Ternyata Suamiku Tampan

Ternyata Suamiku Tampan
Kedatangan


__ADS_3

Mengerutkan bibir berisinya, menatap slow motion kearah kepala pelayan pria. sambil berdecak kesal karena keinginannya tidak di kabulkan.


Dinia menghantam kaki ke lantai, lalu merajuk meninggalkan kamar kakek tua yang ingin ia miliki.


Dasar Prettt pelit, awas saja kalau suamiku pulang, kamar itu akan menjadi milik ku.


Batinnya.


Di dalam kamar, Prem dan Delete bersedekap dada, sepersekian detik lalu mereka seperti di ancam samurai, demi mendapati sang nona muda mengacak kamar rahasia.


untung saja keberuntungan masih berpihak pada mereka.


“Bibi Del, bawa barang-barang tuan muda ke kamarnya, akan sangat berbahaya jika nona tiba-tiba membuka benda ini.” Ujar Prem sambil sibuk mengemasi barang-barang Sean.


“Betul Pak Prem, kita harus gegas sebelum Nona muda benar-benar memaksa untuk pindah kamar.” kedua orang itu sibuk dengan pekerjaan mereka.


***


Di dalam kamar, Dinia sedang menyesap madu sasetan yang ada di tangannya, selain menetralisir Indra pengecapnya yang berasa pahit, Dinia memang menyukai Madu.


Tapi kali ini berasa beredar, tidak seenak biasanya. bahkan kali ini aroma manis yang biasanya menggugah selera malah tercium Mahung Dan sepat.


“Duh lidah ku keracunan.” Gumamnya lalu berlari ke kamar mandi karena gejolak dari dalam tubuh ingin mengeluarkan semua isinya.


Hoekkk.


Dinia mengusap bibirnya, membasuh wajah giok itu lalu mencekanya dengan handuk kering yang tergantung.


Aku lelah.


Dinia berbaring sambil memegangi perutnya, ia berbaring salah, duduk salah, apalagi berdiri, makin salah.


Apa mau mu nak, Mau ibu mu menderita sepanjang hari dengan mood yang berantakan.


Guammnya sambil mengusap perut yang masih rata.

__ADS_1


Perutnya keroncongan, tapi tidak ada niatan untuk makan, membayangkan saja rasanya ingin muntah.


Susah sekali menjadi wanita hamil,


Pikirnya.


***


Sean sedang melangsungkan rapat direksi di ruang meeting.


tapi dering gawai membuatnya Malas dan menghentikan tatap temu yang teramat membosankan.


masih mengenai pembangunan mall di pasar tradisional yang belum menemui titik terangnya, karena para warga tidak memginginkan hal itu terjadi.


dan semua itu membuat Sean muak dan menyudahi rapat direksi.


Di ruangannya, Ham Terlihat menerima Panggilan dari Prem terjadi masalah di rumah seperti itu pembahasan mereka.


“Ada apa.” Tanya Sean setelah Ham memutuskan panggilan telponnya.


“Ho ho, secepat itu dia merindukan ku.” Sean tertawa bahagia, apakah ia bisa gr sekarang?.


“Maksud saya nona mencari tuan yang menyamar sebagai kakek tua.” pungkas ham lagi.


Sean mendelik, sekian sinar diwajahnya memudar, senyum terkembang surut.


“Oh, tidak mengherankan,”


“Nona memasuki kamar rahasia, Dan tidak menemukan kakek tua yang seharusnya ada di sana.” ujar Ham.


“Jadi?”


“Pak Prem berbohong mengatakan kakek tua menziharai istrinya.” Ham bicara.


“Oh.”

__ADS_1


“Jadi bagaimana tuan, apa sebaiknya anda mengakhirinya.” saran Ham.


“Sudah gila ya kamu.” ujarnya mencibir di kursinya.


“Kita pulang sebagai kakek tua, kau bilang dia merindukan suami tuanya kan.” Sean tersenyum kesetanan mendapati ide cemerlang di kepalanya.


***


Di depan rumah, Prem sudah menunggu sampai mempersiapkan segalanya, penyamaran itu masih berlangsung rupanya.


Apa mereka tidak lelah?


sepertinya memang tidak.


atau memang lelah tapi mencoba bertahan demi tuan muda.


Mobil Ham terparkir di depan, Sean keluar dengan wajah berseri-seri.


“Bagaimana?”


“Tuan harus menemui nona, beliau sudah lemas tidak berdaya, makan dan minum tidak mau, Sampai perutnya kempes begitu, kasian bayi yang ada di perutnya.” ujar Prem.


“kalau begitu bergegaslah.”


Drtttt drtttt.


Gawai Ham berderit pelan.


pria itu menerima panggilan.


“Woi Ham, aku berada di bandara sekarang. cepat jemput aku kemari.” ujar seseorang dari seberang.


Ham memasang raut tidak suka, ini adalah awal mimpi buruknya, dan entah kapan orang yang ada di sana kembali ke Indonesia.


Sialan.

__ADS_1


__ADS_2