
“Hanya ini yang tersisa tuan. Kostum yang pertama anda kenakan.” ujar Prem menyodorkan kostum panas dan risih itu.
“Apa kau bercanda?” tolak Sean dengan wajah yang tidak karuan. Membayangkan saja mungkin akan sayang gatal bila di kenakan.
“Maaf tuan, kalau anda tidak mau pakai berarti tidak usah bertemu nona Dinia.” ujar Prem lalu berbalik dengan tubuh besar itu.
“Tumggu pak, ya sudah yang itu saja. Tapi besok ganti ya.” Ujarnya memelas, terpaksa memakai demi menemui Dinia.
“Baik tuan.”
Prem membantu tuan mudanya bersiap, Sedang Dinia di kamar sudah ngorok di sela-sela tidurnya.
Setelah beberapa saat kemudian, Prem kembali di panggil.
“Prem, istri ku tidur, ayo bantu aku membukanya lagi.”
Sepertinya mereka di kerjain lagi oleh Dinia.
Dengan perasaan yang tidak karuan, Sean berbaring di samping Istrinya, memebelai wajah rupawan itu.
Dia cantik.
Tersenyum sumringah kala menyentuh bibir berisi Dinia.
Rasanya pria itu tidak bisa tidur ketika Dinia di sisinya, memandang Dinia menguatkan daya terjaganya.
“Dia benar-benar manis.” mencubit pipi yang berseri itu.
Dinia tiba-tiba menggeliat, seperti terusik oleh seseutu yang tercium, perempuan itu mengendus sesuatu yang wangi.
Sampai-sampai giginya bergemelatuk di dalam tidurnya, mengigau mengunyah sesuatu.
Haha dia lucu sekali.
Sean tergelak tidak bisa berhenti merasakan kelucuan itu, terus memandangi Istrinya yang sudah merangkak menuruni ranjang.
“Eh dear mau Kemana?” tanya Sean seraya menggapai tangan yang terulur untuknya.
“Makan.”. Ujar Dinia di alam bawah sadarnya.
Sean langsung tersiap berdiri, membaringkan Dinia di tempat tidur,
“Biar aku saja yang embgambilnya kebawah, kau tunggulah disini Dear.”
TAPI Dinia tidak mengindahkannya, perempuan itu menggapi Sean semakin jauh, membuat tubuh mereka amburk ke kasur.
“Dear.” Sean yang semudah itu tersenyum langsung menempelkan bibir merah jambu mereka.
Dinia meraba jemari yang bertengger erat di pipinya, lalu mengulum dan menyesapnya.
“Enak.” ngigauan nya masih berlanjut, semakin cepat menyesap jemari Sean seperti bayi yang menyedot dot.
“Hahah dear Apa yang Kau lakukan.” Ujar Sean terkikik tidak tertahan merasa geli dengan apa yang Dinia lakukan.
__ADS_1
“Hentikan dear.”
Grebbb.
Sampai akhirnya bunyi itu memberikan sakit ke seluruh bagian jemari Sean tatkala Dinia menggigitnya dengan tenaga.
“Astaga.” Sean merintih kesakitan.
Mencoba melepaskan gigitan. untung saja jemarinya tidak putus akibat ulah sang empu.
“Astgfirulloh dear.” Sean terus menggenggam jemari kanan yang di gigit perempuan itu.
“Apa kau vampir? Dasar kanibal.” Ujar Sean kala melihat tangannya mengeluarkan darah segar. Sebagian lagi di hiasi luka memar bekas gigitan, berbentuk gigi Dinia.
“Aaaaaaaa.” Sean menjerit sesuka hatinya, toh perempuan di sebelahnya tidak akan sadar, dan terus tidur dengan senang.
*******
Pagi hari, Aula utama di gemparkan dengan tragedi gigitan Nona muda.
Para pelayan yang sedang bersih-bersih saling memberi informasi.
Di meja makan, Sean sedang di suapi sang istri kesayangannya, karena tangan kanan sudah di perban.
“Sayang apa masih sakit.” Kawatir Menty kepada anaknya.
“hanya luka kecil bukan apa-apa bu.” ujar Sean memberi tahu.
“Mama sangat Kawatir,” cetusnya
“Maafkan saya nona, saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi.” ujar Prem.
Dinia yang merasa bersalah sekarang tidak bisa berbuat apa-apa, jangankan membantah, menatap anggota keluarga ia tidak bisa. Apalagi ibu mertuanya itu.
Bodoh bodoh bodoh.
