
Sean masih setia di dalam kamar mandinya. berendam santai menikmati waktu luang selagi Dinia ketiduran.
Sekarang dia semakin aktif saja, malah menyukai kakek tua. lalu aku yang tampan ini apa tidak bernilai apa-apa di matanya.
Batinnya kesal, cemburu kepada dirinya sendiri.
***
Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga,
Mungkin pepatah itu sering sekali terdengar bukan, seperti hal yang terjadi saat ini.
Dinia terbangun dari tidurnya, ia gelisah karena tidak mendapati kakek tua disebelahnya.
Kemana dia pergi?
Dinia memijit kepala yang terasa pusing karena faktor mengandung. apalagi sedari kemarin ia tidak nafsu makan–perutnya terasa kosong dan kerongkongan.
memutuskan mengambil minuman coklat dan roti sobek dari dapur minie di lantai tiga dan membawanya ke kamar kakek tua.
“Menyenangkan.” Gumamnya riang.
Dinia menikmati Minuman dan makanannya dengan lahap Sambil menonton televisi film Barbie, entah kenapa berada di kamar itu membuatnya nyaman–itulah sebabnya wanita itu ingin mengganti kamar tidurnya.
“Kenapa sepi sekali? kemana kekek itu pergi.” Lirihnya kehilangan, bahkan akhir-akhir ini dini sangat menyukai kehadiran kakek tua itu.
Setelah menghabiskan makanannya, rasa bosan akhirnya melanda–menggerakkan tubuh Dinia mengitari kamar yang selalu di jaga. tapi celakanya Prem tidak tahu Dinia memiliki kunci duplikat kamar itu.
“Ah apa ini?” Dini menghadap ke arah lemari hias yang di penuhi buku-buku tebal, satu diantara buku-buku itu sangat menarik perhatiannya hingga menggiring tangan panjangnya untuk menyentuh dan menggapainya.
“Lho kenapa lemarinya bergerak sendiri.”
Dinia tercengang, entah bagaimana caranya ia berubah tempat seketika itu.
“wahh wahh ini dimana?” Masih bingung dengan situasinya.
kaki yang ia gunakan berpijak akhirnya lunglai sangking gregetnya.
Dinia menebarkan pandangan ke seluruh ruangan, kamar yang indah dan terawat, di dinding dan di lemari hias di penuhi foto pria tampan.
“Ini kamar si mesum” gumamnya mencoba bangkit tapi tubuh terlalu lemas.
i foun a love for me
oh darling just dive right in and follow my lead well i found a girl, beautiful and sweet.
Perfect–Ed Sheeran.
Di kamar mandi Sean terus bernyanyi menandakan hatinya yang sedang dalam suasana gembira.
Di lantai tempat Dinia berpijak, wanita itu sedang menderita sekarang.
“Astagfirulloh, suaranya jelek banget.” Ujarnya kesal.
Sialnya meski suara itu buruk, tapi mampu memberi energi pada Dinia untuk melabrak.
“Tidak tahu malu, suara jelek masih berani bernyanyi.” Dini berdiri ingin Menghampiri ke kamar mandi guna mendiamkan sang tuan yang sedang bernyanyi.
Setttt.
tanpa di rencana, kaki Dinia memijak sesuatu yang aneh di lantai.
membulatkan mata indahnya, terjenga dengan apa yang dilihatnya.
__ADS_1
meraih benda yang seperti kulit suaminya.
“Oh tuhan,” Kaget Dinia saat ia benar-benar yakin bahwa kulit yang tidak asing itu seperti kulit Suaminya–kakek tua.
Drtttt drtttt.
Suara gawai Sean berderit di atas tempat tidur, membuat pria itu terdengar melangkah dari kamar mandi.
Dinia menjatuhkan kulit itu ke lantai, lantas bersembunyi di dalam lemari.
Mengintip keluar, mengawasi keadaan mengulum aman.
Sean Berjalan ke arah tempat tidur menerima panggilan dari Prem.
“Tuan muda, anda sudah selesai mandinya?”
“Belum, kenapa?” jawab Sean.
“Nyonya Menty menyuruh Anda kemari.”
“Baiklah aku akan segera selesai, oh ya pak Prem. tolong ganti kostum itu dengan bahan yang lebih dingin dan nyaman, Sepertinya Dinia akan sangat sering bertemu dengan kakek tua.” Ujarnya.
