
Dinia mondar mandir di ruang ganti, memeriksa satu persatu lemari pakaian itu, mulai dari lemari baju sampai aksesoris ia sudah jelajahi, tapi tidak menemukan barang-barang kesayangannya.
Dimana ya, Aku kan sudah mengepak semua dari rumah kakek. batinnya.
Delete datang menghampiri Dinia, karena Dinia menelponnya tadi.
“Anda mencari apa nona?”
“Bibi, Rangsel besar saya yang dari rumah kakek kemana ya, pakaian-pakaian kesayangan saya kok ngga ada di sini ya. bibi menyimpannya dimana?” tanya Dinia.
“Oh pakaian buluk dan dan tomboy itu ya non? saya sudah membuangnya nona.” Bibi Del tersenyum.
“Apa!” Dinia sangat syok, baju-baju itu adalah baju kesukaannya,
“Dimana lagi aku harus mendapatkan baju yang persisi seperti itu bibi Del, jaket kulit dengan kain lembut, sepatu but yang sudah ku kenakan selama lima tahun, topi hitam kesayanganku.
kenapa kau membuangnya bibi Del, apa kau tidak tahu aku membelinya dengan susah payah, itu adalah barang branded di kalangan wanita tomby tahu!” Dinia bersedekap dada, barang-barang kesukaannya itu sudah hilang entah kemana.
“Maaf nona, Tuan muda yang menyuruh saya membuangnya.” Adu bibi Del.
“Dia lagi, Mau cari gara-gara sama mantan kriminal.” Dinia menyingsingkan lengan gaunnya, lalu berjalan keluar kamar.
“Nona anda mau kemana.” Bibi Del mengikuti Dinia.
Di lantai bawah, saat Dinia sudah keluar dari lift ia langsung berjalan menuju teras, Indahnya taman di bagian depan sedikit mengalihkan pandangannya.
“Luar biasa.” ia takjub melihat taman yang indah dengan lampu warna-warni menjadi penerangnya.
jika dirinya saja yang tidak terlalu memikirkan keindahan terpesona, apalagi wanita feminim yang mengagungkan keindahan.
“Nona, kenapa masih keluar kan sudah malam.” Tanya Prem yang sedang berdiri di depan rumah menunggu kedatangan Sean.
“Mau cari angin, Pak prett ngapain di sini malam-malam masih di luar.” tanya Dinia balik.
”Saya menunggu kedatangan Tuan muda nona.” jawab Prem.
Hmmm, kebetulan sekali, aku juga menunggu dia. Gumam Dinia dalam hati.
Lalu bersender di tiang besar berwarna gold itu.
“Nona, duduklah di kursi, anda akan ke kelahan nanti.” Prem menyuruh Dinia untuk duduk di kursi teras.
“Tidak usah Pak Prett,” ucapnya cuek, dia sangat bersemangat ingin membentak cucu tirinya itu. sampai-sampai tidak kenal lelah berdiri.
hampir setengah jam berlalu, dan Prem masih gagah berdiri tanpa topangan, sedangkan Dinia sudah mulai lunglai, ia menoleh kursi.
“Duduklah nona.”
Dinia menelan ludahnya, teramat ingin duduk, tapi ia masih menjunjung tinggi wibawanya.
Kalau pak Prem saja mampu berdiri kenapa aku tidak.
Pikirnya.
__ADS_1
“Anda akan kelelahan kalau tidak duduk nona,
Tuan muda masih di dalam perjalanan.” tutur Prem.
Dinia langsung menghela nafas panjang,
“Jadi kenapa kau menunggunya kalau tahu dia sampe nya masih lama pak Prem.”
“Yah begitulah nona, saya selalu bergembira menyambut kedatangan tuan muda,” jawab pria paruh baya itu.
“Terserah.” sungutnya, Dinia langsung duduk dengan cara duduk versi nya sendiri.
setelah beberapa menit menunggu–Akhirmya Sean akan segera tiba.
Titt titttt.
Mobil sekertaris Ham berhenti di depan teras,
“Tuan, Nona menunggu anda.” Ucap Ham kepada Sean mereka masih di dalam mobil.
Sean menoleh, ia menggeleng kepala, memang itulah wujud Istrinya, perempuan tomboy di paksa Feminim ya begitulah jadinya.
