Ternyata Suamiku Tampan

Ternyata Suamiku Tampan
Makhluk astral


__ADS_3

Langkah kaki mendekat, Meresahkan Batin Dinia yang setengah sadar tapi malas membuka matanya, Mengantuk tapi ingin bangun–seperti itulah yang ia rasakan.


Sebuah tangan menggerayangi tubuhnya membuat matanya Sayup-sayup terbuka,


Ia ditindah bayangan hitam yang besar, membuatnya tidak bisa bergerak, Di kamarnya begitu gelap hanya ada cahaya remang-remang dari lampu tidur di nakas.


Dinia mencoba bangun tapi tubuhnya belum siap.


Ia berupaya bangun seperti yang kau rasakan saat di tindih jin, begitulah yang dirasakan Dinia sekarang, ia tidak bisa membuka mata dengan lebar atau sekedar menggerakkan anggota badannya apalagi untuk terbangun.


Beberapa menit kemudian, Sean terlihat keluar dari kamar itu, di atas ranjang Dinia mencoba mengembalikan sisa-sisa nyawanya yang belum sepenuhnya kembali'.


Hah!!!


hufff


Apa itu tadi!


Apa aku di tindih Jin.


Ia menyalakan Lampu kamarnya.


Menyeramkan, Sudah kuduga! Rumah ini memang benar-benar angker ya.


Dinia Terduduk lesu, ia kehilangan sedikit tenaganya,


Perempuan itu memutuskan memasuki kamar mandi.


mengambil Air wudhu ia segera shalat dan mengaji.


“Meski aku tidak bisa mengusir Arwah-arwah penasaran di rumah ini, setidaknya kamar ku aman dari serangan Makhluk gaib apapun.


Uhuk uhuk


Di dalam kamarnya Sean tiba-tiba terbatuk, ia sedang minum segelas air putih.


Entah apa yang ia lakukan di kamar Istrinya, tapi naluri kelakiannya mengatakan ia harus mengunjungi Dinia Saat itu, tapi entah salah Diman ia malah menindih tubuh orang hingga perempuan itu kesulitan dalam tidurnya.


Apa yang ku lakukan, pikirnya.


Tangannya gemetar–Lantas menaruh gelas di atas nakas.


_____________________________________________


Keesokan harinya, seperti biasa Dinia membawakan Sarapan untuk suami Tua nya.


Ia memasuki kamar, Lalu duduk di tepian Ranjang.


“Kakek kau baik-baik saja kan.” Tanya Dinia kepada suaminya itu.


“Aku baik-baik saja istri ku, Kau begitu perhatian.” Sean meraih tangan Dinia lalu menciumnya.


Dinia hanya diam, tidak protes saat pria tua itu mencium tangannya.


selagi tidak melewati batas Dinia bisa bertoleransi, kalau hanya memegang dan menciumi tangannya ia masih mengijinkan kakek itu melakukannya.


“Apa tidur mu nyenyak istri ku.” Tanya Sean.


“Tidak, aku tidak bisa tidur.” Dinia menjawab sambil menyuapi Sean.


“Aku di ganggu makhluk astral tadi malam.”


Uhuk uhuk.


Sean langsung terbatuk di Katai makhluk astral Seperti itu.


ia menatap Istrinya sambil menepuk-nepuk Dada.


“Minum kek, Minum! minum!” Dinia menyerahkan secangkir air putih ia ikut menepuk-nepuk tengkuk Suaminya.


“Makannya pelan-pelan saja kek, Ngga akan ada yang mau berebut makanan dengan kakek.” Sungut Dinia, Ia menyuapi Suaminya lagi agar cepat selesai.


“Kamu pasti ketakutan semalam Karna tidur sendirian, kalau begitu kita boleh tidur satu ranjang.” Balas Sean mencari kesempatan.

__ADS_1


“Apa kek! Tidak Tidak.”


Lebih baik di ganggu Makhluk astral dari pada di ganggu kakek-kakek.


Batinnya.


“Lho kenapa istri ku, bukankah aku ini suamimu.”


“Iya tahu, tapi kan kakek sudah tua, Kasihan kalau tidur denganku, aku tidurnya ngga anteng lho kek, nanti kakek sendiri yang tidak bisa tidur.”


“Tidak Apa-apa Istri ku, Nanti juga aku bisa Jinakin kamu.” Balas Sean sambil tersenyum dengan senyumannya yang menyebalkan.


Ampun ini kakek tua ya, amit-amit deh harus tidur seranjang,


“Kakek habiskan Makanan mu.” Dinia menyuapi Pria tua itu, lalu segera bergegas pergi dari kamar.


Dinia berjalan keluar, di ikuti oleh Delete dari belakang sambil membawa nampan.


“Nona anda harus sarapan sekarang.”


“Iya bi Del.” mereka turun dari lantai tiga menuju ruang makan. Dinia memulai sarapannya meski cucunya belum keluar dari kamar.


Ia mendengus kesal saat melihat sarapan yang terhidang masih sangat banyak Seperti sebelumnya.


Si Prett ini susah sekali di bilangin ya, Memangnya siapa juga yang mau menghabiskan makanan sebanyak ini,


tunggu saja nanti.


Dinia mulai makan, lupakan kalau dia seorang putri di rumah ini, Wanita itu mengangkat kakinya sebelah dan makan seperti ia sedang berada di warung nasi.


Tidak lama Sekertaris Ham pun datang menjemput Sean, ia menoleh ke arah Dinia lalu menunduk.


“Hei Sekertaris Ham, ayo makan.” Ajak Dinia.


“Terimakasih Nona saya sudah makan.” tolaknya halus.