Batinnya menyalahkan diri.
Semalam ia bermimpi makan enak, Seblak level sepulu yang hanya ada di dunia mimpi, Di dalam mimpi ia sangat takjub mendapatkan ceker yang sangat besar bahkan lebih besar dari ceker kalkun, tentu saja ia bergairah apalagi ia sang pecinta ceker sejati.
Dan sekarang ia menyesal, tangan suami manjanya tidak bisa berfungsi beberapa waktu, membuatnya harus bertanggung jawab menyuapi pria itu.
“Lagi dear.” Sean yang sudah ketagihan lagi-lagi menambah makan, sangat jarang ia melakukan itu, tapi kapan lagi makan di suapi istri. Pikirnya..
Dinia hanya bisa diam dan menuruti apa kata. Hatinya.
Sekarang dia tidak seberani biasanya, apalagi dialah yang salah.
“Kakak ipar, tidak usah cemas begitu. Kak Sean ngga bakalan kenapa-napa. Tidak usah merasa bersalah.” Ujar Lipa, begitu iba kala melihat kakak iparnya gelisah.
Dinia hanya tersenyum kearah adik iparnya, untuk kali ini ia mampu menatap muka keluarnya.
Sebelumnya ia hanya bisa menyesali sambil menatap tangan sang suami.
__ADS_1
“Benar kakak ipar, jangan Kawatir.” Tambah adik ipar yang lainnya.
Dinia mari bisa bernafas lega, apalagi melihat senyum sunrise suami yang menyebalkan itu.
“Apa sangat sakit?”
Sean menggeleng, sakit sungguh tidak terasa lagi sekarang, apalagi saat dilayani seperti ini.
*******
Sebagai hukuman atas kesalahan, Dinia di haruskan menemani Sean kemanapun pria itu pergi.
Dan itu sangat membosankan untuk Dinia.
“Kita mau Kemana?” tanya Dinia kepada Suaminya yang tidak pernah dipanggil mesra itu.
“Kau harus menemaniku kemanapun kan dear, jadi tidak usah banyak tanya.”
“Aku mager.” Ujar Dinia, lalu merebahkan tubuhnya di sova dekat jendela. Orang hamil memang moodnya berantakan.
Dinia menghadap televisi yang menyala, seketika ia teringat, DVD Disney milik Nosi.
Wanita itu akhirnya berjalan dengan riang menuju lantai dua.
“Wanita ini, katanya mager, sekarang keluar masuk kamar. Sungguh membingungkan.” Sean tersenyum Sendiri, tidak apa jika Dinia meninggalakanny, lagi pula ia tidak akan membiarkan Istri kesayangannya terkekang terus menerus di sisinya.
Dinia yang sudah ada di lantai dua langsung mengetuk pintu kamar Nosi
Dan mendapat respon cepat.
“Kakak ipar.” ujar Nosi setelah membuka pintu itu.
Dinia langsung masuk tanpa pemberitahuan, di ambang pintu Nosi melihat kanan-kiri mengamati situasi, agar tidak ada orang yang iri, atau menggangu time bersama kakak ipar yang langka terjadi.
“kaka ipar mau nonton princess apa sekarang.?” tanya Nosi.
“Kamu saja yang pilih. Kamu pasti yang paling tahu.” ujar Dinia tersenyum sumringah.
“Kalau aku dulu, paling suka princess belle.”
Ujar Nosi dan langsung menyetel DVD itu.
Di atas tempat tidur, Dinia sudah berbinar menyaksikan setiap adengan menghangatkan antara ayah dan Belle, hubungan ayah anak yang sangat baik mengingatkan Dinia kepada sang kakek yang juga sangat mencintainya.
Hingga sampai ke adengan kakak-kakak Belle yang angkuh dan sombong, Dinia menatap Nosi lalu memberi pertanyaan yang menyesatkan.
“Kamu tidak seperti kakak-kakak Belle kan Nosi?”
“Tentu saja tidak dong kak, aku sangat mencintai keluargaku, mama, saudara dan saudari ku.” ujar Nosi jujur.
“Baguslah.” Dinia mulai menikmati cerita, sambil makan kudapan sehat yang di sediakan Nosi.
Dinia sungguh menikmati time bersama Adik iparnya, begitu juga dengan Nosi yang amat bahagia bersama Dinia.
__ADS_1
Siapa bilang kak Lupa dan dek Aina saja yang bisa memikat hati kakak ipar, aku jg bisa kali.
Batinnya berbangga dan teramat sombong.