Ternyata Suamiku Tampan

Ternyata Suamiku Tampan
Vaksin bibir


__ADS_3

Dinia melangkahkan kakinya, melewati ketiga perempuan yang duduk di sova, Satu menatap takjub kearahnya, dua di antaranya seperti mencibir melihatnya.


“Wah kakak ipar, cara berjalannya keren.” gumam Lipa, Seketika itu Menty menampar pundak putri sulungnya itu.


“Hentikan rasa takjub mu itu, dia musuh kita! musuh!” Menty menekankan kata musuh itu berulang kali, membuat Lipa diam sebentar, tapi tidak berhenti memandangi Dinia.


“Mah, kenapa sih kak Sean tertarik sama tu perempuan.” protes Nosi, Putri kedua Menty.


“Mama juga ngga tahu, kakak kalian itu katarak pasti, kita harus memanggil sepupu kalian yang dokter itu kemari.” ujar Menty.


...“Setuju mah, biar mata kak Sean di periksa dan di obati.” balas Nosi....


“Ngga perlu kali, kalau dasarnya udah suka, ya suka aja, mata kak Sean ngga bermasalah, mata kalian yang bermasalah jelas-jelas kakak ipar keren begitu.” ujar Lipa lalu berjalan mengejar Dinia yang keluar menuju taman belakang.


“Mata kamu kali yang masalah, mah sepertinya kak Lipa juga kena katarak tuh.” ujar Nosi.


“Aduhhhhh, Kepala ku jadi puyeng ini, kenapa sih kalian meributkan wanita itu. kakak kalian itu pake suruh-suruh kita ambil peran di dramanya lagi, kamu juga Lipa, kenapa selalu kagum dengan perempuan itu.” perotes Menty yang tidak terima, tiga dari empat anaknya mulai menyukai Dinia.


“Mama, aku peringatkan ya, sebelum semua terlambat, mama harus menerima kakak ipar dan memperlakukannya dengan baik, karena Sepertinya kak Sean sedang berbunga-bunga kepada kakak ipar.” ujar Lipa lalu melenggang pergi.


“Apa-apaan.” protes Menty.


Di taman belakang, ada buah-buahan yang di tanam oleh pengurus taman, Dinia baru mengetahui tempat ini akhir-akhir ini. karena rumah yang begitu luas itu–ia tidak kepikiran akan menemukan kebun buah-buahan yang di tata secantik mungkin di sana.


“Nona anda mau memetik buah apa. di sana ada buah stroberry yang sudah kematangan, ada juga buah semangka yang akan panen perdana. selainnya ada buah jaitun yang siap panen kapan saja.” ujar pak kebun, yang biasa di panggil Jus, pria itu bernama asli Jusuf.


“Wah,,, sepertinya akan menyenangkan kalau aku memanen beberapa macam buah hari ini pak Jus.” balas Dinia. “Bibi Del, berikan keranjangnya.” Dinia mengulurkan tangannya.

__ADS_1


“Ini kakak ipar.” Lipa menyerahkan keranjang kecil tempat stoberry.


“Kenapa kamu disini! Dimana bibi Del.” Tanya Dinia.


“Bibi Del aku suruh masuk, aku yang akan menemani kakak ipar.” ujar Lipa, lalu menggandeng tangan itu.


“Apa katamu! kakak ipar! kau mau aku beri vaksin pada bibir mu, agar jera memanggilku kakak ipar” ujar Dinia protes, entah kenapa jika dia dipanggil begitu, bulu kuduknya merinding. Orang-orang ini begitu aneh.


Gumamnya.


“Iya deh kakak.”


Dinia memulai memetik buah strawberry kesukaannya, di pohon buah berwarna merah itu banyak terdapat buah strawberry yang besar dan sangat merah, menggiurkan sang empu yang memetiknya.


“Pak Jus, ini kalau dibikin jus segar pasti kan.” Ujar Dinia.


“Benar nona.” jawab pak Jus.


“Aku tahu.” Dinia mencelupkan satu buah strawberry ke dalam baskom berisi air, lalu mencucinya sekali lagi dengan air dari air mengalir yang di sediakan Pak Jus.


Dinia melahap buah itu.


“Uhmmmm segar.” Ujarnya.


“Wah aku juga mau donk.” Lipa melakukan hal yang sama dengan Dinia.


tidak lama setelah petik memetik itu, Aina datang,

__ADS_1


“Kalian ngapain.” Tanya gadis itu, sambil menenteng alat lukisnya.


“Aina, kau mau mencobanya, buahnya sangat enak.” Dinia berjalan mendekati Aina, menyuapi gadis itu dengan buah yang sudah di cuci bersih.


“Enak kan.”


“Enak kak, segar. asam dan manisnya pas.” ujar Aina.


“Kakak aku juga mau di suapi donk.” ujar Lipa, terkesan cemburu.


“Ya sudah lebar kan mulutmu.” Dinia menyuapi Lipa.


“Eh tunggu, sepertinya pose ini sangat menarik, kak Dinia dan kak Lipa pertahankan posisi itu ya, aku akan melukis kalian.” ujar Aina bersemangat.


“Oh baiklah, aku juga suka lukisan mu yang bagus.” Dinia setuju. yang paling kesulitan disini adalah Lipa, harus menganga sampai Aina selesai melukisnya.


Epilog.


Di dalam kamar megah lantai dua, seorang wanita paruh baya duduk di depan meja yang di penuhi makanan rumah.


“Siapa bilang aku ngga bisa makan pakai tangan.” Gumam Menty, lalu memulai menyentuh nasi dengan jemari.


“Astaga, ini benar-benar payah.” Gumamnya lagi, sambilencoba beberapa kali.


“Wah aku hampir bisa.”


Wanita itu berusaha mengangkat nasi dengan jemarinya tapi jemari itu terasa keluh dan tidak berdaya hanya untuk mengangkat sesuap nasi saja.

__ADS_1


“Apa yang salah, bukankah ini cuma hal yang mudah.” grutunya kesal, Menty tidak berhasil melakukannya. setiap ia mengangkat nasi dan menyuapinya butir-butir nasi itu terjun kembali kepirimg, kenapa. Isa begitu? entahlah mungkin Menty tidak terbiasa sedari kecilnya ia tidak pernah makan tanpa sendok.


“Ya tuhan, apa aku salah. Rasulullah saja makan pakai tangan. masa aku ngga bisa. Dinia benar-benar keren.”


__ADS_2