Ternyata Suamiku Tampan

Ternyata Suamiku Tampan
Profesi Alenta


__ADS_3

“Jadi gimana? kau masih ngambek istri ku, masih menyuruh ku pergi ke pemakaman?” Kakek tua bicara, mengusap lengan Dinia yang mencoba memeluknya.


Pergi saja sesuka mu.


Batin Dinia.


tapi ia tidak akan berucap seperti itu pemirsa, karena bawaan sang bayi, bibir sedikit berisi itu dengan indah mengucapkan.


“Tinggallah bersamaku kakek.”


“Baik jika kau memaksa istri ku.” Kakek tua duduk di samping Dinia,


“Bibi Del berikan makanannya.” pinta pria itu lalu menyuapi Dinia yang mendadak mogok makan itu.


“Buka mulut mu istri ku.”


Dinia menelan ludahnya, pahit, tapi rasa lapar sungguh menganiaya dirinya. perlahan-lahan Dinia membuka mulutnya mencoba mengunyah makan yang berubah menjadi hambar dan sepat itu.


“Duh rasanya pahit, ini Makanan apa sih bi? sejak kapan Koki Is Norak memasak menu empedu seperti ini.” ujarnya dengan dahi yang berkerut.


“Maaf nona, saya akan memarahi koki Norak nanti.” balas Del.


“Dinia istri ku, sebenarnya apa yang terjadi? apa kau sakit.”ujar kakek tua Sean pura-pura tidak tahu.


Diniah menatap kakek tua, bungkam. mendadak rasa bersalah yang hampir terlupakan itu timbul begitu saja.


“Aduh tuan, anda belum di beri tahu nona ya, bahwa nona muda hamil anak anda.” ujar Delete mulai aktif bersandiwara.


“Iya tuan, maaf saya tidak memberitahu anda.” tambah Prem.


“Apa. Istri ku hamil.” ucapnya riang. kakek tua yang sebenarnya Sean itu pura-pura kaget. dengan akting yang memuaskan itu, ia mampu membuat Dinia semakin merasa bersalah.


Wahai penduduk dunia literasi, beri tepuk tangan untuk sean dan kedua pelayan kurang ajar itu, akting mereka sungguh sangat memuaskan.


Dinia menatap kakek tua dengan rasa bersalah.


Ya Tuhan, seandainya saja ia Tahu, mungkin bayi ini bukan miliknya tapi milik cucu nya.


pikiran Dinia menerawang.


“Kakek aku tidak mau makan lagi, aku mau menonton film Barbie, tolong usir pretttt dan Del dari sini.” ujar Dinia. sepertinya Dinia masih kesal kepada Prem dan Delete perihal kamar sebelumnya.


“Baiklah istri ku, kalian berdua keluarlah.” mengusir Prem dan Delete.


“Baik, permisi tuan dan nona.” Prem dan Delete undur diri dari hadapan Dinia.


Dinia menyalakan televisi, menyetel gambar di layar kaca dengan tampilan Ken dan Barbie.

__ADS_1


“Suamiku kakek tua, Kemarilah.” Dinia menepuk ruang di sebelahnya.


Sean terdiam, menatap Dinia yang berbinar matanya bergantian menatap layar kaca.


oh tuhan, apa aku akan menemaninya menonton film konyol itu. tidak akan.


“swittt.” Dini bersiul guna memanggil Sean yang bengong.


“Sini suapi aku.”


Ckck.


Sean mendengus kesal, Menonton adalah hal yang paling membosankan untuknya apalagi harus menyaksikan Ken dan Barbie di layar lebar itu, hal yang akan menyakiti matanya.


Dinia menyaksikan itu dengan seksama, dia yang tomboy hanya bisa pasrah saja dengan kemauan bayi di dalam perutnya, sejujurnya Barbie bukanlah anime kesukaannya, dia lebih sanggup menonton film Hero dari Marvel.


“Hoammm.” Di sela-sela kesibukannya menyaksikan filmnya, wanita itu tertidur di bahu Sean. membuat pria itu tersenyum samar.


lalu membaringkan Dinia dan menyelimutinya.


setelah Dinia tidur siang, Sean bergegas pergi ke kamarnya, buru-buru mencopot kostum dan alat make up yang menjadikannya menjelma menjadi kakek tua.


Ini adalah penyamaran terlama selama aku menjahilinya, sampai keringat bercucuran di pelipis ku.


apa aku harus merancang ulang kulit kostum ini agar lebih dingin.


