
Sean mengusir perempuan-perempuan yang selalu ada di kehidupannya itu. mereka pun bubar barisan satu persatu.
ia mengadahkan pandangan ke atas dengan senyum yang membahana. Akhirnya.
sampai berujar dengan hati yang menggema.
“Dear bisa kita lanjutkan.” Seraya membalik badan kekarnya.
Dinia sudah menyatu dengan mimpi indahnya, secepat itu ia terlelap dan tidur dengan tenangnya, sesekali terkikik karena mimpi yang mungkin menggelitik.
Sean tergelak pelan, merasa gemas samping ingin mencubit habis pipi wanita itu.
”Wahh hebat sekali kau ya.” melirik jam tangannya, 11: 05 wib, jam tidur siang nona Dinia.
Sean membetulkan baringan istrinya, menambahi batal yang nyaman dan menyelimuti sampai pinggang. mencium pucuk kepala itu, lalu iku berbaring di samping Dinia.
Dia menggemaskan.
Sejujurnya, ia tidak ingin berpaling dari memandangi Istrinya, tapi sebuah kegiatan harus memalingkannya dari wajah dini, yaitu menghubungi Prem yang terdengar sigap di seberang sana.
“Ada yang bisa saya bantu tuan.”
“Cari tahu apa yang di lakukan Dinia ke kamar Nosi, dan belikan apa saja yang di miliki Nosi yang membuat istri ku bahagia.” ujarnya memberi perintah.
“Baik tuan,” Prem siap melaksanakan.
*****
Sebuah pasar, Para rakyat yang berlalu-lalang memasuki pasar tiba-tiba murka, bagaiamana tidak, tempat mereka mencari nafkah akan segera digusur paksa.
Poster-poster menunjukkan logo Swalla group telah di pasang dimana-mana, bertengger indah di setiap sudut pasar, memberi tahu secara tertulis bahwa pasar yang berdiri di atas tanah lima ratus hektar sekarang sudah menjadi milik Swalla.
“Tidak bisa, pasar ini sudah ada sejak jaman Belanda, pasar ini milik umum, fasilitas umum yang tidak boleh di rusak.” Barisan-barisan masyarakat menghalau para algojo utusan Swalla, yang digabungkan bila tiba-tiba ada perlawanan dari masyarakat seperti sekarang ini.
”Jangan sentuh pasar kami, pergi kalian.” Seorang pria muda bernama Aswan melempari para pria berdasi itu, membuat mereka surut dan kembali ke perusahaan.
Sampai disini semua masih aman, Tanah pasar akan tetap menjadi pasar, tidak ada yang boleh merebut dari tangan masyarakat.
******
Siang hari yang mulai terik, Dinia bangun setelah tidur hampir tiga jam, perempuan itu menghela nafas panjang. sebelum akhirnya berjalan ke kamar mandi sebelum melakukan shalat Dhuhur.
Setelah kewajiban terlaksanakan, Sean datang bersama Prem membawa sebuah kado besar untuk Dinia, membuatnya tercengang dan ingin memeluk Prem.
“Aaa pak Prem terimakasih banyak.” ujar Dinia terharu.
Sean menepis tubuh besar Prem, sampai akhirnya tubuh Dinia dapat ia capai dan dipeluk.
“Kenapa bukan aku yang kau peluk.”
“Untuk apa aku memeluk mu, pak Prem yang memberi ku hadiah.” ujar Dinia memeluk hadiah yang belum ia tahu itu apa.
“Tapi aku yang berencana membelikannya, itu uangku, aku yang membelikannya untuk mu.” ujar Sean dengan suara yang hampir meninggi.
__ADS_1
Brukkk.
Dini melempar hadiah kepada Sean, membuat pria itu menangkapnya gelagapan.
“Kalau begitu ambil saja aku tidak butuh.” ujar Dinia dengan mimik wajah yang cemberut.
“Dear, bukan seperti itu maksud ku, aku...” Sean belum selesai dengan kalimatnya, tapi Dinia sudah merima lagi kadonya.
“Ikhlas kan.” Ujarnya.
“Ikhlas lillahi ta'ala.” balas Sean dengan senyum sumringah.
“Isinya apa.” ujar Dinia mengedipkan sebelah matanya, genit.
“Biar ku bantu kau membukanya dear.” ujar Sean, saat itu pula Dinia kegirangan. sean memberi kode agar Prem keluar.
merek berjalan ke ranjang sambil unboxing kado spesial.
