
Dinia
Kata orang, ibu hamil seringkali mengalami ngidam, tidak jarang pula ada ibu hamil yang ngidam ekstrim seperti menginginkan di cium gajah, makan dan minuman tertentu yang membuat geleng-geleng kepala.
dan sepertinya itu juga berlaku kepada Dinia.
Malam ini ia bersikukuh agar tidur di kamar Suaminya, dan itu akan berlangsung seterusnya.
membuat Sean pasrah sekaligus tersenyum sumringah, ia suka Dinia berada di dekatnya, namun tidak jika wanita itu mulai berulah meminta Sean dan kakek tua bersamaan menemaninya.
Dinia keluar dari kamar mandi, menaiki ranjang setelah mengeringkan jemarinya dengan handuk kecil.
Dinia berkata akhir-akhir ini ia mencium aroma wangi dari jemari kakek tua, lantas meraih tangan itu dan menciuminya.
“Kakek tolong perintahkan Sein membawakan cemilan untu ku.” ujar Dinia.
“Istri ku, kenapa harus cucu kita? bagaiamana kalau pak Prem saja, ya.” Ujar kakek tua.
“Terserah kakek lah.” balas Dinia. moodnya langsung berubah.
Beberapa saat kemudian, Prem datang dengan membawakan buah-buahan yang sudah di potong untuk Dinia.
“Istri ku, makanlah buah ini, setelah itu tidur yang nyenyak.” perintah Kakek tua.
“Tidak mau.” ujar Dinia, lalu meraih jemari kakek tua dan memeluknya di bawah dagu.
“Kau mau di suapi ya.” kakek tua langsung menusuk potongan mangga dan memberinya kepada Dinia.
“Enak?”
__ADS_1
Dinia mengangguk, memang enak kalau Sean yang menyuapinya.
Setelah buahnya habis di makan berdua, kakek tua menidurkan Dinia dengan segera, Karen malam ini ada rapat temu yang sempat tertunda.
Berhari-hari rutinitas itu di jalani, membuat Sean seakan tidak sanggup lagi, harus memerankan dua karakter berdampingan dengan Dinia, terkadang ia merasa lelah dan hampir mengalah.
Saat ini Sean yang sedang memerankan kakek tua sedang menidurkan istrinya, akibat dari kerewelan Dinia, Sean tidak bisa kemana-mana, satu Minggu ini ia lewati dengan penuh suka duka menjadi dua pria yang harus berdekatan dengan Dinia.
Dinia setengah mendengkur dengan mulut setengah menganga, pertanda wanita itu sudah nyenyak dalam tidurnya.
Sean yang sedang menyamar menjadi kakek tua mulai keluar dari kamar, menuju ruang baca, rapat temu yang akan mereka lakukan bersama.
di atas ranjang, Dinia yang tadi mendengkur sedang menatap kesal Suami yang berjalan keluar kamar, dengan sejenak keingin Tahuan, Dinia mengikutinya.
Di sana–area game milik tuan muda, Prem dan Ham menunggunya sambil bermain PS lima,
tatkala Sean datang keduanya menyapa ramah.
“Siap tuan.” jawab Prem dan Ham serentak.
lalu mengikuti Sean menuju ruang baca , tempat rapat mereka bertiga.
sepertinya malam panjang ini akan di gunakan untuk membahas bagaimana baiknya, apa harus menyudahi sandiwara atau ikut berlarut-larut dengan ending yang tidak bisa di tebak akhirnya.
“Aku merasa kalah, bisa-bisanya Dinia selalu meminta Tuan muda dan kakek tua mendampinginya, dia bilang itu adalah Ngidam! coba jelaskan padaku Ham, itu ngidam macam apa?” grutunya kesal di atas sova, sibuk bergelayut tak karuan ke badan sova.
“Sepertinya nona sudah tahu rahasia anda.” Ham memberi prasangka, pria itu bicara sambil menjamah dagunya.
“Ahh tidak mungkin, nona Dinia mana mungkin bisa tahu? dari mana ia bisa tahu itu semua Sedang rahasia aku yang menjaganya.” Ujar Prem bangga, dia tidak tahu kalau Dinia lebih pintar di bandingkan dirinya.
__ADS_1
“Aishhh aku kewalahan.” Aduh Sean yang sekarang sudah merosot lemas di lantai.
Prem dan Ham langsung memungut tuan muda itu dan membaringkannya di sova, memijit-mijit Sean yang lelahnya parah.
“Tuan bisa memilih sekarang, antara lanjut atau terus.” ujar Prem memberi pilihan maju tanpa mundur.
“Kalau menurut saya, kita akhiri saja semua ini tuan muda. Mungkin nona juga akan sangat bahagia jika ia tahu sebenarnya andalah suaminya.” ham memberi pendapatnya.
“Terserah kau sajalah Ham.” ujar Sean pasrah.
wahhhh wahh, sekarang tuan muda itu seakan mengalah, mengaku pasrah dengan pembalasan Dinia.
Di depan ruang baca yang pintunya terbuka beberapa inchi, Dinia menguping dan mendengarkan sedikit banyaknya pembicaraan tiga pria itu.
Dinia mengepalkan tangannya.
“Enak saja mau mengaku begitu saja! tunggu dulu dong aku puas, ini baru permulaan tuan muda, masih banyak kisah yang belum tersalurkan dari permainan mu ini.” batin Dinia geram, ia kesal tiba-tiba saja tuan muda itu ingin menyudahi semuanya, kan ngga adil.
Menyebalkan.
Dinia menghentakkan kakinya, lalu pergi dari depan ruangan menuju kamarnya.
Di dalam ruang baca, Sean yang terbaring mulai mengangkat kepalanya.
“Tapi Ham bagaiamana kalau istriku tidak terima.”
“Apa maksud anda tuan, dari mananya nona Diniah tidak terima? anda kan tampan dan kaya, tentu saja nona akan terima ternyata suaminya adalah anda.” ujar Ham.
“Aku ngga setuju Ham, Dinia bukan tipe perempuan seperti itu, takutnya dia akan marah-marah setelah mengetahui semuanya.” cemas Sean mengudara.
__ADS_1
“Tenanglah tuan, semua akan baik-baik saja jika tuan mau mengakuinya, karena kebohongan itu bukanlah hal yang baik tuan.” Nasihat Prem yang paling tua.
“Ya kalian benar, kalau begitu aku akan mengaku padanya.”