*****


Perjalan menuju rumah, Ham tidak henti mengumpat karena kelakukan Alenta, yang menyuruhnya berhentilah, mampirlah, dan lebih parahnya wanita berdarah Eropa itu turun dari mobil hanya gara-gara melihat kelabang di sisi jalan perbatasan kota.


Astaga! apa dia manusia?


Ham menggeleng kepala menyaksikan Alenta mengabadikan dua ekor kelabang yang sepertinya sedang berkembang biak di sisi jalan–yang di penuhi sampah dan rimbun akan rerumput liar.


Sejeli itukah mata seorang dokter muda itu, ya dia adalah seorang dokter mata.


“Kalau begitu kau disini saja, aku harus bergegas menemui tuan muda.” Ujar Ham yang sudah lama menunggu kegiatannya memgkepoi hewan berbisa itu.


“Ckck, Tunggu dulu Ilham, aku belum pernah melihat hewan ini di negara ku sebelumnya, Indonesia memang kaya akan segalanya ya, kaya sumber daya, kaya makhluknya, dan juga kaya sampahnya.” Ujar Alenta Sambil memotret sampah-sampah yang menggunung di perbatasan.


“Banyak omong, ini memang tempat pembuangan sampah.” Ham menarik lengan jenjang nan kurus itu, memasukkannya kedalam mobil.


mobil pun melaju hingga sampai ke rumah keluarga Dinata.


“Oh ya Ilham sayang, kenapa rumah sepi sekali?”


tanya Alenta serius.

__ADS_1


“Orang-orang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing, sudah ku bilang kan, kau tidak di butuhkan disini.” Balas Sekertaris Ham.


“He mulut mu, sembarangan.” Alenta keluar dari mobil berjalan menuju pintu masuk.


“Wahh wahh ponakan Tante terlangsing seantero jagad raya, selamat datang di rumah kita.” Menty menyambut kedatangan Alenta.


“Tante, Aku kangen sekali.” Ujar Alenta langsung memeluk Menty dan berakhir cipika cipiki.


“Masuk sayang, ada banyak hal yang perlu kita bahas mengenai masalah mata di rumah ini.” ujar Menty langsung kepada inti.


“Kenapa Tante, siapa yang sakit mata di rumah ini, kenapa tidak segera menanganinya ke dokter, duh Tante... mata adalah organ yang harus di jaga sepenuh hati, jika sakit sedikit pun langsung konsultasi ke dokter jangan tunggu lama-lama.” Alenta memberi saran.


“Iya Alen, untuk itu Tante menyuruhmu kemari, karena sebagian besar orang di rumah ini mengidap penyakit mata.” ujar Menty memberi pengakuan.


“Oh ya Tante, kok bisa seperti itu, siapa yang sakit matanya, biar Alenta periksa.” Ujar wanita berprofesi sebagai dokter mata, dokter hewan, sekaligus dokter kandungan itu, sekali-kali dia juga suka mengubah profesi sebagai fotografer. dialah Multitalenta Anjeline, dokter gaul masa kini yang memiliki banyak followers di media sosial nya.


Prokkk prokkk.


suara tepuk tangan terdengar dari tangga, di sambung suara menggelegar dari Lipa.


“Wahh wahhhh dokter Multifungsi Sampai juga.” Lipa setengah berlari mendekati Alenta.


Memegang tangan dokter muda itu.


“Aku akan mengenalkan mu kepada kakak ipar kita pasti kau suka.” ujar Lipa teramat yakin.


“Yah aku juga ingin mengenalnya.” balas Lipa dengan senyum sumringah.


“Hei kalian mau kemana?” cegat Menty yang seperti di kacangi oleh kedua wanita muda itu.


“Lipa! jangan menghasut sepupu mu menyukai perempuan itu.


dan kau Alen cepat periksa separah apa katarak yang di derita Lipa.” Ujarnya semena-mena.


“Idihhh mama, Lipa sehat-sehat saja, mama tuh yang katarak.” balas Lipa.


“Eh enak aja, mata mama sehat wal Afiat, sering makan jus tomat.” ujar Menty.


“Mama perasaan buat mata sehat bukan tomat deh, lebih tepatnya wortel.” Cela Lipa.


“Tuh kan Mana yang perlu di periksa matanya.”


“Eh anak kurang ajar, durhaka ya kamu sama mama sekarang.” Menty tersulut emosi.


“Udah Tante, Lipa juga ngga sopan kepada orang tua.


Kalian berdua harus di periksa, titik.”

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2