
Masa sih, tuan tidak menyadarinya. kenapa tuan tak bisa membedakan bentuk Prem dan nona.
Delete kembali berperang dengan otaknya, sesekali melihat ke belakang dari spion depan.
“Kamu kenapa Bibi.” Ham bersuara. Membuat Del kaget.
“Apa sebaiknya aku katakan saja pada anda tuan Ham.” jawab Del pelan.
“Katakan saja." Ham menyanggupi.
Del menarik nafas, mulai merangkai bahasa agar Ham mudah memahaminya. Tentu saja agar Tuan mudanya tidak tahu.
“Hmmmm, dear.”
Namun suara Sean membuat Del tidak jadi bicara.
“Kenapa kau tumbuh begitu cepat dalam sehari? Tadi malam kau tidak sebesar ini.” Sean bersuara. Membuat Prem dan Del ingin berhenti bernafas saja.
“Jemarimu, kenapa jemarimu jelek sekali dear. Apa Prem tidak memberimu jadwal untuk nyalon.” Sean bersuara lagi.
“Benar-benar. Tunggu saja kedatanganku Prem, aku akan membalas atas perbuatanmu kepada istri ku.” Sean mengelus kepala Prem. Membuat pria itu semakin frustrasi di dalam kostumnya.
Namun lagi-lagi Sean memperopokasi perasaan Prem, dengan menyandarkan kepala dan menggenggam tangannya.
“Aku tidak salah kan dear, kau benar-benar membesar dalam semalam.” Sean, menatap Prem yang tertunduk.
“Kau jadi pendiam saat keluar rumah, atau jangan-jangan kau menyesuaikan tingkah dengan busanamu.
Aku memang tidak salah memberi perintah agar Prem mempersiapkan ini semua.” ujar Sean lagi.
Prem dan Del semakin tegang, apalagi saat ini.
Sean mengarahkan tangannya ke perut Prem. Mengelus-elus perut pria itu.
Apa-apaan ini tuan muda, sebaiknya aku sudahi saja sandiwara ini.
Prem sudah tidak kuat lagi, namun menatap wajah Del yang ketakutan. Ia terpaksa melakukan sesuatu.
__ADS_1
Eh.
Sean merasakan keanehan.
Lantas menarik tangannya, karena Perut itu terasa rata.
“Tidak.
Sean menggeleng kuat-kuat, lalu meletakkan tangannya kembali.
Lantas tersenyum karena inilah yang sebenarnya. Perut buncit Istrinya telah kembali.
“Sepertinya aku harus banyak istirahat Dear, akhir-akhir ini isi kepala ku terlalu rumit, sampai-sampai kepikiran yang tidak-tidak.”
Prem hanya mengangguk, ia tak boleh bersuara atau kecoplosan. Karena nyawa Del ada ditangannya sekarang.
Semakin dekat Kerumah, Prem dan Del semakin pasrah.
Hingga akhirnya, waktu itu benar-benar tiba.
Mobil berhenti tepat di depan teras. Ham mulai membuka pintu untuk Sean. Dan Sean membuka pintu untuk orang yang ia kira Istrinya.
Mengelus punggung tangan wanita itu.
“Tidak apa-apa, jangan Kawatir.” bisiknya pelan.
“Gandeng aku Dear.” suara Sean kembali membuat mereka kaget.
Dengan langkah pendek, Prem menuju Sean, dan melingkarkan tangannya.
Sean tersenyum bahagia. Kali ini Dinia-nya sangat-sangat penurut.
“Kau tahu Ham, aku adalah pria yang paling bahagia saat ini.”
Pamer Sean, kepada Sekertarisnya itu.
Ya tuan, saya tahu. Kebahagian itu terlukis jelas di wajah anda tanpa anda pamerkan sekalipun.
__ADS_1
“Kau pasti tidak akan tahu rasanya Ham, dasar Jomblo.” Sean kembali tertawa.
Sean ikut tertawa, tawa yang tertekan.
“Assalamualikum, kami pulang.”
“Waalai-kum-salam.”
Sesampainya di dalam rumah.
Semua orang kaget dan hampir tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
“Kakak.” para adik-adiknya menatapnya dengan geli.
Kemudian Dinia menghampiri dengan langkah pelan karena perut buncit membuat ia semakin susah berjalan.
Sean hampir tumbang, melihat Dinia yang berjalan mendekatinya.
“Dear?” matanya berkaca-kaca.
“Sayang, Kamu ngapain gandeng pak Prem?.” ujar Dinia di barengi dengan tawa sumringah.
“Apa katamu!” Sean terbata. Lantas menatap Orang yang ia gandeng, lalu mendorongnya menjauh.
Masalahnya ia sudah memperlakukan pria itu layaknya Dinia, istri yang ia cinta.
“Menjijikkan.” satu tendangan mendarat di betis Prem.
Prem membuka cadarnya.
“Tuan.” tersenyum tanpa dosa.
“Beraninya kau menipuku. Sialan kemari kau.” Sean membuka sepatu dan melempari Prem yang berlari dengan Del.
“Aaaaahh, jantungku sakit.” Sean menekan jantungnya, hampir saja jatuh mengenai lantai. Untung saja Ham menopang tubuhnya.
“Jangan sentuh aku Ham, aku jijik dengan laki-laki. Biarkan istri ku yang membawa ku ke kamar.” ucap Sean dengan lemas.
__ADS_1
“Berikan dia padaku Ham.” Dinia mengambil tangan Sean lalu menopangnya, ia saja tak kuat menahan senyum.
Dan semua seisi rumah tertawa ketika Sean dan Dinia masuk kedalam lift