Ternyata Suamiku Tampan

Ternyata Suamiku Tampan
Belum lulus menjadi wanita


__ADS_3

Dinia berlari menuju kamar suaminya, mengetuk pintu itu berkali-kali, sampai pria sepuh itu membukanya dengan waktu yang cukup lama.


“Kenapa istri ku.” Tanya Sean yang terlihat berkeringat itu, dia juga tergesah-gesah memakai kostumnya sendiri saat setelah keluar dari kamar Dinia.


Dinia tidak menjawab, dia hanya memeluk suaminya sambil menagis pelan. membuat Sean merasa bersalah.


“Ada apa? kau mimpi buruk.” Tanya Sean berkali-kali.


Diniah tidak menjawab gadis itu tetap saja menangis, airmatanya berderai Membasahi dada Sean.


“Sudahlah ayo masuk.” Sean mengajak wanitanya masuk, mendudukkan Dinia di atas tempat tidur.


“Minumlah.” Sean menyodorkan segelas air putih yang selalu tersedia di nakasnya.


Dinia meminum itu dengan sekali teguk. Sean menyeka air mata Dinia seraya berkata.


“Tidurlah disini, aku akan tidur di ruang tamu.” ujar Sean segera melenggang.


“Tunggu.” Cegat Dinia.


“Tidurlah bersama ku kek, tolong temani aku.” pinta Dinia yang membuat Sean meneguk saliva berkali-kali.


Bagaiamana bisa aku menahannya jika kita tidur bersama, sebaiknya biarkan aku pergi.


Batin Sean.


“Ku mohon.” Dinia memelas.


“Baiklah.” Sean akhirnya bersedia dan berbaring di samping Dinia.


Dinia memeluk suaminya, “Aku akan aman Disini kan.” ujarnya.


Tidak, kau lebih tidak aman jika berada disini, bodoh.


Batin Sean.


“Istri ku, apa yang membuatmu sangat ketakutan?” Tanya Peria yang berulah itu.


Semua gara-gara bedebah itu, dia ingin melecehkan ku, tapi aku tidak mungkin kan mengatakan itu pada kakenya,


“Aku mimpi buruk yang sangat menakutkan.” Ujar Dinia.


Bohong! Kau berbohong.


Batin Sean.


“Jangan takut istri ku, aku akan menemanimu, dan menjagamu sampi pagi.”


“Emmm,


Tapi kek, apa kau akan percaya jika aku mengatakan yang sebenarnya.”


“Tentu saja, apa ada sesuatu yang mengganggumu?”

__ADS_1


Jika aku jujur apa kau akan percaya padaku.? Batin Dinia bertanya.


“Tidak, lupakan saja kek, aku ingin tidur.”


________________________________________________


Di Ruang makan, Dinia memulai sarapannya dengan baik, di temani bibi Del yang selalu melayaninya.


Dari arah lift muncul dua orang manusia, salah satu diantaranya adalah orang yang mengusik ketenangan Dinia.


Dinia menatap tajam kearah Sean–Peria cabul yang menggerayanginya saat malam.


Dasar bedebah sialan, beraninya memperlakukan ku sehina itu.


lihat saja bagaimana aku akan membalas mu dasar iblis.


Dinia teramat kesal dengan wajah itu, wajah tampan dengan tahi lalat di bawah bibirnya. sejujurnya wajah itu sangat tampan, tapi mengenai perlakuannya tadi malam membuat Dinia murka dan teramat geram.


“Nona apa ada yang salah.” Tanya Del yang melihat raut kesal Dinia.


“Ya, sangat salah, Kesalahan yang sangat fatal,” ucap Dinia sekeras-kerasnya.


menyindir Sean yang berlalu di hadapannya.


Lihat wajah yang tidak punya urat malu itu, dia benar-benar sengaja melakukannya, sengaja melecehkan ku sebagai neneknya.


tidak semudah itu mengganggu Dinia. Majulah aku akan menggorok lehernya dengan kehormatan yang aku punya.


Gumam Dinia, menatap Sean dengan segala kebenciannya.


“Nenek, apa maksud dari tatapan itu, kenapa bola mata nenek ingin keluar melihat saya. apa saya tampan.”


Cihhhhh.


Bedebah ini, aku ingin menantangnya di Ring sekali saja.


“Siapa yang bicara denganmu, mengapa kau memanggilku nenek tapi tidak memiliki sopan sedikit pun padaku.” ujar Dinia ketus.


“Nona tolong jaga bicara anda kepada tuan muda.” Prem datang mengkritik Dinia.


“Kenapa? kenapa aku harus menghormatinya dia saja tidak hormat padaku,” Protes Dinia.


“Apapun itu Anda tetap harus menghormati Tuan muda nona.” Ujar Prem.


