Ternyata Suamiku Tampan

Ternyata Suamiku Tampan
Melepas masa lajang


__ADS_3

“Dulu aku memang pengecut Del, Bagiku berumah tangga adalah sesuatu yang sulit, pekerjaan yang tak bisa aku lakukan dengan benar. Semua itu karena keluarga ayah dan ibu ku yang gagal. membuatku berpikir bahwa aku juga akan gagal.


Maafkan aku, sebenarnya sudah dari dulu aku ingin menikahimu, Tapi kegagalan itu selalu terbayang-bayang.


Aku takut kau akan merana jika menikah dengan ku.”


Pak Prem Mengaku di hadapan Delete mengenai perasaannya, membuat wanita itu berkaca-kaca.


“Apakah semua sudah terlambat, Del?” Ia meraih tangan Delete dengan tatapan juang.


Delete sudah tidak bisa berkata-kata, Karisma tangguh dari Prem membuatnya gelagapan.


Sejujurnya ia juga merasakan hal yang sama.


Sejak pertama kali memijaki rumah Dinata, Prem baginya adalah Malaikat meski sering jutek dan menyebalkan.


“Maukah kau menikah dengan ku Del.”


Semua orang menyaksikan scan penting ini, bahkan Sean dan Dinia ada di barisan pertama.


“Sayang, lihat pak Prem dia begitu bahagia.” Dinia bicara pada suaminya.


“Iya, Pak Prem mengingatkan aku pada jaman kita menikah dua tahun lalu. Saat itu aku juga sangat puas bisa menikahimu dear.” Ujar Sean.


“Tapi pernikahan kita tidak seromantis ini. malah lebih seperti bencana bagi ku. Kamu menyamar sebagai kakek-kakek sampai membuat kakekku sakit jantung.” Ujar Dinia kesal.

__ADS_1


“Maaf dear, Semua ku lakukan karena aku suka kamu tapi gengsi untuk mengaku pada Ham dan prem.” Ujar Sean berterus terang.


“Padahal aku mengajakmu menikah waktu itu, tapi kamu tolak dengan mentah-mentah. Ternyata kamu suka aku Ternyata.” Dinia memukul-mukul dengkul Sean sambil tergelak.


“Jodoh memang tidak kemana Dear, Kakek Wijaya menjodohkan aku dengan kamu, Tapi kamu menolak. ujung-ujungnya kita tetap menikah.” Sean tersenyum manja sambil mengelus perut buncit Dinia.


“Iya sayang, Hebat ya takdir cinta yang Allah tuliskan.” Dinia meletakkan kepalanya di bahu Sean, sambil menyaksikan lamaran ala Prem-Del yang sangat mengharukan.


Bersama sorakan para anggota keluarga.


Del menjawab dengan suka cita.


“Cinta tak pernah terlambat Pak Prem, Selama hayat masih melekat, nafas masih berhembus. Aku akan setia menjadi pendamping hidup mu menuju jannah.” Del menyambut uluran tangan Prem.


“Menikahlah denganku.” Prem.


Kebahagiaan itu mengalir sampai keseluruhan Anggota keluarga Dinata.


_____________________________________________


Prem dan Del sudah menikah, tentu Sean akan memberi mereka rumah, kendaraan dan beberapa perlengkapan rumah tangga lainnya, sebagai partisipasi Prem dan Del yang sudah berjasa dalam keluarga mereka.


Bukan itu saja, Kedua pengantin baru itu akan pensiun untuk waktu dekat ini. karena Sean mau mereka menikmati masa tua yang indah. memiliki segalanya dan sejahtera. Namun meski Prem dan Del sudah tidak bekerja untuk mereka tidak memutus hubungan diantara mereka.


Bahkan Prem dan Del boleh masuk dan bertamu kapanpun mereka mau.

__ADS_1


****


Sean sedang berbaring dengan gaya miring, ia tebar pesona sambil memamerkan dua tiket yang akan membawa mereka ke Dubai tempat yang ingin Dinia kunjungi semenjak masih gadis.


Tiket itu ia pesan bersamaan dengan hadiah tiket bulan madu untuk Prem dan Del yang baru melepas masa lajangnya, yang nantinya dua pasangan itu akan berlibur bersama.


Tapi melihat Tiket itu Dinia tidak tertarik, sama sekali.


“Kenapa ngga tanya dulu, Aku kan gak mau ke Dubai.”


“Kenapa? Bukankah Dubai adalah tempat impian kamu. sampai ngaku-ngaku segala kalau baju-baju tomboy milik mu dulu di beli di sana.” Ujar Sean yang langsung mengganti posisi baringnya karena tidak terima penolak dari Istrinya.


“Sekarang ada kesempatan tapi kamu malah tidak mau. Payah!”


“Aku bukannya nggak tertarik, Untuk apa kita ke Dubai sedangkan perutku semakin buncit. Sebentar lagi aku melahirkan, lebih baik uangnya di simpan buat syukuran sama akekahan baby SD (Panggilan sayang untuk bayi di perut Dinia)”


“Kamu tidak usah Kawatir dear, Aku sultan! banyak uang.” Sean berjalan setengah berlari kearah Dinia hanya untuk memamerkan kekayaannya.


“Aku punya segalanya."


Dinia hanya menggeleng, Ia tahu Sean Seperti apa. Ya seperti inilah orangnya–sangat sombong. Ia terlalu malas meladeni pria itu lebih baik ia merapikan kembali lemari milik baby SD yang baru datang dua hari lalu.


“He kamu mau kemana? aku belum selesai bicara.”


Sean mengikuti Dinia yang berjalan menghindarinya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2