
Diniah mengepal tangannya geram, pasalnya sang kakek tercinta menyesaknya pulang bersama Sean.
Sirnah sudah angan-angan yang di rencanakan, padahal pagi ini Dinia dan kedua Cucu palsu itu akan merayakan hari tanpa Sean.
“Ayo Dear.” Sean menggandeng Dinia yang masih berdiri di hadapan semua orang.
Beraninya Dia memanggilku Seperti itu di hadapan orang ramai.
Grutu Dinia semakin geram.
“Nia sayang, ayo silahkan pulang. bukankah sudah waktunya kamu kembali Kerumah suami mu.” ujar Sanjaya.
Apa?, sejak kapan kakek mendukung ku ke keluarga itu.
“Kakek sadar apa yang kakek bicarakan, kakek menyesak Dinia pulang?” ujar Dinia tidak percaya.
“Sayang, bukan begitu maksud kakek, kau kan sedang hamil, sebaiknya kembali lah, kakek khawatir jika kau kelelahan, bayi mu akan merasakan dampaknya.”
Apa? Bahkan kakek begitu Kawatir dengan Bayi ku, apa sekarang? semua orang sudah berubah, kakek yang baru kemarin membelaku sudah berubah.
“Baik, aku akan pulang.” Ujar Dinia, wajahnya terlihat kecewa dengan perilaku Wijaya.
Melangkah keluar bersama rombongannya untuk pulang.
Di Tempat berdirinya, Wijaya sedikit tidak terima, Karna menyesak Dinia pulang bukanlah keinginannya, melainkan suruhan Sean yang ingin Dinia segera pulang.
“Tuan Wijaya terimakasih atas kerja samanya, Tuan muda pasti bahagia.” Ujar Ham, menyalami Wijaya lalu menyusul Sean dan yang lainnya.
“Pemuda itu Antusias sekali, Berarti dia mencintai Dinia donk ya.” tanya Wijaya kepada Fhiari.
“Sepertimya begitu Kek, tapi yang membuat saya heran, kenapa harus menyamar menjadi kakek-kakek?” Ujar Fhiari mengeluarkan pendapat.
__ADS_1
“Entah lah, mungkin dia bosan menjadi tampan,” Jawab Wijaya dan akhirnya melenggang pergi.
******
Di perjalanan, Sean dan Dinia pulang satu mobil di supiri Ham, sedangkan Lipa dan Aina di antar oleh Max.
“Bagaimana perasaan mu Nek, apa kau bahagia.” Tanya Sean sembari menyentuh Tangan ala kuli itu.
Bahagia Dengkul mu, lebih tepatnya menderita.
Batin Dinia,Wanita itu masih enggan mengeluarkan suaranya, bicara kepada Sean sungguh sangat memuakkan.
“Hehe, Setelah mengandung, Nenek menjadi semakin sombong ya.” Ujar Sean lagi.
membuat Dinia semakin malas.
“Berisik.” Dinia menggeser Tubuhnya menjauh, tapi dasar Sean yang kurang ajar malah menarik Dinia kepelukannya.
Sialan, apa yang dia lakukan, semakin kesini dia semakin kurang ajar ya, bahkan berani melakukan ini di hadapan Sekertarisnya.
“Lepaskan aku Pria mesum.” Ujar Dinia, sengaja bicara Lantam agar Sean mendengarnya. tapi tetap saja pria itu bungkam.
Yang benar saja, tidak mungkin dia tidak tahu kan, semua permainan turannya, akunya saja yang bodoh terlalu berharap dia mau membelaku, ya jelas saja dia di pihak tuan mudanya.
Batin Dinia kesal.
“Nenek menurut lah.”
Apa dia gila? berani-beraninya melakukan ini padaku. padahal sekertaris Ham tidak tuli.
benar-benar Psycho.
__ADS_1
Dinia.
Ham yang sedang menyetir tidak berkutik, pura-pura tuli meski ia mendemgar dan tahu semuanya.
Dasar Tuan muda.
Batinnya teramat memaklumi.
Di dalam mobil yang ditempati Aina dan Lipa, kedua orang itu sibuk menggali info mengenai Dinia kepada Pengawal Max.
“Kak Max, Kakak ipar sukanya apa sih.” Tanya kedua orang itu.
“Saya kurang tahu nona, saya kan baru sekali keluar bersama Nona Dinia.” Ujar Max Jujur.
“Oh baru sekali ya, Kalian kemana saja, wahhhh aku cemburu sama kak Max masa udah pernah jalan-jalan sama kakak ipar.” Ujar Lipa.
“Pasti menyenangkan di ajak kakak Ipar.” tambah Aina.
“Benar nona, sangat menyenangkan, Tapi mengerikan, waktu itu nona hanya membawa saya dan Min ke pasar tradisional.”
“Hah? pasar?” ujar kedua gadis itu serentak.
“Iya, Tidak banyak sih yang kami lakukan, tapi itu membuat saya candu, bahkan tanpa nona tahu saya sering mengunjungi tempat itu sampai sekarang.” ujar Max.
“Dimana? kak max ayo kita kesana.”
“Jangan Nona.”
“Aaa ayolah kak Max, sekali ini aja.”
“Baiklah nona.”
__ADS_1