
Entah kapan sandiwara itu akan berakhir, kapan juga kebenaran akan bermuara.
sepertinya Sean semakin suka saja bermain-main dengan Istrinya.
Ceklek, pintu kamar Aina di buka oleh Sean, tampak lah dua orang perempuan yang sedang duduk di atas ranjang, sibuk memerhatikan lukisan.
“Kau yang melukis ini Aina.” tanya Dinia takjub.
“Iya kak, aku suka sekali menggambar, sampai kak Sean memberiku izin sekolah seni menggambar.” ujar Aina girang.
“Aina, sudah ku bilang kan, jangan menggunakan nama kakek mu untuk kakak mu, itu terdengar bodoh dan menjijikkan.” Ujar Dinia bergidik ngeri.
“Upsss, maaf kak.” Aina yang mulai mengerti situasi pura-pura tidak mengerti.
“Sebentar, sepertinya aku meninggalakan sesuatu di koperku, aku akan menyuruh pak Prem membantuku, kakak jangan kemana-mana ya." Ujar Aina, gadis itu berjalan ke ambang pintu, dimana Sean berdiri.
gadis itu menggeleng saat bertatap muka dengan kakak kesayangannya, mengangkat alis seolah meminta jawaban.
“Nanti akan ku ceritakan.” Bisik Sean sambil mencubit pipi adiknya itu.
Aina memutar bola mata malas, kakak nya itu memang jahil, Aina pikir kejahilannya akan hilang seiring bertambahnya usia, tapi sekarang ia melihat betapa tidak berakhlaknya kakak lelakinya itu dengan mempermainkan kakak iparnya sendiri.
Tunggu saja, akan ku bongkar penyamarannya.
hehe.
Dinia yang menunggu di atas ranjang di kejutkan dengan kehadiran Sean.
pria itu memeluknya, mengelus pinggangnya nakal.
“Sialan, apa yang kau lakukan.” Satu tamparan menganak di pipi Sean.
Sean menyentuh tamparan yang selalu terasa panas dan nyeri itu.
pria itu menggenggam tangan Dinia erat. memilinnya satu persatu.
“Kau pikir, apa yang akan terjadi jika aku meremukkan jemari mu satu persatu, apa tamparan mu masih sekeras sekarang.” ujar Sean di barengi seringaiannya.
Dinia mulai cemas, memandang tangannya yang sudah dipilin oleh Sean, teramat takut jika perkataan pria itu benar. bisa gawat kalau Dinia kehilangan kesepuluh jemari berharganya.
“Lepaskan aku pria tidak tahu malu.” Dinia memaki Sean.
“Hoho, kau mau aku menunjukkan seberapa tidak punya malunya diriku?” ujar Sean, lalu mencium bibir Dinia yang sedikit berisi.
Cuihhhh.
__ADS_1
Dinia meludahi Sean, saat tangan dan kakinya tidak bisa di gerakkan, meludahi lah cara ia melindungi diri.
tapi bukannya berhenti dan marah, Sean malah semakin menggagahinya. membuatnya murka dan teramat kesal.
“Lepaskan aku kurang ajar.” Dinia memberontak, ia menatap pintu, berharap Aina akan datang dan menyaksikan kebejatan kakak lelakinya itu.
“Aina tolong.” Ujar Dinia, tapi mulut itu segera di bungkam dengan ciuman.
Semua sudah terlambat, sangat terlambat.
Sean sudah merenggutnya kembali di hari ini.
Sean bangkit dari tubuh Dinia, meninggalkan wanita yang sudah merasa berantakan.
Apa salahku, kenapa aku hidup di dalam kehinaan ini, aku sangat membencinya.
Sean keluar dari kamar, lalu bicara kepada Prem.
pindahkan kamar Aina kelantai Tiga, jangan biarkan siapapun masuk ke kamar ini, suruh bibi Del membantu Dinia mandi.” perintah Sean.
“Baik tuan.”
selalu saja begitu, tapi apa yang bisa mereka lakukan, tidak ada yang bisa mereka salahkan, jika bicara tentang pelecehan, Dinia adalah istri tuan mereka. hanya saja derama yang mempersulit semuanya, membuat kesalah pahaman yang berlarut-larut.
Di ruang baca, Semau anggota keluarga di kumpulkan, kecuali Dinia.
sekertaris Ham dan Prem berdiri tidak jauh dari Sean.