“Kau juga pak Prett, kalian tidak selalu membelanya. aku muak–ingin bertemu suamiku.” Ujar Dinia lalu melenggang pergi.


“Tapi nona, Tuan besar tidak boleh di ganggu sekarang.” cegah Prem.


“Pak Prem sudah, Biarkan saja dia.” Bisik Sean pelan.


“Baik tuan.”


Dinia mulai melangkah menaiki anak tangga, tiba-tiba Sekertaris Ham muncul begitu saja, membawa seorang gadis cantik dan ayu, Yang di duga adalah pelatih khusus untuk Dinia.

__ADS_1


“Nona... Saya membawa seseorang untuk anda.” Ucap Ham.


Sontak Dinia langsung berbalik, melihat siapa yang di bawa Sekertaris Ham untuknya.


“Siapa Dia Sekertaris Ham?” Tanya Dinia tidak mengenal wanita itu.


“Perkenalkan diri anda.” tuntun Ham kepada Pelatih khusus itu.


“Perkenalkan nama saya Karbonara Nona.” Ujar wanita itu memperkenalkan diri.


Dinia mendekat, Menghampiri Ham dan wanita itu.


“Karbo-Bona-Nara!” Katakan mana panggilan yang harus ku gunakan. atau kau mau aku memanggilmu dengan nama makanan itu Karbonara!” Ujar Dinia Lancang.


membuat Karbonara Sedikit tidak nyaman.


“Tuan Ham, anda benar, Nona ini memang butuh pelatihan khusus ya, perkataannya tidak di saring ya, dan juga kata-katanya tidak mengandung keindahan.” Ujar Nara dengan gayanya yang ayu, Suara halus dan lembut itu ingin membuat Dinia tertawa.


“Kau kenapa? Tipes! suaramu hampir tidak terdengar lho, kau butuh toa tidak.” Ujar Dinia, yang mulai kesal, kesal karena kelakuan Sean yang semena-mena padanya, juga kesal dengan Prem yang selalu membela tuan mudanya, dan sekarang Sekertaris Ham membawa Wanita yang entah apa fungsinya untuk Dinia.


“Tuan Ham, Nona ini mengejutkan.” Ujar Wanita itu berlindung di balik Sekertaris Ham.


“Tidak usah berlebihan Nara, Nona memang begitu, itulah gunanya aku membayar mu untuk mengajari nona muda hal-hal mengenai wanita.” Ujar Ham.


“Baiklah Tuan Ham.”


Apa?


Apa kata mu Ham! Kau menyewa seseorang untuk mengajariku hal-hal mengenai wanita. Hei sekertaris Gadungan, Kau pikir aku tidak lulus menjadi wanita, aku tomboy-tomboy begini sangat tahu hal-hal yang mengenai wanita, jadi jangan mengajariku.


Batin Dinia.


“Baiklah jika tidak ada lagi yang perlu di jelaskan, saya dan tuan pergi dulu, selamat belajar nona.” Ham tersenyum senang melihat wajah kesal Dinia.


"Dasar sekertaris Ham sialan, siapa yang menyuruhmu sok baik menyewa pelatih untukku, aku tidak membutuhkannya, benar-benar tidak butuh." Grutu Dinia Di dalam hati, tapi ia tidak bisa meluaskan perkataannya, karena takut Ham akan murka dan menendangnya Seperti yang ia lakukan kepada pengawal Min malam itu–Dinia melihat semuanya.


Disana, Sean tidak kalah senang melihat raut wajah Kesal Dinia, membuatnya berpikir untuk tidak pergi ke perusahaan, Dan akhirnya Sean memutuskan menjadi kakek-kakek khusus hari ini agar bisa menyaksikan kegamangan Dinia yang belajar karena tidak lulus sebagai wanita.


*****


Epilog.


Gedung MOSEA, Lantai paling atas itu adalah ruangan Presdir, dimana Sean berada.


pria itu tengah duduk diatas Sova hitam sambil menyeruput kopi dari gelas porselen.


Tiba-tiba Ham masuk dengan wajah riang.


“Anda pasti sudah tidak sabar ya tuan muda.” ujarnya.


“Persis Seperti yang kau pikirkan, aku sudah tidak sabar melihatnya gemetar, di hari kau membuatnya belajar lagi. jadi kapan kau akan membuat agenda belajar untuknya?”


“Besok tuan, Saya sudah menemukan pelatih yang cocok untuk nona Dinia.” Ujar Ham.

__ADS_1


“Aku suka, saat dia protes jika kau membebaninya dengan tugas-tugas itu, bagus Ham, kita bisa libur besok dan menyaksikan permainan ini bersama-sama.”


__ADS_2