“Sepertinya dia perlu les, Dia belum lulus menjadi wanita.” Ujar Sean. memandang sekilas cara duduk yang merenggang itu.
Ada-ada saja, padahal dia pakai gaun begitu
Gumam Sean.
“Baik tuan, saya akan mengurusnya.”
“Selamat malam tuan muda.” Prem menyambut Sean, mereka berjalan memasuki rumah.
“Berhenti.” Dinia merentangkan tangannya, menghalangi jalan Sean.
“Ada apa.” ucap pria itu.
“Kemana? kemana kau membuang semua pakaian kesayanganku. kau tidak tahu ya aku membelinya di Dubai, Dubai!” Dinia mengulang kata Dubai di penuhi dengan kata penekanan.
Sean tersenyum sinis.
“Ham, berapa saham kita di industri sandang Dubai?!”
“Ada xx % Tuan.” jawab Ham.
“Berikan Nenek pakaian yang di inginkannya dari Dubai, tapi ingat harus pakaian perempuan.” ujarnya datar.
“Baik tuan.” balas Sekertaris Ham.
Melihat situasi itu,
Prem langsung berjalan beberapa langkah sambil tertunduk, lalu menurunkan tangan Dinia yang terlentang secara perlahan.
“Maaf nona.” Ia menunduk tidak berani menatap Dinia.
__ADS_1
Sean pun berjalan melewati Dinia, di ikuti oleh Sekertaris Ham dan Prem.
Di sana Dinia tercengang, ia memandangi kedua lengannya, entah seperti apa tadi raut wajahnya saat Prem menurunkan kedua lengan yang terbentang itu.
“Dasar bedebah. dia malah mengacuhkan ku.
mau mengirimiku baju dari Dubai segala lagi, dia pikir aku bakalan mau. mimpi saja.
aku juga berbohong baju-baju Ku dari Dubai padahal aku membelinya di pasar tradisional” Dinia terus saja berujar.
“Maksudmu apa tadi, mau pamerrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr, biar aku tahu kau orang kaya yang punya banyak koneksi sampai ke Dubai,” Dinia terus saja mengoceh sambil berkacak pinggang.
membayangkan bahwa dirinya sedang membentak Sean yang dia kira adalah cucunya.
______________________________________________
Di dalam kamar, Dinia keluar dari kamar mandi, duduk di tepian ranjang sambil mengusap Tangannya yang basah dengan sapu tangan.
Ia merebahkan tubuhnya perlahan, mematikan lampu dengan remot kontrol yang ada di nakas.
Ia pun terlelap dengan sendirinya.
Di ruang baca, Sean dan Ham masih membahas sesuatu sedangkan Prem berdiri tidak jauh dari mereka.
“Pulanglah, kita lanjut besok saja.” Sean menepuk pundak Ham, ia langsung berjalan menuju kamar.
“Baik tuan.” Ham keluar dari ruang baca.
Prem sedang mengiringi Sean Sampai ke pintu kamar.
“Istirahatlah pak Prem.”
“Baik tuan, Selamat malam.” Prem pun beranjak.
ia akan turun kelantai bawah bersama Ham mereka pun janjian di bawah tangga.
Setelah menuruni anak tangga, Akhirnya Prem dan Ham bertemu di lantai dua di bawah tangga itu adalah tempat janjian mereka.
Ham merangkul pak Prem.
“Anda bekerja keras akhir-akhir ini Pak Prem. jangan lupa minum obat dan istirahat yang cukup.” ucap Ham mengingatkan.
“Haha kau benar Tuan Ham, setelah melihat Tuan jatuh hati saya merasa terharu, saya selalu bekerja keras akhir-akhir ini sampai lupa waktu. saya gembira dengan kehadiran nona Dinia yang begitu sederhana.”
Ham Tersenyum, ia tidak ingin berkomentar kalau bicara soal Dinia,
Siapa gadis itu–Dia adalah perempuan pertama yang begitu berani menentang Sean. Ham juga tidak habis pikir, tentang bagaimana Tuan muda yang tidak pernah tertarik dengan wanita malah ingin menikahinya.
Ham menatap Prem Seketika.
“Apa tuan menyukai nona Dinia.” lisan mereka mengucap kalimat yang sama.
“Haha, aku rasa memang begitu tuan Ham.” Prem memperjelas taksirannya.
__ADS_1
“Aku setuju pendapatmu pak Prem.”