
menjijikkan, Seperti itulah perasaan Dinia saat situasi ini berulang beberapa kali.
“Kenapa kau tidak menikah saja ha? kenapa sangat suka bermain skandal denganku, apa kau tidak kasihan kepada kakekmu.” Grutu Dinia di atas ranjang.
“Tidurlah nenek, besok-besok aku akan memintamu kepada Kakek.”
ujar Sean, berbaring menghadap Dinia.
“Kau sudah gila ya, pergi dari kamar ku.” Dinia membanting bantal.
“Nenek, apa salahnya jika aku meminta izin kepada kakek, toh kakek juga pasti akan mengijinkannya.” Ujar Sean menggoda.
“Benar-benar gila, keluarga ini benar-benar gila.” Dinia menarik tangan Sean, mengeluarkan pria itu dari kamarnya.
“Astaga Nenek, begini cara mu memperlakukan Tamu, setelah nenek puas dengan semuanya, nenek malah membuangku.” ujar Sean membuat Dinia terbakar telinga.
“Tutup mulutmu sialan.” Dinia membanting pintu.
Di dalam kamar Aina, Lipa datang menemuinya, dengan dalih
“Mari maskeran bersama Adik ku.” tapi sejujurnya dia ingin menggosip prihal kakak dan kakak iparnya.
“Masuklah kak, kakak jangan mengotori sepray ku ya, baru di ganti soalnya, kasian bibi Del kalau sepray nya di ganti terus.” ujar Aina masih sibuk memadukan warna.
“Hmmm, Benar-benar kasihan. kak Sean sih ngga tahu tempat, masa kamar adiknya sendiri di jadikan tempat bercocok tan*m.” ujar Lipa ceplas-ceplos.
“Kak, apa itu bercocok tan*m?” tanya Aina, si polos itu.
“Hehe itu, nganu.” jawab Lipa lalu duduk di tepi ranjang.
“Apa sih ngga jelas.” Aina kembali kepada pekerjaannya.
“Eh dek, Ngomong-ngomong kakak ipar kapan ya ke rumah lamanya, aku mau donk di kenalin sama kakek Wijaya.” ujar Lipa sambil mengoles masker ke wajah.
Aina langsung berbalik.
“Iya kak, aku juga mau tuh.”
“Bagaimana kalau kita ajak kakak ipar pergi.”
“Setuju.”
Kedua gadis itu berencana mengajak Dinia pergi besok hari.
___________________________________________
__ADS_1
Keesokan harinya, Dinia mendatangi Suaminya, entah kenapa rasanya sangat bersalah dan berdosa.
“Kakek.” Dinia berjalan mendekati ranjang.
“Eh istri ku.” Ujar kakek tua dengan mimik wajah ceria.
“Akhir-akhir ini aku tidak pernah mengunjungi mu, apa kau baik-baik saja.” tanya Dinia.
“Aku baik-baik saja istri ku. apa kau sudah bertemu menantu dan ketiga cucu mu.”
“Sudah, mereka sangat baik dan ramah padaku.” jawab dinia.
“Syukurlah, kenapa kau terlihat letih begini istri ku.” ujar Sean.
“Bukan apa-apa kek, sini aku suapi kakek makan.” ujar Dinia.
“Iya , terimakasih istri ku.” Ujar Sean tersenyum.
Diniah menyuapi Sean,
suaminya terllau baik untuk dihianati, membuat Dinia merasa sangat berdosa, belum lagi dosa kepada Tuhan karena telah memiliki hubungan terlarang dengan cucu tirinya, itu sungguh membuat Dinia gila.
Setelah selesai makan, Dinia dan bibi Del mulai turun untuk sarapan, Disana anggota keluarga sedang menunggu.
diantaranya dua gadis cantik antuasias menunggunya, selebihnya dua perempuan yang menatap sinis ke arahnya.
“Selamat pagi kakak.” Jawab Aina dan lipa, sedangkan Menty dan putrinya yang satunya lagi hanya diam ogah-ogahan untuk menjawab.
Selang beberapa waktu, Sean dan Prem memijaki lantai bawah menuju ruang makan, semua keluarga sudah duduk manis menunggunya di sana.
“Sean.” ujar Menty matanya berbinar-binar, ia sangat menyayangi anak lelaki satu-satunya itu.
