
Dinia terus meniupi tangan yang di penuhi bekas gigitannya semalam, sekarang di perparah remukan yang mematikan.
tangan imamnya itu sekarang membengkak.
“Maafkan aku.” Dia semakin terisak, merasa bersalah dengan keadaan yang di akibatkan ulahnya.
“Tidak apa-apa dear.” Sean mencengkam, sedikit bahagia dan tergelak dengan Kekawatiran Istrinya.
Ya ampun dia menggemaskan, aku tidak tahan ingin berbuat nakal.
Sean mencium bibir berisi Istrinya, membuat Dinia bungkam seketika, senyap dalam belenggu hasrat.
“Kenapa dear.” Ujar Sean dengan wajah yang berseri.
Tiba-tiba Dinia melontarkan kalimat yang membuat Sean sumringah.
“Sekali lagi.” dengan rona merah di pipinya.
“Tentu saja dear.” Dengan naluri kelakiannya yang menggema, Sean meraih dagu manis itu dan menyesap bibir manis Dinia.
“Kau suka?”
Dinia menggeleng.
“Kamu tidak berkarisma, tidak memikat sama sekali.” Ujar perempuan itu lalu mendorong Sean setelah mendapatkan apa yang di inginkan.
“Apa katamu dear.” Sean tersiap meraih pinggang Dinia yang hendak melarikan diri, memberi ucap meraung pada Diniah karena kaget.
__ADS_1
“Want to play?” ucar Sean nakal.
Dinia bersemu, ajakan itu sungguh tidak bisa di tolak kan, bersamaan dengan Sean yang sekarang menyusuri lorong-lorong sensitifnya.
“Aduh.” Teriak Dinia, menampar Sean kasar. membuat pria itu tergelak.
“Kenapa dear? terlalu wah?” ujar Sean membuat Diniah menggigit bibir Suaminya itu.
“Auhhh.” Adu Sean kesakitan.
“Kau mulai berani ya.” Memeluk tubuh itu dan meloroti kemeja Dinia, menampakkan bahu seputih susu itu, seketika naluri kelakiannya semakin bergejolak.
“Dear.” dengan suara serak dan berat.
“Hmmm.” Jawan Dinia malu-malu.
“Ya boleh lah,” jawab Dinia bersemangat, terlalu bar-bar untuk dia yang selalu mementingkan kesopansantunan.
Sean tergelak, sejurus itu pula mengangkat Dinia ke atas tubuhnya, ia tidak ingin mengambil resiko jika menindih Diniah, takut terjadi sesuatu kepada bayi mereka.
di sela-sela raupan bibir yang indah, Kedua sejoli yang sedang kasmaran itu di buat kaget dan hilang arah, suara handle pintu berderit, sesigap itu Dinia membanting Suaminya terjungkal ke atas kasur.
“Astagfirullloh kakak ipar.” Panik Lipa, Alenta, Aina, dan Nosi, kala berhasil membuka kunci dan langsung mendapati adengan kasar.
sang istri menganiaya suaminya.
*******
__ADS_1
Tidak ada yang tahu kejadian seperti apa itu sebenarnya, saat ini semua Keluarga sudah berkumpul di kamar Sean dan Dinia.
Menty selaku orang tua berdiri di hadapan anak dan menantunya.
“Kalian ini bagaiamana? masa bertikai sampai baku hantam segala.” Sesal Menty yang menghakimi anak dan menantunya.
“Sean! Seharusnya kamu mengalah kepada Dinia, dia sedang bunting anak kamu. heran deh.” Menyalahkan Sean dengan keadaan yang ada.
“Kamu juga Dinia, bisa-bisanya membanting pria bertubuh kekar seperti itu, hebat kamu.” Menty mengacung jempol kepada menantunya.
“Kakak ipar memang keren, tapi kasian kak Sean. takut tangannya patah.” lirih Nosi dan langsung memijit-mijit kakaknya.
Sean dan Dinia saling berpandangan, heran. dan bahkan tidak terpikirkan entah dari mana Keluarga besar itu mendapat dalih bahwa mereka sedang bertengkar.
“Untung saja kita cepat kan Kak, kalau tidak Kak Sean pasti babak belur di buat kak dinia.” Seru Aina.
“Benar, tindakan yang kita buat memang benar. terkadang kita butuh keberanian untuk bertindak, dan terkadang kita harus meniadakan sopan santun demi keselamatan, ngga papa dobrak kamar orang, yang penting keadilan tetap tegak.” ujar Alenta sok bijak.
Sean menepuk jidatnya, Entah bagaiamana ceritanya, saat ini keadilan tidak setegak tubuh bagian bawahnya, gara-gara kesalahan pahaman. Dia dan sang istri gagal tanam benih.
“Sudahlah, kalian bubar dan pulang ke kamar masing-masing.” Usir Sean kepada wanita-wanita yang memenuhi kamarnya dan Dinia.
“Mengganggu saja.”
“Kak kami menyelamatkan mu, kenapa malah mengusir sih.” Ujar Nosi.
“Biarin aja kali, kita lihat saja besok, gimana bentuk kak Sean yang sombong itu, pasti bakal babak belur di hantam kakak ipar. udah di tolongin malah di usir.” Kesal Alenta dan langsung pulang ke kamarnya.
__ADS_1