“Baik tuan.”
Di dalam lemari, Dinia bersedekap dada, membungkam mulutnya agar tidak bersuara.
Sean berjalan ke ruang ganti, memakai baju lalu keluar dari kamarnya sendiri.
Dinia yang keluar dari lemari, mata dan wajahnya merah karena marah.
APA?
“Aku tidak salah dengar!
“Berani-beraninya membodohi ku.”
Lihat saja bagaimana azab berbicara.
Dinia menyungging senyum Karen pemikiran azibnya.
******
Di lantai bawah, Menty bersikukuh agar Sean di periksa matanya, wanita itu masih sangat yakin kalau anak lelaki satu-satunya itu tengah menderita katarak, atau sejenisnya.
“Alen cepattt periksa kakak mu, aku sangat yakin dia menderita penyakit mata.” memvonis sembarangan.
“Tidak Tante, kak Sean baik-baik saja.” ujar Alen setelah memeriksa mata Sean.
“Alenta Kau mau melihat istri ku tidak.” Tawar Sean yang tentunya sangat menarik bagi Alen.
“Maulah kak.” ucapnya penuh harap.
“Tunggu dia bangun dulu.” Ujar Sean,
“Kita sudah lama tidak bertemu bagaiamana kalua kita main catur di taman belakang.” tawarnya lagi sambil merangkul Alenta menuju taman belakang.
“Bagaiamana menurut mu Ham.” lantas bertanya pendapat Ham.
“Kedengarannya sangat seru tuan.” Ham pun mengikuti langkah kedua orang itu.
Di aula utama, Semua orangpun kembali ke kamarnya masing-masing, Lipa dan Aina kembali ke kamarnya, Sedang pak Prem kembali melakukan pekerjaannya, meninggalkan Menty sendiri yang tidak puas dengan segala yang sudah ia persiapkan.
“Dasar keponakan, aku pikir dia akan berpihak padaku, ternyata dia malah antusias mengenal wanita itu. lantas siapa yang harus bekerja sama denganku dalam memusuhi Dinia.”
__ADS_1
“Tidak ada Mah, sudah ku bilang kan, semua orang menyukai Kakak ipar. sebaiknya kita bersikap baik saja deh. selagi belum terlambat kakak ipar sedang mengandung anak kak Sean lho, apa mama masih berpikir memusuhi Wanita yang di cintai kak sean.” Nosi tiba-tiba muncul dari arah gorden.
“Apa kata mu? Dinia mengandung anak Sean?” Tanya Menty tidak percaya.
Nosi hanya mengangguk.
“Tidak mungkin.”
*****
Epilog.
Dinia sedang membanting-banting bantal tidak karuan, gadis itu grogi parah saat tahu semuanya.
“Sean adalah sein!
Kakek tua adalah Sean sendiri?”
Ya Tuhan, Aku tidak mimpi kan.
Dinia berguling-guling tidak karuan, antara senang dan kesal.
senang karena Suaminya bukan aki-aki.
dan kesal sudah sejauh ini ia baru tahu, bahkan ia sudah mengandung anak sang pria tapi ia baru tahu kebenarannya.
Dia adalah orang yang sama.
Berarti rahim ku tetap suci kan.
aku tidak di nodai kan, aku di nodai cucu yang ternyata suamiku sendiri.
Dini tertawa hambar dan gersang.
Sangat konyol, hampir lima bulan, dia tidak tahu kalau Suaminya sendiri sudah bermain rumah-rumahan dengannya.
Sepertinya dia perlu di kasih pelajaran.
menyeringai seram.
Hal yang paling Dinia syukuri adalah, ia bisa berbangga hati menceritakan kepada kakek Wijaya bahwa Suaminya pria muda, saat ini Dinia sudah tidak sabar ingin mengatakan semua itu kepada kakeknya.
tapi ketika sedang asik menyalurkan Cerita, tiba-tiba kakek Wijaya berkata;
“Aku sudah tahu semuanya cucu ku.”
WHAT?
Ternyata hanya aku yang di bodoh disini.
Batinnya meradang, ternyata selama ini hanya dia yang tidak tahu bahwa; TERNYATA SUAMIKU TAMPAN.
selesai.
.
.
.
.
Ngga deh canda.
__ADS_1
To be continued......🤣