keluar.


“Nona anda kemana saja.” tanya Prem panik.


“Ke rumah kakek ku, dia sedang sakit.” Jawab Dinia.


“Astaga, jadi bagaiamana keadaan kakek anda sekarang?”


“Kakek sudah mendingan, itulah sebabnya aku pulang malam, seharusnya tidak ada yang murka bukan.” Ujarnya menohok sambil melirik kearah Ham.


Ham hanya diam, ia merasa di sindir oleh nona mudanya, memang dia sudah memaki-maki Max dan Min tadi meminta Agar kedua pengawal itu membawa pulang nona muda mereka. tapi apalah daya, kuncinya ada pada Dinia, jika ia tidak ingin pulang Max dan Min bisa apa.


“Nona, Tuan besar ingin Anda menemuinya, sebelum anda tidur.” ujar Prem yang berjalan mengikuti Dinia.

__ADS_1


“Baik, tapi aku ingin mandi sebentar, kau tidurlah aku akan menemuinya nanti, suruh Bibi Del datang ke kamarku pak Pretttt.”


“Baik nona.”.


Dinia dan Prem memasuki rumah, Meninggalkan Ham dan kedua pengawal wanita.


“Jangan lupa kalian dalam pengawasanku, Seharusnya kalian bisa menolak saat Nona memerintahkan ini itu, kalian seorang pengawal atau sahabatnya.”


“Dua duanya tuan.” sahut Min.


Ham memdengus kasar, saat mendengar jawaban itu.


“Kalian harus menjaga jarak, Ingatlah nona Adalah atasan kalian, jangan melakukan hal-hal yang mensejajarinya atau tuan muda akan sangat marah.”


“Tapi tuan Ham, nona muda sangat pandai merayu, membuat kami tergoda untuk melakukannya.” sahut Min lagi dengan polosnya.


Brukkk.


Ham menendang betis Min, membuat wanita itu jatuh ke ubin, begitu juga dengan Max.


"Jangan menjawab saat Dia sedang bicara, apalagi diambang kemarahan. nanti kau yang akan habis." Bisik Max kepada Rekannya.


Min pun sadar telah melakukan kesalahan.


“Maaf Tuan Ham.” Min menguncupkan tangannya.


“Jangan memohon padaku,


Kalian berdua pulanglah, aku tidak ingin terus-terusan mendisiplinkan, kurasa kalian sudah paham ketentuan saat kalian melakukan tes masuk menjadi pengawal.”


“Pulangalah,”


“Baik tuan Ham. terimakasih.”


______________________________________________


"Selarut ini kenapa kakek tua itu belum juga tidur.


dia terlalu sehat rupanya."


Grutu Dinia.


“Tuan besar kan tidur sepanjang hari nona, jadi beliau kesusahan tidur di malam hari.” jawab Del, membela seseorang itu.


“Kakek tua macam apa itu, dia tidak menjaga kesehatan, mentang-mentang dia kaya dia bisa berbuat seenaknya–dengan tidak menjaga kesehatannya. dasar tidak tahu diri, sudah tua makin menjadi.” Dinia membuka kamarnya, berjalan menuju kamar kakek tua yang setatusnya adalah Suaminya.


krekk


Dinia membuka pintu, memandang pria sepuh di atas tempat tidur, sedang menatap genit kearahnya.


“Istri ku, kau datang.” ujar Sean di barengi seringai.


Jangan tersenyum seperti itu kumohon, aku geli melihat wajah tuamu yang penuh hasrat.

__ADS_1


Batin Dinia.


“Kenapa kakek sok jago, tidak tidur saat malam dan tidak mau bangun sepanjang siang, kakek sudah mirip seperti kelelawar.” ujarnya murka. deru nafas Dinia terdengar heboh.


“Hoho apa kau menghawatirkan ku istri ku.” Ucap Sean dengan wajah centil itu, di barengi kedipan mata yang benar-benar ingin membuat Dinia Muntah.


“Hentikan kegenitan itu Kakek, katakan! Kenapa kau menyuruhku kemari.” Tanya Dinia sambil berkacak pinggang.


Sean terkekeh melihat tingkah istrinya, Sean menepuk kasur yang kosong di sebelahnya.


“Kemarilah.”


Dinia menurut, ia duduk di samping kakek tua, Dinia tidak membenci Suaminya meski tua, karena kakek tua itu adalah orang baik dan menghormatinya.


Tapi tetap saja , Dinia tidak akan bersedia di sentuh oleh kakek tua itu, dan suaminya itu juga tidak memaksa.


“Kemarilah, berbaring di sampingku.” Ujar Sean menepuk Raung yang masih kosong di sebelahnya.


“Tidak mau, aku mau tidur.” Tolak Diniah.


“Sebentatr saja, aku tidak akan macam-macam istri ku.” ucap Sean.


Dinia terlihat berpikir, sebelum akhitnya berbaring di samping Sean.


“Gadis yang penurut.” Sean mengelus-elus kepala Istrinya.


Sial, dia adalah istri ku, tapi kenapa aku seperti kakeknya.


Batin Sean tidak terima,


Sebagai seorang pria yang terlalu normal, rasa keinginan itu tiba-tiba saja timbul.


Brukkk.


Sean mendorong tubuh Dinia dari atas ranjang. membuat gadis itu terjatuh.


“Kakek apa yang kau lakukan.” protes Dinia. lalu bangkit dari lantai.


“Maafkan Aku istri ku.” Ujar Sean dengan raut penyesalan.


“Pergilah tidur, kasihan kamu pasti kelelahan.”


Diniah mendengus kasar.


“Kalau mau mengusir bilang donk kek, tidak usah di tendang segala sampai terjungkal, kan sakit tahu.” protes Dinia sambil berjalan menggosok-gosok pinggangnya yang terasa encok.


Kakek tua sialan, pinggangku yang berharga. kalau sampai aku patah pinggul, akan ku balas dengan meremukkan tulang-tulang Mu besok. lihat saja.


Batin Dinia, ia menutup pintu dengan kerasnya.


membuat Sean yang ada di atas tempat tidur sedikit kaget.


Sean langsung beranjak dari tempat tidur, melepaskan semua kostum yang melekat di tubuhnya.

__ADS_1


lalu memencet sebuah tombol yang akan menunjukkan pintu rahasia menuju kamarnya.


“Tunggu aku.” Gumam Sean di dalam hatinya, Sepertinya malam ini, pria itu merencanakan sesuatu.


__ADS_2