Ternyata Suamiku Tampan

Ternyata Suamiku Tampan
Kepulangan wanita-wanita penghuni rumah


__ADS_3

Hari kembali berputar pada malam hari, sunyi senyap menjadi ciri khas di malam yang larut, sudah hampir jam sebelas malam, tanda-tanda kehadiran pengganggu itu tidak juga datang, Dinia bisa lega dan tidur di ranjangnya setelah mengunci semua pintu rapat-rapat.


“Awas saja kalau dia sampai berani menyentuhku lagi, aku akan mematahkan tulang-tulangnya.”


Gumam Dinia, teramat kesal dengan kejadian malam itu.


Wanita itu menarik selimut sampai ke pinggangnya, lalu berbaring miring sambil memainkan Gawainya.


“Dear.” suara Sean.


“Astaga.” Dinia membanting gawai lalu duduk dari baringnya, sambil memasang tinjunya ke depan wajah Sean.


“Apa yang kau lakukan Dear! Kemarilah.” Khenzo menepuk-nepuk kasur di sampingnya dimana Dinia tadi berbaring.


“Sialan, bedebah nakal, kenapa kau ada di kamar ku, dari mana kau masuk.” Dinia heran, setahunya dia sudah mengunci semua pintu rapat.


Sean tidak menjawab, ia menarik tubuh Dinia dan wanita itu terjebak di bawahnya.


“Kita akan melakukannya lagi Dear, apa kau menyukainya, kau kecanduan kan dear.”


“Dasar sinting, lepaskan aku.” Dinia memberi perlawanan dengan menendang Sean. membuat pria itu menjerit kesakitan, Dinia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu ia langsung berlari menuju kamar sang suami.


Dinia langsung masuk, kebetulan sekali pintu itu tidak di kunci.


Dinia Masuk dan berlari ke ranjang, Disana tidak ada kakek tua, membuat Dinia mengernyit bingung.

__ADS_1


“Kakek! apa kau di kamar mandi.”


tanya Dinia, tapi ia tidak yakin, karena tidak ada suara di kamar mandi.


Dinia mendobrak kamar mandi itu, memeriksanya kedalam.


“Aneh, kenapa kakek tua tidak ada di kamarnya.” gumam Dinia. ia lalu beranjak keluar kamar mandi dan terperanjak saat melihat sosok kakek tua sedang berbaring di atas ranjang.


“Kau mencari ku istri ku.” ujar kakek tua.


“Ha, kenapa kakek tiba-tiba ada disitu.” ujar Dinia heran.


“Apa maksudmu istri ku, dari tadi aku tidur disini.” ujar kakek tua.


“Kemarilah, kau ingin di temani kan.” Kakek tua menepuk-nepuk bantalnya.


tapi tanpa Dinia sadari, dia bersembunyi dari sarang singa menuju sarang harimau.


“Apa kau tidak kepikiran untuk satu kamar dengan ku istri ku.” tawar kakek tua.


“Enak saja, aku punya kamar sendiri, terimakasih atas tawarannya.” balas Dinia jutek, ia mulai memejamkan mata.


“Tapi aku akan memikirkannya.”


“Baguslah istri ku, aku jadi tidak sabar.” Sean berujar sambil berulah di dalam selimut mereka.

__ADS_1


“Ah kakek apa yang kau lakukan.”


“Menurutlah istri ku, atau kamu akan menanggung dosa.”


...Sialan, kakek tua ini sengaja ya....


*********


Pagi tersenyum ceria, Seperti biasa setelah mandi Dinia memulai sarapannya, tapi ada yang berbeda. setiap pelayan di rumah terlihat sibuk–hilir mudik dengan antusiasnya, bahkan Bibi Del tidak menghiraukan Dinia yang sedang sarapan, biasanya pelayan itu akan berdiri mematung sampai Dinia selesai makan, dan sekarang pelayan itu sibuk mendekor setiap ruangan. bahkan foto keluarga besar di hilangkan.


“Mereka kenapa?” tanya Diniah, kepada seorang chef rumah,


”Astagfirulloh, nona mengagetkan saja.” ujar Chef cantik itu, siapa yang tidak kaget, wilayah itu bukan untuk di masuki Dinia, jika tuan muda mereka tahu, merekalah yang akan mendapat akibatnya. apalagi setelah mendengar bimbingan sekertaris Ham beberapa hari lalu.


“Jangan sampai nona muda alergi atau apa dengan masakan kalian, apalagi terluka parah, atau tuan muda akan murka dan menghancurkan karir kalian.” begitu bunyi pidato Sekertaris Ham saat bimbingan mendisiplinkan para koki.


“Nona, jangan pernah melewati batas ini ya, atau kalau tidak tuan muda akan marah.” ujar Iss Norak, Chef keunggulan dari beberapa Chef lainnya.


Mendengar itu Dinia menggeleng, setakut itukah mereka kepada pria mesum dan tidak bermoral. pikirnya.


Diniah mundur beberapa langkah, lalu kembali berbicara.


“Orang-orang ini pada ngapain sih Nor!” tanya Dinia kepada Iss Norak.


“Itu nona, nyonya Menty dan ketiga putrinya akan sampai beberapa saat lagi.” ujar Iss Norak.

__ADS_1


Dinia terdiam, Ia membayangkan wajah ibu-ibu yang akan ia panggil Menantu, dan wajah tiga orang gadis yang akan ia panggil cucu bahkan mereka mungkin masih sebaya.


Dinia sampai setres memikirkannya.


__ADS_2