
Kamar bernuansa gold itu terlihat sangat megah, Dinia keluar dari kamar mandi setelah membersihkan seluruh tubuhnya.
“Nona ini baju ganti anda, saya permisi dulu, selamat beristirahat.” pelayan itu membungkuk.
“Tunggu.” cegah Dinia.
“Ada apa nona, apa anda membutuhkan hal lain.” tanya pelayan itu.
“Bukan, aku hanya ingin bertanya.
Siapa namamu?” tanya Dinia.
“Delete nona.” jawab pelayan itu.
Ha?
Kenapa nama-nama mereka ajib sekali,
Tadi Premium, sekarang Delete.
“Lalu bagaiamana aku harus memanggilmu?”
“Panggil saja sesuka hati nona, atau kalau anda suka panggil saya bibi Del”
“Ohh baiklah, bibi Del kau boleh pergi dan istirahat.”
“Terimakasih nona.”
Setelah pelayan itu pergi meninggalkan kamarnya, Dinia ambruk di atas kasur yang nyaman itu.
Hah hari yang melelahkan
Ia mendengus kasar.
“Aku merasa ada yang aneh di keluarga ini,
Sean Arsaga Dinata–Sein Arsaga Dinata.
Diantara mereka siapa yang kakek dan siapa yang cucunya sih, kenapa nama itu sangat mirip. Aku jadi bingung.
Ahhh bodo amat lah, aku ingin istirahat, Ku harap tua Bangka itu tidak akan datang menemuiku.
Ceklek.
Baru saja diomongin, Pria tua Bangka itu sudah datang.
Dinia mengangkat kepalanya, menoleh keambang pintu, kakek-kakek dengan tongkatnya mulai berjalan menghampiri.
Aishhhh, hidupku yang sial.
“Istri ku, apa kau sudah tidur.” ujar pria tua.
“Sudah, tapi kau datang membangunkan ku. Kakek pergilah tidur.” jawab Dinia.
“Aku tidak ingin tidur sayang.” balas pria tua itu.
Idihhh, dia memanggilku apa? Sayang! pria setua dirinya apa masih pantas menyebutkan itu.
Astagfirullah, jiwa barbarku ingin keluar memaki pria ini.
“Tidurlah, kau tidak takut sakit karena begadang kakek?”
“Ahahah jangan panggil aku kakek, aku sudah terbiasa sakit-sakitan. Jadi tidak masalah untuk terus begadang.” Ujar pria tua itu.
“Bagus jangan tidur, kurasa usiamu terlalu lama untuk hidup, begadang lah sesuka hatimu kek, siapa yang akan memerdulikan kesehatanmu kalau bukan dirimu sendiri.” Balas Dinia galak.
“Uhuk! istri ku, kau sangat galak, tapi perhatian sekali. Aku jadi mengingat masa mudaku yang kekar, jika saja aku masih sebugar dulu mungkin malam ini kita sudah menghabiskan malam pertama.” Bibir pria tua itu tersenyum.
“Tidak, jangan pernah berharap kakek.”
“Eitsss tidak boleh menolak ajakan suami lho, memangnya kamu mau berdosa ya.” pria tua itu terus saja menggoda Dinia.
__ADS_1
“Ya tidak. Tapi aku tidak akan berdosa jika kakek tidak berharap itu padaku.”
“Hahaha, aku tidak akan melakukan itu, mungkin saja sih tapi itu juga harus dengan ijinmu.” ujar pria tua.
“Heh kakek, memangnya anda tidak takut ya, aku pernah mendengar seorang kakek wafat setelah satu hari menikah dengan istri barunya, itunya selalu tegak meski ia sudah meninggal, ihhh angker sekali kan, apa kakek tidak takut akan seperti itu.”
“Kamu bisa aja ngarang cerita, Tidurlah.” Sean menepuk pucuk kepala Dinia.
“Ini kisah nyata lho kek, kalau tidak percaya ya silahkan. Aku hanya menyampaikan.” Dinia tetap meyakinkan.
“Baiklah, tidur yang nyenyak.”
Sean berlalu dan menutup pintu.
Dinia pun terbaring, ia tidak mematikan lampu kamarnya, untuk berjaga-jaga kemungkinan kakek itu datang lagi menemuinya.
Di luar kamar Dinia, Sean yang tidak betah berlama-lama dengan kostum penyamarannya mulai berkata.
“Cepat bantu aku melepaskannya.”
“Baik tuan.” Ham dan Prem mengangguk.
mereka masuk kedalam kamar Sean. Didalam kamar itu ada akses pintu rahasia menuju kamar di sebelahnya, yang di katakan adalah kamar kakeknya.
“Sudahlah, kalian pergilah istirahat.”
“Baik tuan.” Prem beranjak.
“Kalau begitu saya pulang dulu ya tuan.” Ujar Ham.
“Iya, terimakasih atas kerja keras mu ya.” Sean menepuk pundak Sekertarisnya.
Dan Ham hanya tersenyum.
___________________________________________
Pagi menyambut, mentari bersinar hangat, masuk menembus jendela kaca yang baru di buka oleh pelayan, Dinia sudah bangun sejak subuh tadi, tapi ia memilih rebahan di atas tempat tidur sampai pelayan bernama Delete itu menghampirinya.
