
Dalam suasana pasar yang riuh, Lipa menangis di ruko bang jali, tempat makan Seblak itu mendominasi Suara naga, namun tangis Lipa masih terdengar di ujung meja lima.
“Duh neng, cantik-cantik kok nangis.” Sapa bang jali yang datang membawa pesanan dua cewek cantik itu.
“Laper bang.” Lipa langsung menyambar Seblak lantas memakannya.
“Apa kata gue Lip, Dokter itu sukanya sama Aina bukan sama kamu, kamu lihat sendiri tadi kan, Dokter Fhiari bertekuk lutut di hadapan Aina.” Alenta mengingat kan kembali adengan yang menyayat hati.
“Gak, Aku percaya sama Aina, Dia tidak mungkin menghianati kakaknya.”
“Iya tahu, tapi bagaimana dengan dokter Fhiari, jelas-jelas pria itu tidak menyukai mu.” Alenta lagi-lagi menyadarkan Lipa.
“Biarkan saja, Cinta akan tumbuh seiring waktu bersama, seperti cinta kak Sean dan kak Dinia, orang itu menikah bukan karena cinta kan. lalu kenapa aku dan Fhiari tidak bisa melakukannya juga?.
tekatku sudah bulat, menikah bang Fhiari.”
Alenta hanya menggeleng.
Keras kepala.
Melihat Tatapan Alenta seolah mengejeknya, Lipa akhirnya berkata.
“Kau pintar sekali mengajariku untuk mundur. lalu kau? apa kau juga akan mundur mendekati Kak Ham?”
“Ya tentu saja tidak, aku akan mengejar Ilham sampai ke ujung dunia sekalipun.”
“Itu maksudku, aku juga akan melakukan hal yang sama untuk mendapatkan Fhiari.”
“Tapi Lipa, Dokter Fhiari mencintai yang lain. beda dengan Ham yang tidak menyukai siapapun.” Balas Alenta lagi.
“Aku tidak peduli.” Lipa menghabiskan Seblak lalu meminta lagi kepada bang jali.
Sejurus kemudian, dalam ruko panas dan kerumunan. Tiba-tiba lautan manusia menyerang. menagkap dua gadis itu dan menyandra mereka.
Lipa dan Alenta yang tidak tahu apa-apa hanya bisa teriak meminta tolong, akan tetapi orang-orang pengunjung pasar seolah menyetujui mereka di Sandra.
*******
Hari ini benar-benar Menyenangkan, Sean mengajak Dinia kemanapun gadis itu ingin di temani, sampai-sampai Sean meninggalkan meeting penting demi istri kesayangannya.
Ham yang tidak bisa membantah keinginan tuan mudanya menggaruk kepala, pasalnya Perusahaan sedang ada masalah, mengenai Proyek pembangunan Mall yang sudah di modifikasi tapi tetap menggunakan nama perusahaan.
Kapan anda sadar tuan, Kita dalam masalah. cepatlah sembuh dari penyakitnya kebucinan itu.
__ADS_1
Doa seorang Ilham Rajeksa untuk tuan mudanya.
Sean yang belum mengetahui apa-apa masih bisa tersenyum sumringah.
asalkan mengenai Dinia. Sean sangat antusias untuk itu.
seperti sekarang, pria yang tidak pernah bermain di wahana tempat permainan itu kini mulai memijaki kaki berbaur dengan rakyat penduduk kota.
Habis dari salon, Dinia mendadak ingin jalan-jalan dan merasakan indahnya permainan perahu di danau cinta.
Sean menuruti apa saja yang di inginkan Istrinya.
kedua pasangan itu menaiki perahu manual dan seanlah yang menjadi pendayung satu-satunya.
Di tepi danau, Menty mengabadikan momen itu, sambil Selfi diri sendiri.
Tangan yang sebelumnya belum pernah mendayung rakit, demi Dinia mulai melaksanakan. dengan gerak gamang Sean mendayung perlahan.
“Dear mari berlayar.” Ujarnya sumringah
“Tapi kita tidak akan jatuh kan.” Sean mulai khawatir.
“Tidak akan jatuh kalau kau tidak goyang-goyang seperti itu.” Sungut Dinia terkesan marah, pasalnya Sean tidak mampu menyeimbangkan diri sampai perahu goyang ke kanan kiri.
“Diam dulu, bisa tenang ngga sih. kalau kamu tidak mau diam aku lempar ke air biar jadi makanan piranha." ancam Dinia.
“Serius airnya ada piranha.” Kaget Sean.
“Orang bodoh macam apa yang menjadikan wisata berbahaya ini.” Teriak Sean memaki di atas perahu.
Orang bodoh macam apa yang percaya dengan omonganku, aku hanya mengancam mu saja. Disini mana ada piranha.
Guammnya Dinia menatap sinis suami bodohnya.
“Dear tenang saja, aku akan melindungi mu.” Sean mencoba memeluk Dinia, tapi gerakannya tidak seimbang membuat perahu semakin oelng saja.
“Hahh Dear.” Sean bergidik ngeri.
“Diamlah, berikan aku dayungnya.
Sean tidak bisa tenang, masih berusaha meraih Dinia.
hingga prahu benar-benar terbalik.
__ADS_1
“Seannnn.” Teriak Dinia.
“Tenang dear aku akan melindungi mu.” Balas Sean dengan teriakan pula.
Keduanya terjatuh dan basah kuyup oleh air danau.
“Dear kamu dimana, aku akan menyelamatkanmu.” Sean terus berujar.
“Tutup mulutmu penakut.” ujar Dinia menatap kesal kepada suaminya.
“Turunkan kakimu, airnya tidak terlalu dalam.”
“Hehe Dear.”
Sean yang bertumpu di badan Dinia mulai menyentuhkan kakinya di lumpur danau. dan air danau tidak begitu dalam, hanya se dada orang dewasa.
“Ayo jalan.” Titah dini menuju tepian.
Sean menggandeng tangan Istrinya itu menyebrang air danau yang tenang, sampai air itu hanya sepaha Mereka.
Jlebbb.
“Aaaahh aaaah piranha.” Sean berteriak histeris. sejurus itu langsung naik kegendongan istri, untung saja Dinia wanita perkasa mampu menenteng bobot sekekar itu.
sampai di tepian, Menty yang terkikik langsung menyambut mereka dengan ejekan.
“Sok-soakan mau pake perahu manual, Perahu mesin saja Sean takut.” Menty semakin cekikikan.
“Ibu.” Rengek Sean.
Dinia meletakkan suaminya di atas tanah yang di penuhi rerumputan, lalu mencopot kepiting yang mencengkram ibu jari Sean.
“Dear terimakasih.”
*******
Epilog.
Di pondok indah.
Lipa dan Alenta membuntuti Tiga orang itu.
namun Keinginan Alentaulai tersalurkan. saat Fhiari meraba saku jasanya, mengekuarkan sebuah cincin berlian lantas melamar Aina.
__ADS_1
bag terhujami belati, Lipa amat sangat tersakiti di tambah lagi kata-kata Alenta yang memanasi.