
“Aku tidak mau melakukannya Sekertaris Ham.” Tolak Dinia.
“Menurutlah nona, Nyonya Menti dan ketiga putrinya akan pulang beberapa Minggu lagi, anda tidak ingin mereka menganggap anda remeh kan, mereka adalah wanita-wanita arogant, jadi anda perlu perbaikan agar bisa menghadapi mereka yang menawan.”
“Kenapa aku harus takut, biar saja mereka menilai ku sesuka mereka, toh itu tidak mempengaruhi ku.” balas Dinia, dengan cueknya.
“Nona, jika anda berhasil melakukannya, Tuan muda akan mengijinkan anda bolak balik Kerumah kakek Sanjaya kapanpun anda mau.”
“Hei Sekertaris Ham, memangnya siapa yang melarang ku bolak balik Kerumah kakek ku. kau ingin mengelabui ku ya, aku tidak bodoh Sekertaris Kompleks.” cibir Dinia.
Apa nona? Anda bilang anda tidak bodoh.
Suami anda melakukan menyamaan anda tidak tahu, apa namanya itu kalau bukan kebodohan.
Sekertaris Ham ikut mencibir di dalam hatinya.
******
Aula utama, Semua properti sudah tersedia.
Ruangan ini akan menjadi saksi proses pembentukan karakter Dinia dari tomboy menjadi wanita Sesungguhnya.
“Sebagai seorang wanita, Kita harus memiliki kelembutan yang kentara, pengucapan yang indah serta tatapan yang menyejukkan.”
Nara menerangkan sambil memperaktikkan. Dinia sambil memperagakan.
“Bukan Nona, bukan seperti itu.
Cara duduk anda salah. Coba tegakkan punggung ini.” Menekan punggung Dinia membuat gadis itu sedikit kesakitan.
“Turunkan kaki anda nona, Seorang wanita tidak mengangkat kakinya tinggi saat sedang duduk apalagi memakai gaun begini.” Menampar betis Dinia.
“Auh betisku yang berharga, pelan-pelan Karbonara! Sakit tahu.” Protes Dinia mempelototi wanita itu.
“Astaga nona, jangan memandang dengan mata yang ingin keluar seperti itu, Wanita feminim tidak melakukan hal seperti itu. beri pandangan yang menyejukkan. seperti ini.” Nara memperaktikkan pandangannya itu, Sambil mengedip kepada Dinia membuat gadis itu bergidik ngeri.
Dinia mencobanya, memandang kearah kakek tua lalu mengedipkan matanya.
membuat Sean terpana, tapi tidak itu saja sepersekian detik Dinia malah mengusap hidungnya dengan ibu jari merasa bangga, lalu menaikkan satu alisnya.
Membuat Sean menggeleng pasrah.
“Tuan Sepertinya ini akan sulit, tapi beberapa Minggu lagi Nyonya akan pulang dari inggris.” Bisik Ham.
“Iya, sepertinya akan sangat sulit merukyah gadis setengah pria itu menjadi Wanita kembali.
Seperti apa Kakek Wijaya mendidiknya sampai menjadi tomboy begitu.” Komentar Sean.
“Entahlah tuan, saya juga tidak mengerti.” Prem ikut-ikutan berkomentar.
“Nona! Nona! Anda tidak boleh menunjukkan ekspresi seperti itu lagi, menaikkan alis dan menggerak-gerakkannya itu tidak wanita banget. kita hanya boleh mengedipkan mata ok.” ujar Nara.
“Ya udah, Next , bosen nih mau yang lain aja.” Ujar Dinia.
“Belum nona, anda harus bisa melakukannya dengan natural baru kita melangkah ke pelajaran selanjutnya.”
__ADS_1
Dinia menghela nafas panjang, Ini sangat membosankan pikirnya.
Setelah mengalami percobaan beberapa saat, Dunia akhirnya bisa melakukannya, duduk cantik, melipat kaki, menatap dengan lembut, seperti wanita pada umumnya.
“Sebagai seorang wanita, kita identik dengan kelembutan. jadi anda harus bicara dengan lemah lembut Seperti sentuhan sutra.” Nara kembali menerangkan.
“Aku mengerti, bisa kita lanjutkan.” Bentak Dinia.
“Nona volume bicara anda tolong di turunkan, jika bicara jangan ngegas seperti orang medan.” ujar Nara membingbing.
“Bahhh, Memangnya kenapa? Suka-suka ku lah. apa urusannya sama kau.” Ujar Dinia.
