Ternyata Suamiku Tampan

Ternyata Suamiku Tampan
Panggilan baru untuk Prem


__ADS_3

Saat Kakek tua tidak percaya, akankah penghuni rumah yang lainnya akan percaya.


Dinia begitu terluka, hatinya dilema, harus bicara sama siapa saat suaminya sendiri lebih membela sang cucu dari pada dirinya.


"Dia pikir aku wanita Apaan." grutunya kesal.


Bibi Del yang sedang merapikan ranjang mengernyit keheranan.


“Ada apa nona.”


Tanya Del peduli.


Dinia menatap Delete dengan harap wanita itu bisa dia ajak bicara.


“Bibi aku ingin cerita.”


Delete pun mendekat dengan antusias, bersenang hati ingin mendengar cerita nona mudanya.


“Cerita apa nona.”


Dinia melangkah, duduk di sova.


“Duduklah.” tawarnya kepada Delete.


Delete duduk di bawah, di karpet berbulu itu.


“Jangan disitu, duduk sini.” menepuk ruang kosong di sebelahnya.


“Tapi non.”


“Udah, duduk sini.” Dinia menarik Delete.


Deletepun duduk di samping Dinia dengan sungkan.


“Apa yang ingin nona ceritakan, siapa tahu saya bisa bantu kan nona.”


“Iya Bi, tapi bibi percaya kan dengan omonganku.” Ucap Dinia.


“Tentu saja nona.”


Syukurlah, pikir Dinia.


gadis itu menggenggam tangan Delete.


“Tadi malam Tuan sein menodai ku bi.” ujar Dinia dengan wajah sedih, baru kali ini ia menunjukkan sisi tersedih di hidupnya–selain ketegaran dan keberaniannya ternyata Dinia memiliki sisi kesedihan itu sendiri.


“Kenapa kau hanya diam bi, kau percaya padaku kan.” tanya Dinia.


Aku percaya pada nona, ya itu memang tuan muda, yang melakukan pertama kali dengan Anda juga tuan muda, suami anda yang sebenarnya juga tuan muda.


Batin Delete bungkam.


“Aku kecewa, aku merasa hina dan berdosa. bagaiamana hati akan tetap biasa-biasa saja. rasanya sangat mengganggu dan risih. bibi kau percaya aku kan.” Dinia meyakinkan


“Ah masa sih nona, tuan muda tidak seperti itu. tuan tidak akan melakukan itu kepada wanita yang tidak sepantasnya.” sangkal delete.


“Iya, aku juga berpikir begitu awalnya, tapi yang terjadi itu sangat nyata, dia pria bejat yang tidak beretika.” Ujar Dinia.


“Sudahlah nona, anda sarapan ya, itu tidak benar.” jawab Delete lalu bergegas pergi.

__ADS_1


“Permisi nona.”


Dinia ternganga, tidak menyangka, sikap yang di tunjukkan bibi Del sama seperti yang di lakukan Suaminya, membela tuan muda itu.


”Kalian tidak percaya padaku!


Baik, aku akan menangkap basah tuan muda kalian memasuki kamar ku, akan ku buat bukti yang nyata bahwa aku tidak berbohong.”


Dinia begitu marah melemlari bantal kearah pintu, dimana Delete berada beberapa detik lalu.


_______________________________________


Ruang makan. Dinia melihat tangannya tanpa menyentuh makanan sedikit pun, ia menatap tajam kearah kepala pelayan.


"Dimana tuan mu." mungkin seperti itu arti tatapannya.


Si cabul itu malah menghindari ku, bagus. jangan menampakkan batang hidung di depan ku, atau aku akan meremukkan tulang-belulangmu.


Batinnya, serius dengan perkataannya.


“Nona makanlah, tuan besar akan marah jika anda tidak menghabiskan makanan anda.” Ujar Prem membujuk.


“Jangan bicara padaku pak Premium, suruh saja kedua tuan mu memakannya sampai habis, aku membenci mereka.” ujarnya terang-terangan.


“Jaga bicara anda nona, anda tidak di perbolehkan menyebarkan hujatan kebencian kepada keluarga Dinata, pantang.” ucap Prem tegas.


”Oh ya, banyak sekali ya larangan di keluarga Dinata, jadi menyentuh wanita milik pria lain di larang tidak, di kuarga ini.” ujar Dinia dengan suara yang beremosi.


Nona, maaf itu karena kau belum mengerti.


Batin Prem, ia bungkam tanpa jawaban.


aku bukan hanya membenci mereka, aku juga membenci kau dan kau.” Dinia menunjukkan Prem dan juga Delete. membuat kedua orang itu terhenyak.


