
Sejujurnya, Dinia ingin berlari sekarang juga menemui Sean di kamar Mereka, tapi karena terlalu asik mengamati cerita–Wanita itu mengabaikan sedikit rindu yang datang begitu saja.
Dan ketika belum sampai di ujung cerita, Dinia sudah tidak sabar ingin menemui Sean, entah dari mana datangnya perasaan itu. yang ia tahu sekarang ia sedang merindu.
“Lho kakak ipar, mau kemana? kan belum selesai.” Cegat Nosi ketika melihat kakak iparnya tiba-tiba pergi begitu saja, tanpa mau menghabiskan Cerita.
”Tunggu Nos, ada sesuatu yang harus ku lakukan.” Balas Dinia, Perempuan itu tergesa-gesa menuju lantai tiga, kamar mereka berada.
clekkkk.
pintu kamar terbuka, Dinia yang berdiri di ambang pintu menatap suaminya berbinar. tentu saja Sean heran.
tiba-tiba ada tatapan menakjubkan tertuju padanya.
“Ada apa dear.” ucap Sean sambil memasang roman senang.
“Sepertinya aku Rindu.” balas Dinia lancar, seraya melangkah pelan.
dan Sean tersenyum kesenangan, hoho apakah Sean bisa Gr sekarang?
“Come here baby.”
Sambil mengadahkan tangan dengan lebar, Sean Tersenyum sumringah bag jamet yang kesetanan.
Dinia meraih dekapan itu, sambil berseru.
“Ayo kita ke bawah.”
Sean mengernyit.
__ADS_1
Ada apa di bawah?
“Kamar Nosi.” Ujar Dinia sekali lagi, memperjelas keinginannya.
“Aku ingin kau juga ikut menyaksikan sebuah kisah yang membuatku tergugah.” Dinia bersimpuh di atas tempat tidur, menggambarkan jemari Sean yang sedang kebingungan.
“Aku merasa itu adalah aku! kisah princess Belle adalah kisah ku.” menatap Sean sungguh-Sungguh.
Sean hanya mendengarkan ucapan Istrinya, tanpa tahu kemana perginya alur cerita akan di bawa.
“Begini, Aku adalah perempuan yang dicintai kakek ku, sama seperti Belle yang di cintai ayahnya.
tapi Belle terpaksa harus tinggal di istana bersama pria buruk rupa demi ayahnya.
sama sepertiku yang harus menikah dengan kakek tua demi menyelamatkan kakek ku, kami bernasib sama.” Ungkap Dinia, ia tertawa, bukan tertawa bahagia, lebih tepatnya sebuah rasa kecewa.
mengusap pipi itu dengan jemarinya.
“Jangan menangis. kau tidak seperti Belle, suami mu ini pria muda, gagah, dan kaya raya. tidak usah kawatir aku bukan kakek tua.”
Brukkk brukkk brukkk.
Selesai dengan kalimat menenangkannya, Dada Sean di hujami pukulan mengenaskan dari Istrinya.
“Dasar kampungan, apa faedahnya melakukan itu padaku, kau sengaja mempermainkan ku ya.” ujar Dinia kecewa, ia benar-benar terisak sekali.
“Husss baby, jangan emosi, dengarkan aku dulu.” Sean kembali menenang, melerai kesedihan.
“Baby dengkul mu, aku sudah dewasa bukan bayi.” seloroh Dinia lalu meremas jemari yang menyentuh pipinya.
__ADS_1
“Auuuh.” Jerit Sean tertahan, kala tangan yang digigit semalam, sekarang seakan di remukkan.
“Aaa maaf.” Dinia melepas pegangannya yang berbahaya, menatap iba, sambil meniupi tangan yang memar akibat ulahnya.
“Tidah apa-apa dear, jangan Kawatir.”
**
Di waktu yang sama dan tempat yang berdekatan, Nosi dan perempuan-perempuan penghuni rumah sedang berkumpul di lantai tiga.
kalau bukan gara-gara Dinia yang tergesa-gesa keluar dari kamarnya, Nosi tidak akan sepenasaran ini di buatnya, dan akhirnya Nosi mengajak semua jejeran saudarinya menguntit kelantai tiga. Dan saat Sean menjerit barusan keempat perempuan itu saling berpandangan.
“Ihh kakak dan kakak ipar ngapain? kok kak Sean sampai menjerit-jerit.” Aina berkomentar, sampai akhirnya Alenta menutup telinga adik di bawah umur mereka.
“Kan kan, benar dugaan ku, saat Kakak ipar keluar dari kamarku, glogatnya mencurigakan banget, makanya aku penasaran.” Ujar Nosi, sibiangkerok dalang penguntitan ini.
“Emangnya mereka ngapain sih.” Balas Lipa kurang tahu alur cerita.
“Sudah lah, biarkan kakak dan kakak ipar menikmati momen mesra mereka.” Alenta otaknya selaku traveling seperti tabiatnya, membayangkan bahwa yang terjadi di dalam sana adalah sebuah kegiatan asmara.
“Ihhh kakak ipar lucu deh, masa lari dari kamar Nosi gara-gara pengen nganu sama kak Sean. ihh gemesnya.” Ujar Lipa ikut-ikutan dengan pikiran Alenta.
“He kalian ngomongin apa sih, bukan gitu lho. tadi sepanjang DVD di putar, kakak ipar terlihat emosi dan membanding-bandingkan ceritanya kepada kak Sean, aku takut kakak ipar akan emosi dan menganiaya kak Sean yang tidak berdaya.” Nosi memberi penjelasan.
“Apa? jadi jeritan kak Sean tadi?” Wajah mereka pias.
terkecuali Aina, yang sedari tadi telinganya tertutup rapat.
“Ini ngomongin apa sih kak.”
__ADS_1