“Dengarkan ini Keluargaku. Sekertaris Ham akan membacakan situasi yang terjadi di keluaga kita beberapa bulan ini.” ujar Sean. lalu memberi kode kepada Ham agar mulai bicara.
Ham maju beberapa langkah, lalu menunduk hormat.
“Setelah tuan muda menikah dengan Nona Dinia, ada beberapa drama yang sedang terjadi di rumah ini. bahwa nona Dinia tidak tahu dia menikah dengan tuan muda, yang nona Dinia tahu adalah.
ia seorang istri kakek tua, yang mempunyai menantu bernama Menty, dan empat orang cucu. jadi untuk itu, kita di rumah ini harus mengikuti drama ini dan berperan dengan sebaik-baiknya.” Ujar Ham mengakhiri pengumumannya.
“APA?!” jawab Menty dan kedua putrinya, sedangkan Aina sudah tidak merasa asing dengan cerita ini, ia sudah tahu sejak kejadian di kamar itu.
“Sayang, apa yang kau lakukan, kasihan istrimu yang biasa-biasa itu. dia jadi kebingungan kan.” Menty berkomentar.
“Jadi kakak ipar biasa saja gitu di nikahkan dengan kakek-kakek!” Ujar Nosi.
“Wahh kakak ipar keren, tidak memandang rupa dan kekayaan, bahkan ia tampak bahagia meski dinikahkan dengan kakek-kakek.” tambah Lipa.
“Mah aku mau ngepans sama kakak ipar deh, dia keren banget sih.”
__ADS_1
“Ngga boleh, Mau dia sekeren apapun tetap aja kalian tidak boleh dekat-dekat dengan wanita yang sudah merebut kakak kalian dari kita.” Ujar Menty terkesan cemburu.
“Terserah kalian mau menyukai Dinia atau membencinya, yang pasti Dinia tidak akan terpengaruh, meski kalian membencinya, dia terlalu kuat untuk di taklukkan." Sean memuji bakat Istrinya.
“Apa.”
Sean tidak mau lagi berbasa basi, ia segera keluar dari ruang baca, menuju kamarnya, mandi lalu shalat dan makan malam, setelah itu berbagi kasih dengan Istrinya.
begitu rencananya.
Makan malam yang menegangkang di Mulai.
Sean duduk di kursinya, di ikuti oleh kuarga lainnya,
tapi Dinia menatapnya sangar, ingin sekali memarahi pria itu jika anggota keluarga yang lain tidak berada di situ.
Wah kakak ipar keren, di rumah ini tidak ada seorangpun yang berani menatap kesal kepada kak Sean, atau sekertaris siap siaga itu akan memberi peringatan.
Bahkan sekarang Sekertaris Ham tidak berkutik meski kakak ipar mempelototi kak Sean begitu.
“Kakak ipar keren.” Lipa mengajukan jempol.
“Lipa habiskan makananmu.” Tegur Menty kepada putrinya itu, lalu menatap kesal kearah Dinia.”
Kenapa Sean tertarik kepada wanita ini sih, memang sih dia sedikit manis, tapi kan masih banyak wanita yang lebih cantik dan bohai.
Guamm Menty di dalam hatinya.
Dinia meletakkan sendok dan garpu, memulai makan dengan tangan setelah mencucinya di wastafel.
Astaga, dia manusia apa orang hutan, kenapa makan pakai tangan begitu.
Pikir Menty, ia sudah sangat kesal dengan kajian menantunya.
“Wah kakak keren. aku juga mau ah.” Lipa berjalan ke wastafel. Lagi-lagi Lipa menjadi pengagum setiap gerak-gerik Dinia, dan itu sukses membuat Menty marah besar.
“Hentikan Lipa, duduk dan makan saja, Sendok dan garpu di ciptakan sebagai alat kita makan, kenapa mencontoh wanita kampungan itu.” ujar Menty.
“Apa? kampungan. anda menyedihkan sekali,. mengatakan cara makan saya kampungan, Rasullullah saja makan pakai tangan.” ujar Dinia membungkam mulut Menty.
“Saya jamin pasti anda tidak bisa makan pake tangan kan. benar-benar kampungan.” balas Dinia melontarkan kata-kata Menty yang di ucapkan tadi.
Menty hanya diam, ia menatap putranya yang sedang menahan tawa di balik sapu tangan,
Apa-apaan, Anakku saja tidak mau membelaku.
__ADS_1
Menty berjalan menuju kamarnya. dengan perasaan kecewa.