“Selamat pagi bu.” ujar Sean.
“Selamat pagi kak Sean.” kemudian tiga adik Sean menyapanya.
Sean tersenyum kearah mereka.
Dinia menatap sangar ke arah pria itu tanpa mengucapkan selamat pagi atau basa basi. membuat Sean yang duduk di sebelahnya berbisik pelan.
“Selamat makan nenek.”
dan itu cukup ampuh membuat Dinia ingin membanting pria bertubuh kekar itu.
Sarapan pagi di nikmati, suasana pagi begitu ramai setelah kehadiran Menty dan ketiga putrinya, jika biasanya Dinia hanya sarapan di temani Delete, sekarang wanita itu memiliki banyak anggota keluarga dan dia suka.
__ADS_1
Makan pagi telah selesai, Sean dan Ham pun sudah pergi ke perusahaan. sekarang Dinia tengah menikmati buah strawberry yang masih tersedia di lemari pendingin,
“Benar-bemar enak, aku mau memanen lagi nanti.” Gumamnya, ia makan strawberry di depan televisi, lipa dan Aina menguntit.
“Apa kata mu kak, mau panen lagi?”
Ujar Lipa keluar dari persembunyiannya.
“Astaga, apa yang kau lakukan di sana, kenapa aku tidak menyadari. sudah berapa lama kau di tempat itu.” Dinia menunjuk gorden bunga-bunga yang sama persisi dengan gaun yang di kenakan Lipa,
“Aku, oh sejak kakak makan kotak Strawberry yang pertama.” ujar Lipa.
lalu Dinia menatap kotak Strawberry yang berjejer itu, ia sudah menghabiskan tiga kota dengan gaya santai, itu berarti Lipa sudah satu jam berdiri di dekat gorden demi melihatnya makan.
“Astaga, apa kau waras.”
“Tentu saja aku waras, bukan cuma aku lho, Tu si Aina juga di situ.” Lipa menarik adiknya dari dinding berwarna abu-abu itu, ternyata Aina benar-benar ada disitu. gadis itu tersamarkan oleh busana muslim berwarna abu-abu.
“Apa kalian bunglon? kenapa menyesuaikan diri dengan lingkungan?” Tanya Dinia.
“Aku dan Aina ingin melihat kakak makan, kami takut kakak ngga bolehin gabung makanya kami seperti itu.” jawab Lipa.
“Astaga, bagaiamana bisa kau menyimpulkan seperti itu, tentu saja aku mengijinkannya. kemarilah.”
Dinia menepuk-nepuk Sova di kiri dan kanannya.
“Yang benar kak? kita boleh bergabung.” Ucap Lipa tidak percaya.
“Tentu saja.”
kedua gadis itu pun segera mengambil posisi di sebelah Dinia. menyomot buah strawberry yang ada pangkuan Dinia.
rasanya sangat menyenangkan.
sambil menyaksikan film kartun berjudul LarVua. acap kali mereka terkekeh oleh aksi si Kuning dan merah yang konyol itu.
Di balik teropong yang mengarah ke ruang televisi, Menty dan putrinya terlihat semakin kesal dengan kemesraan Kakak ipar dengan kedua adik iparnya.
“Mah gimana donk, lama-lama aku juga suka sama Kak Dinia, Sepertinya dia orangnya asik.” Ujar Nosi, merasa iti dengan kedua saudaranya yang sangat akrab dengan kakak ipar mereka.
“Jangan ih, mama juga mau, tapi kan kita harus punya harga diri Nosi, setidaknya kita selidiki dulu, seperti apa Dinia itu.” ujar Menty.
“Yah, kenapa harus di selidiki sih mah, keburu Ketinggalan donk kita, aku mau gabung aja lah.” Nosi mengambil ancang-ancang untuk menemui tiga orang itu.
“Eeeh putriku yang cantik jelita seperti aku, dari pada menurunkan harga diri mu yang setinggi gunung Everest itu, kita belanja barang-barang branded aja gimana?” Tawar Menty.
__ADS_1
“Yang benar mah.” Mata Nosi berbinar ria.
“Benar donk sayang, ayok.” Menty membawa putrinya pergi belanja barang-barang branded kesukaan mereka. di antara ketiga putrinya, Nosi memanglah yang paling mirip dengannya, dari penampilan sampai ke sifat-sifatnya.