Semua penghuni aula menggeleng perlahan, Sekarang logat bicara itu ikut berubah.
“Baiklah nona, sebagai seorang wanita kita identik dengan keindahan, jadi untuk itu saya akan mengajari anda belajar kosmetik.” ujar Nara.
Dinia menolak, tapi mengingat Perkataan ham tadi ia mulai pasrah.
“Menurutlah nona, Nyonya Menti dan ketiga putrinya akan pulang beberapa Minggu lagi, anda tidak ingin mereka menganggap anda remeh kan, mereka adalah wanita-wanita arogant, jadi anda perlu perbaikan agar bisa menghadapi mereka yang menawan.”
Sial, kenapa aku harus mau. memangnya kenapa kalau mereka akan pulang.
jika mereka tidak mau menerima ku apa adanya mereka bisa mengabaikan ku kan.
Batinnya kesal.
Dinia mengamati benda-benda kesukaan wanita yang ada di hadapannya, sekian banyaknya alat rias itu dia hanya mengenal beberapa saja di antaranya.
Bedak, Pensil alis dan lipstik.
Nara mengajari Dinia bagaimana cara merias wajah.
Semua tata cara yang berkenaan dengan wanita Dinia lolos melakukannya.
Tiga orang pria itu menghela nafas lega.
“Hanya Seperti ini, aku kira bakalan ada adengan yang membuatku tertawa, ternyata dia handal melakukan semuanya, tapi kenapa dia lebih suka berpenampilan seperti pria.”
“Entahlah tuan, kami juga tidak mengerti.”
Akhirnya kegiatan itu selesai, kegiatan yang menurut Dinia sangat membosankan.
____________________________________
Dinia mengunci Kamar dengan rapat, seraya bertepuk tangan karena merasa aman.
Dini berjalan ketempat tidur, memejamkan mata dengan nyaman.
“Kau sudah siap.” Suara Sean terdengar menyeramkan.
Dinia membuka lagi matanya yang terpejam.
lalu terkejut menangkap sosok pria tampan yang akhir-akhir ini selalu mengganggunya.
“Nenek, kau mau aku memulai dari mana?” Ujar Sean, menindih tubuh Dinia lalu mencium bibir itu.
__ADS_1
Plakkk.
satu tamparan panas mendarat di pipi Sean, Sean menyeringai seram.
“Beraninya kau,” Sean meremas jemari Itu memilinnya satu persatu.
“Kau harus membayar kekurangajaran tanganmu ini dengan setimpal nenek.
kau mau aku memulai dari mana.” Sean membenamkan wajahnya di leher putih jenjang itu.
“Hentikan.” Dinia yang sudah sangat risih itu mulai kehilangan kesabaran, Dinia dengan segala perlindungan yang ia miliki, gadis itu menaikkan lututnya kuat, membuat Sean menjerit kesakitan.
“Beraninya kau.”
Dinia berlari menuju kamar Suaminya, di mana kakek itu berada.
Sial.
Sean begitu kesal, ia harus bergegas memasuki kamarnya dan menyebrang ke kamar kakek tua.
“Kek buka pintunya,” Ujar Dinia dengan suara Seraknya.
Sean yang ada di kamar mulai panik, ia masih harus memakai kostum menyebalkan itu.
Sial apa yang harus ku lakukan,. waktunya tidak memungkinkan untuk memakai itu.
Sean mematikan lampu, tidak ada cahaya yang di peroleh di kamar itu.
Krekk.
“Istri ku, kau Bermimpi buruk lagi?”
Dinia langsung memeluk Sean, menangis di pelukan suaminya itu.
“Aku, Aku merasa sangat kacau.” Ujarnya terisak.
“Kenapa? apa yang terjadi.”
“Kau tau kan aku memang tidak mengijinkan mu menyentuh ku, tapi bukan berarti aku bisa di sentuh pria lain.
aku sangat kesal, aku tidak bisa melawannya.
aku ingin kau melakukannya saja padaku.” Ujar Dinja, terisak.
Sean meneguk saliva berkali-kali.
“Isyri ku, apa kau yakin?”
“Ya.”
“Kau tidak akan menyesal kan mempersuami pria tua.”
“Aku akan sangat menyesal jika tidak melakukannya,”
Aku akan menyesal jika dia berhasil merenggut ku.
__ADS_1
Tanpa berpikir panjang, Sean langsung menggendong Istrinya ke atas tempat tidur.
Dengan segala kesedihan, Dinia menghabiskan malam yang penuh dengan kesakitan, bantalnya basah karena air mata yang berhamburan.