“Jangan pernah mengurusku, sebelum bisa mengurus kuarga ini dengan benar. Camkan itu Pak Prettt.”


“Tapi nona,” Cegah Prem, Dinia seketika menghentikan langkah.


“Kenapa anda memanggil saya Pretttt.”


“Karena mulai dari sekarang panggilan mu adalah pak Prettt.”


“Tapi kenapa nona?”


Prem bertanya-tanya. tapi Dinia malah mengabaikannya.


“Kezamm.” Lirih pria paruh baya itu, ia menatap bibi Del yang sedikit terkekeh dengan situasinya.


lalu mencibir,


“Memangnya nama mu sudah cukup cantik, untuk itu kau menertawaiku.”


“Namaku memang tidak cantik, tapi nona muda tidak menjelek-jelekkan namaku seperti yang ia lakukan padamu.


prettt prettt.” Delete mengejek pria itu sambil mengulang-ulang panggilan baru.


*******


Di dalam kamarnya, Dinia begitu kecewa, ia menangis sesenggukan.

__ADS_1


Kalau dia mau padaku, kenapa bukan dia saja yang menikahiku, kenapa membuatku merasa berdosa-dosa dengan perbuatannya.


Tuahan, apa salah yang ku lakukan di dalam hidup ini.


aku rasa aku adalah wanita yang sopan dan baik hati, tapi kenaoaenfaoatkan perlakuan senonoh Seperti ini.


Tuhan jangan salahkan aku, bukan aku yang menginginkannya.


Dinia masih setia membenamkan wajahnya, sesekali mengangkat wajah jika sesak mulai terasa.


“Apa aku mati saja!


tapi itu sama saja, tetap akan berdosa jika bunuh diri. lebih baik aku bertobat dan tidak akan mau di lecehkan lagi.” Dinia segera ke kamar mandi, mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat. meminta pertobatan atas apa yang telah terlaksanakan.


Di ruang tengah, Delete dan Prem berbincang.


“Kasihan nona, tertekan dengan perasaannya, aku bisa membayangkan kekesalannya, nona wanita baik-baik ya mana mungkin dia mau sembarangan di sentuh pria.” ujar Delete.


“Kau benar, tapi kita tidak bisa menyalahkan tuan yang sedang asik dengan permainannya,” Jawab Prem.


“Yah, memangnya siapa yang berani menyalahkan tuan muda. aku hanya khawatir kesalah pahaman ini akan berlarut-larut.” Cemas Delete.


“Kita sepemikiran, apalagi sebentar lagi nona Menty akan kembali, bagaiamana nona Dinia akan tahu posisi.”


“Entahlah Pak prettt, aku juga mengawatirkan itu.” Ujar Delete.


“Apa! kau panggil aku apa.”


“Pak prettt.”


“Jangan memanggilku Seperti itu, hanya nona yang boleh melakukannya.” ujarnya tegas


”Baiklah.”


Delete bungkam.


Di tengah perbincangan tengah hari mereka, tiba-tiba Seseorang memanggil Prem.


“Pak Prett.” ujar Dinia.


“Nona muda, anda sudah tidak marah kan.” tanya dua pelayan itu.


“Tidak, untuk apa marah lama-lama, ntar cepat tua.


aku lapar bisa siapkan aku makanan.” perintah Dinia.


“Siap nona.” Prem langsung ke dapur untuk mengarahkan koki rumah menyiapkan makanan untuk nona muda mereka.


“Nona, anda tampak fres, anda memakai terapi apa untuk menghilangkan amarah anda.” Tanya Delete.


“Oh itu, aku shalat dan mengaji, kalian juga harus melakukan, jangan tinggalkan sholat dan sebisa mungkin luangkanlah waktu untuk mengaji.” nasihat Dinia.


“baik nona, terimakasih atas nasihat anda.” ujar keduanya.


sebenarnya, mereka juga rutin mengaji tapi hanya ketika malam Jumat, membaca Yasin dan tahlil, meski tidak sesering mungkin, tapi Delete dan Prem akan mencoba melaksanakannya.


Dinia bisa tersenyum kembali, melihat kedua pelayan itu.


“Oh ya pa prettt, anda juga harus makan ya. soal yang tadi tolong maafkan aku ya.” ujar Dinia, meski kesalnya sudah reda, tapi panggilan untuk pak Prem tetap akan diubah menjadi prettt.

__ADS_1


haha.


__ADS_2