“Nona ini baju ganti anda, sekarang nona harus mengunjungi tuan besar di kamarnya.”
“Tidak nona, Tuan besar sudah tua, jadi ia tidak akan turun untuk sarapan, anda yang akan membawa sarapan untuknya di kamar.”
“Ohh, ya sudah aku ganti pakaian dulu.” Dinia beranjak ke ruang ganti.
Kenapa kakek itu manja sekali sih, aku kan banyak kegiatan, kenapa sarapannya harus diantar segala sih, kan masih bisa berjalan.
Setelah selesai mengganti pakaiannya, Dinia dan pelayan Del berjalan menuju kamar kakek tua.
“Bibi Del, Ini kamar Siapa?” Tanya Dinia menunjuk kamar dengan pintu tinggi tiga meter itu.
“Itu kamar Tuan muda.” jawab Delete.
“Oh, kamar kakek tua Dimana?”
“Tuan besar nona! Suami anda, jangan bilang kakek tua, tidak sopan.” Kritik pelayan itu.
“Tetap saja, dia emang tua kan.” Dinia menyahut tak mau kalah.
Pintu kamar Kakek tua terbuka, Dinia masuk bersama pelayan.
“Istriku, kau sudah datang, aku sudah menunggu mu.” ujar kakek tua.”
“Iya kek, makan sarapan anda dan tidur lah.” Jawab Dinia ketus.
“Haha istriku kau jutek sekali sih, kan aku baru saja bangun masa sudah di suruh tidur lagi sih. memangnya kamu mau meniduri ku.” ucap kakek tua.
Idihhh, kakek mesum.
siapa juga yang mau meniduri mu. amit-amit ya.
“Makanlah jangan banyak omong kakek.” Dinia menyuapi Suaminya itu.”
__ADS_1
“Kau perhatian sekali istri ku.” Kakek tua mengelus tangan Dinia yang menyuapinya.
“Kulit mu mulus sekali istri ku.” Sambil mengedipkan mata.
Astaga! apa ini sungguh-sungguh terjadi, dia mesum dan tua. apa aku harus menyimpulkan bahwa dia kopian kakek Sugi"no.
aku sangat membenci karakter kakek-kakek mesem.
Gumam Dinia di dalam hatinya.
“Kenaps kau diam saja istri ku.” ujar kakek tua itu lagi.
“Diam kek, habiskan makananmu.” Dinia mnyuapi kakek itu untuk yang terakhir suapan.
Setelah makanan itu habis ia beranjak meninggalkan kakek tua.
“Nona anda harus sarapan di bawah.”
Ujar pelayan.
“Baik bi Del.” Dinia beranjak menuju lantai bawah.
Di dalam kamar, Sean tersenyum kesetanan. ia mengusap bibirnya yang di penuhi saos kentang.
ia lalu beranjak menuju kamarnya melalui pintu tersembunyi itu, di sana Prem sudah sedia membantunya bersiap menjadi Sean yang asli.
Keadaan di lantai bawah, puluhan koki hebat itu menyajikan Sarapan pagi yang mewah.
Apa-apaan ini,
Dinia memandangi meja makan panjang yang di penuhi makanan yang banyak.
“Siapa yang akan menghabiskan ini semua, kenapa hidupnya berkelimpahan, sedangkan di luar sana masih banyak orang yang kelaparan.”
Dinia duduk sendirian, Ia di layani dengan sangat baik.
tapi ia tidak terlalu suka, karena Dinia adalah gadis yang sederhana.
Sean datang bersama Prem, mendekati Dinia lalu duduk berhadapan.
“Silahkan makan tuan muda dan nona besar.” Ujar Prem, kepada Sean dan Dinia.”
Sean mencicipi makannya, ia ingin mual karena tadi ia sudah di suguhi sarapan oleh Dinia sampai semuanya habis.
Dinia yang ada di sebelahnya menikmati sarapan dengan tenang.
Sekertaris Ham terlihat berjalan menghampiri Sean menunduk.
“Kita pergi sekarang.” Ujar Sean.
“Baik tuan.”
Keduanya pun pergi meninggalkan rumah.
Di sana Dinia terus saja menikmati sarapan, ia memandangi beberapa pelayan yang berbaris di sisi ruangan.
“Pak Prett, apa mereka tidak di kasih makan.” Tunjuk Dinia kepada para pelayan itu.
“Tentu saja di kasih nona.”
“Tapi kenapa mereka hanya diam berdiri saja, suruh mereka duduk dan makan bersama-sama.” Perintahnya yang terdengar sangat tidak mungkin.
“Emmm Nona, Para pelayan akan makan di ruang makan pelayan yang ada di rumah belakang, makanan yang ada di rumah utama hanya di khususkan untuk nona dan tuan saja.”
“Sebanyak ini?.” Prem mengangguk.
“Jadi bagaimana kalau tidak habis? Ckck.
Bodohnya kalain membuang-buang makanan, memangnya klaian tidak tahu apa di luar sana masih banyak orang yang kelaparan.” Dinia berdiri.
“berikan Makana makanan yang tidak tersentuh itu untuk pelayan, jangan membuang-buangnya, dan satu lagi jangan memasak sebanyak ini untuk orang yang hanya tinggal bertiga di rumah.”
__ADS_1
“Baik nona.” Prem menunduk.
Dinia kembali ke kamar, bersama pelayan Delete.