Ternyata Suamiku Tampan

Ternyata Suamiku Tampan
Sudah terlalu nyaman


__ADS_3

Jangan menangis.


Di perjalanan pulang itu, tiga gadis sedang di runduk pilu, mendengar cerita masa kecil dinia–membuat mereka iba.


“Sudah, tidak usah menangis.” Dinia menenangkan ketiga adik iparnya.


“Kakak, kau menderita semasa kecil mu. aku tidak tega, kenapa kau bisa baik-baik saja sekarang sedangkan masa silam itu sangat kelam, mungkin kalau itu aku, mentalku pasti sudah terganggu.” Tangis Lipa pecah saat mengutarakan isi hatinya, ia yang berada di kursi belakang dengan Dinia–terus saja memeluk kakak ipar yang masa kecilnya sangat memilukan.


“Sudahlah itu hanya masa lalu.” ujar Dinia menenangkan. ia sendiri yang setegar karang itu akan sangat rapuh jika di ingatkan ke masa silam.


“Kakak kau wanita tangguh.” Alenta yang berada di depan menghadap Diniah, wajahnya berkaca-kaca.


”Ya iyalah, Aku Wanita yang tangguh.” Ujarnya dengan bibir bergetar, sampai ia tidak sadar air mata yang ia tahan berderai tak beraturan membasahi Kepala Lipa yang memeluknya.


Bahkan meski ia setegar karang, ia bisa menangis hanya sebuah kenangan silam.


******


""""Flashback"""""


Hujan yang semula turun lebat berkelabat, kini mulai redup berganti rebas-rebas.


Darah memberi warna ketakutan di malam yang kelam itu memberi kesan amis di beberapa arena pendiriannya, Dinia kecil masih memandangi jenazah sang papa yang terkapar tak berdaya. sambil menagis tak tentu arah, bahkan ia masih sangat belia saat itu. lima tahun.


tapi kenangn silam memaksanya ingat akan tragedi pembantaian keluarganya dua puluh tahun yang lalu.


Ayah Dinia seorang rakyat biasa yang menikahi putri konglomerat Keran Wijaya.


karena status Drajat dan takhta, Wijaya tidak merestui pernikahan putrinya dengan Basri–Seorang petani dari Aceh.


Setelah Dinia di lahirlah, mamanya meregang nyawa dan berpulang ke pangkuan sang Ilahi.


Hari demi hari mereka lalui dengan penuh pedih, Basri memutuskan membawa Dinia ke kampung halaman, menjaga putrinya yang malang tak ber-Inang.

__ADS_1


Sampai Dinia berusia lima tahun, keluarganya hancur, dengan datangnya sekelabat perisak menghantam perkampungan mereka.


Dinia yang selamat akhirnya dapat di temukan oleh Wijaya, pria itu mengasuh cucu sematawayangnya.


memberikan kebutuhan apapun yang di inginkan Dinia.


tapi Dinia tumbuh bukan seperti gadis pada umumnya, Dia cenderung tomboy dan gemar bela diri.


Suatu hari ketika kakek Wijaya menyuruhnya berlaku seperti Wanita–ia akan menjawab.


“Aku harus menjadi kuat agar bisa melindungi kakek.”


Karena bagi Dinia, penyesalan yang paling berat adalah ketika kita tidak bisa melindungi orang-orang yang kita cinta.


*******


Mobil sudah sampai di depan rumah.


Prem yang gagah sudah menyambut mereka.


Keempat perempuan itu tidak menggubris pria besar itu, mereka langsung masuk kedalam rumah, menuju kamar mereka masing-masing.


Di kamar Sean dab Dinia, Seorang pria sedang bergaya di depan kaca memperhatikan setiap lekuk penampilan.


“Betapa Tampannya Diriku.” Pikirnya.


Tanpa sepengetahuannya, Dinia sudah datang dan memasuki kamar mandi.


Membuat Sean sedikit berdehem guna mencuri perhatian.


Walaupun usahanya gagal–Sean tidak berkecil hati. lantas duduk menunggu sang istri keluar dari kamar mandi.


Dinia akhirnya keluar, mengusap wajah dengan handuk di lehernya.

__ADS_1


“Kenapa?” ujarnya galak kepada suami yang sedari tadi memelototi.


“Kau cantik.” Ujar Sean refleks.


Dinia hanya bungkam, meski mimik wajah biasa saja, tapi hati bergejolak di tempatnya.


Baru kali ini ada orang yang menyebutnya cantik.


“Geser.” Dinia berbaring di tempat tidur, lalu melotot ke arah Sean dengan seram.


“Apa dear? kau membutuhkan sesuatu.” tanya Sean.


Dinia menarik tangan Sean, lalu meraba wajah tampan itu.


“Dimana?” Ujarnya.


“Apanya dear?” Sean kebingungan.


“Kostumnya.”


Ujar Dinia.


“Sudah di buang oleh Prem,”Jawabnya jujur.


“APA?” Dinia tentu tidak terima, selama ini ia sudah terlalu nyaman dengan sosok kakek tua.


Tapi bukan itu masalah terbesarnya.


Sekarang bayi di dalam perutnya menginginkan sosok ayah dengan penampilan kakek tua.


“Memangnya kenapa Dear, lagipula aku sudah merobeknya.” ujar Sean.


“Cari! cepat cari.” Grutunya kesal, ia sudah tidak bisa menunggu, dan ingin melihat sosok itu meski hanya karakter buatan–Dinia sudah terlanjur nyaman.

__ADS_1


“Baiklah.” Sean keluar dari kamar. menghubungi Prem agar segera mendatangi.


Astaga? apa lagi ini.


__ADS_2