Sean dan Prem akhirnya muncul,


“Kita berangkat sekarang!”


“Mengenai Les Dinia kau sudah mengaturnya.”


“Sudah tuan. Saya akan berusaha membuat Nona muda Feminim sebelum Nyonya Menty dan nona-nona muda datang ke rumah ini.”


“Hmm, Terimakasih Ham.”


Ham mengangguk, Ia membuka mobil untuk Sean lalu kendaraan itu melaju meninggalkan rumah.


“Tuan.” Panggil Ham.


“Iya.”


“Tapi bagaiamana dengan penyamaran tuan, Tidak mungkin nona muda kita biarkan salah sangka sampai Nyonya Menty benar-benar kembali Tuan.” Cemas Ham.


“Biar aku yang mengurusnya,”


“Baik tuan.”


Mobil melaju semakin kencang membelah jalanan kota menuju gedung Swalla Group.


Di dalam Rumah, Dinia mengikat rambutnya tinggi, Ia memakai celana keper yang ia dapat di dalam lemari di ruang ganti. Kaos oblong sebagai atasannya di lengkapi topi hitam yang menyimpulkan penampilan tomboy nya.


Dengan gaya tomboy khas Dinia ia berjalan sambil menjinjing rangsel hendak keluar rumah.


“Nona muda!” Cegat Prem di ambang pintu.


“Minggirlah pak Prett aku tidak ingin baku hantam hari ini, berhubung suasana hatiku sedang baik jadi tolong bekerja samalah.” ucapnya berkacak pinggang bicara dengan pria bertubuh besar itu.


“Anda mau kemana dengan dandanan seperti itu nona.” Tanya Prem.


Dinia menyingkap Celana yang memang kebesaran itu.


”Aku mau mencari ketenangan ke pasar raya, minggir, menyingkirlah pak.” Dinia menggeser tubuh besar itu tapi ia tidak berhasil.

__ADS_1


Sett, Dinia ingin menyela di bawah ketiak Prem tapi pria itu berhasil mencegah.


“Aishhhh Sialan.


Pak Prem bibi Del datang.” Dinia menunjuk ke arah belakang. tapi pak Prem tidak bisa di kecoh.


“Menyebalkan.” Dinia memukul dada tebal dan kokoh itu.


“Nona.” Delete memanggil Dinia sambil berlari kecil mendekati wanita dan pria besar itu.


“Anda mau kemana dengan dandanan Seperti itu.” Tanya Del.


“Ke pasar.”


“Astaga Nona, Itu celana Tuan muda.”


Seketika Suasana sunyi.


Dinia memandang Prem dan Del bergantian.


lalu menggaruk hidungnya canggung.


“Punya dia ya.


hehe.” Masih canggung.


“Biarkan saja, siapa suruh membuang semua pakaian lamaku. salah sendiri kenapa tidak menyediakan celana untuk ku. Jins kek entah apa kek pokoknya jangan gaun saja donk.” Protesnya.


“Aduh nona.” Del menarik tangan Dinia menuju kamar.


“Perempuan tidak boleh memakai pakaian yang menyerupai lelaki, tuan muda sangat membenci itu nona.”


“Apa urusannya dengan dia, aku bukan siapa-siapa nya.” Balas Dinia yang membuat Del terdiam.


Del menyiapkan satu set gaun lengkap dengan aksesorisnya, Del menyuruh Dinia mengenakannya.


“Tidak mau bibi Del, kau saja yang melakukannya.”


“Pak Prem bilang, anda boleh keluar kalau memakai pakaian dengan layak.” Ucap Del yang membuat Dinia sedikit berpikir.


Beberapa menit telah berlalu, Dinia dan Del kembali ke lantai bawah dengan penampilan Dinia yang memukau, ya meski cara berjalan itu tidak mendukung penampilannya tapi tetap saja Dinia cantik.


“Siapa mereka Pak Prett.” Tanya Dinia saat melihat dua pria gagah dengan dada yang sedikit menonjol.


Prem memberi kode untuk dua orang itu, sontak keduanya langsung membungkuk memperkenalkan diri.


“Saya Maximum nona muda.” kata salah satu dari mereka memperkenalkan diri.


“Saya Minimum Nona.” Jawab yang satunya lagi.


mereka tampak cocok memakai jas hitam yang melekat di tubuh mereka di lengkapi topi hitam di kepalanya.


“Oh.” jawab Dinia singkat, lalu ia menatap Prem dengan mengintimidasi.


“Mereka akan mengkawal Nona selama anda berada di luar rumah.” Prem menjelaskan.


“Tidak, tidak perlu Seperti itu pak Prett. aku bisa menyetir


sendiri, boleh ya.” Dinia Berharap.


“Ini perintah Tuan nona. kalau anda tidak mau anda tidak perlu bepergian.” jawab Prem angkuh.


“Ya sudah aku ijin kepada suami tua ku, kita lihat saja siapa yang akan menang.” Ujar Dinia tidak kalah angkuh.


“Tapi nona, tuan sedang istirahat, kalau anda mengganggunya dia akan....”


“Lupakan, aku tidak akan mengganggunya.” Dinia berbalik menghadap Prem.


“Baik pak Prettttttttttttttt, saya mau di kawal tapi harus yang perempuan.”


Kedua manusia yang berdiri tegap di sana langsung membuka topi mereka.


“Kami perempuan nona.” jawab keduanya.

__ADS_1


Dinia menganga, dia sudah tidak memiliki alasan lagi sekarang.


Disana Prem tersenyum kemenangan saat dia selalu yang paling benar.


__ADS_2