“Isinya apa.” Dinia semakin tidak sabar.
TADA.
Wahhhh matanya berbinar takjub, sebua paket Disney lengkap dengan dvd dan poster-poster terbarunya.
“Apa kau suka?”
“Aku mau langsung memutarnya,” senyumnya sumringah, sambil asik memilih DVD mana yang akan ia tonton selanjutnya.
Dinia menoleh kearah suaminya sambil mengangkat dagu manisnya yang sedikit songong dan tidak tahu diri.
“Mana?”
“Apanya dear.” ujar Sean tidak paham.
“Cemilannya, buah-buahan segar.” ujar Dinia.
“Baiklah Dear, aku akan menyuruh Prem.”
“Tidak, kau sendiri yang melakukannya.” ucap Dinia tersenyum semanis gula.
“Baiklah.”
****
Beberapa saat, Dinia sedang menikmati filmnya. sambil mengunyah buah yang di berikan suaminya.
Sean di samping istrinya sedang sibuk memaku telenan, mengupas buah dan memotong-motongnya, lalu menyuapi Ratu Dinia.
semua itu ia lakukan demi menyenangkan hati empu tersebut.
“Dear, kapan kau memanggilku dengan panggilan sayang.” Lirih Sean berharap Diniah memberi jawaban.
“Untuk apa, kita kan tidak saling sayang.”
__ADS_1
“Siapa bilang?” Ujar Sean lugas, lalu meraih dagu Dinia agar menghadapnya.
“Aku yang bilang.” ujar Dinia lantang.
“Tapi aku sayang.” Ujar Sean, tapi di dalam hatinya, tidak berani berucap langsung.
Dinia kembali menikmati cerita, snow white itu. dengan emosi dan darah tinggi, ia kesal sendiri dengan nenek lampir sang pemberi apel itu.
Dinia begitu kesal saat Putri salju jatuh dan tidak sadarkan diri, ia terus mengomeli.
“Dasar nenek sihir, tidak tahu malu.”
“Dear itu hanya cerita.”
“Diamlah, kau juga. mana buahnya.” seloroh Dinia sedikit murka.
“Berikan padaku.”
Sean menatap telenan di pangkuannya, tidak ada lagi buah yang terpotong, dengan terpaksa Sean menyerahkan sebuah apel merah kemulutnya Dinia, perempuan itu mengunyahnya. dan apa kalian tahu apa yang terjadi?
Dinia pingsan ke bahu Sean. tenang! itu hanya sandiwara.
entah dari mana Dinia pandai bersandiwara dan menirukan beberapa adengan di setiap tontonan Disney nya.
Sean Hanya tergelak dengan tingkah laku Istrinya, dengan senang hati ia mau berbagi peran dengan putri salju kearifan lokal kita.
Sean membaringkan Dinia di tempat tidur, sambil tertawa tanpa suara, rasanya menggelitik melihat istrinya itu bersandiwara.
“Dear? apa kau tahu adengan selanjutnya?” ujar Sean dengan suaranya yang berat dan khas.
“Tidak tahu! memangnya apa.” jawab Dinia tanpa membuka matanya.”
“Putri salju hany akan terbangun jika ada pangeran yang tulus mencininya laku menciumnya.” jawab Sean.
Benar kah, wahhhh romantis sekali.
Ia menunggu adegan itu, Dimana Sean yang sebagai pangeran menciumnya dan membangunkannya.
sampai bibirnya menguncup, mencari dimana bibir pangeran itu.
Sean tergelak tidak karuan, tertawa tanpa suara, demi menyaksikan kelucuan yang haqiqi.
“Dear, bangunlah ceritanya tidak seperti itu.” Ujar Sean.
“Hah.” Dinia merasa di tipu, tapi ingin di cium juga. tanpa membuka matanya, Dinia menarik kerah baju suaminya, dan mencium pria itu.
Beginilah putri salju kearifan lokal? begitu agresif dan suka membalikkan peran.
bukankah sang pangeran yang harus mencium putri salju? tapi sekarang kenapa putri salju yang melakukan itu.
sebuah tragedi yang merusak Cerita versi lama, tapi tidak apa-apa, sebuah kisah pasti menemukan versinya sendiri bukan, begitu juga di cerita kali ini.
_History Sean❤️Dinia
__ADS_1