
Brukkkk.
Max terjungkal ke lantai, tertunduk tidak berani menatap Ham apalagi membalas bicara.
“Bukankah sudah ku peringatkan, jangan melampaui batasan.” Suara Ham yang berat dan menggetarkan jiwa itu akhirnya meledak-ledak, menyambar telinga Max yang semakin ke takutan.
“Sepertinya kau ingin pengsiun dari dunia pekerjaan, baik. rebahan di rumah memang lebih menyenangkan bukan.” ujarnya lagi.
Max terjenga, ia tidak ingin seperti tetangganya yang hanya bisa rebahan setiap hari lantaran pengangguran.
“Tidak tuan, maafkan Aya tuan, saya bersalah ini semu salah saya.”
“Cihh, semua sudah terlambat, apa kamu pikir saya orang yang baik memberikan banyak sekali kesempatan. mulai dari sekarang kamu di pecat.”
“Tidak tuan. Tolong kasihanilah saya, Bapak saya sudah tua, bagaimana mungkin beliau bisa mengatasi ekonomi keluarga sedangkan ibu saya suka shopping barang-barang branded.” Max bersimpuh di kaki Ham.
Ham sangat geram.
“Mulai dari sekarang, suruh ibu mu untuk tidak menggunakan barang-barang branded lagi.”
__ADS_1
Ham pergi meninggalkan Max yang serasa di hujami belati.
Hanya gara-gara membawa nona Lipa dan nona Aina kepasaran, Dia malah memecat ku, kami hanya makan Seblak, apa itu sebuah tindak kriminal makanya dia mecatku.
Sungut max terkesan tidak terima, tapi keputusan itu seperti sudah sah dan tidak bisa di ganggu gugat.
*******
Dinia yang berbaring di ranjang, tiba-tiba saja ingin menemui suaminya–kakek tua Bangka.
wanita itu melangkah keluar kamar, menuju kamar dimana tua itu berada.
“Kakek boleh aku masuk.” Suara Dinia sambil mengetuk pintu kamar.
“Kakek aku masuk ya.” Dinia masuk ke dalam kamar, jangan tanya dari mana ia mendapatkan kunci, sebelumnya Dinia mencuri kunci itu lalu membuatkan duplikat kunci untuknya sendiri.
Dinia melebarkan pandangan.
“Kamar ini memang menyenangkan, aku tidak merasa pusing di sini, di banding di kamar ku, aku merasa mual dan tidak bisa mengangkat kepala.
__ADS_1
Bagaiamana kalau aku pindah saja ke kamar ini.” Gumamnya.
Dinia menyalakan televisi, rebahan dengan nyaman, tapi ia mulai sadar akan ketidak hadiran kakek tua, padahal ia sudah lama berada di kamar.
“Kemana kakek itu pergi.” batinnya, lalu keluar kamar menuju lantai bawah.
Prem yang melihat Dinia berkeliaran langsung Kawatir, pasalnya Tuan muda sudah berpesan agar Istrinya di jaga dan tidak boleh lelah, karena Dinia sedang mengandung anaknya.
di ruang keluarga, Menty datang menghampiri Dinia.
wanita itu belum tahu bahwa menantunya sedang hamidun.
“Kamu mencari siapa? he wanita yang mukanya pas-pasan, kamu punya pelet ya, sampai bisa membuat keluarga saya menyukai mu.” ujarnya Lantam.
“Apa maksud anda nyonya Menty, saya tidak butuh trik kampungan seperti itu, memang dasar keluarga anda yang mencintai saya, Ihh kasihan ya anda sudah tua tapi pikirannya negatif Mulu, sekali-kali ikutin pengajian sana, biar hati nyonya ngga keras seperti akhlak Fir'aun.” Ujar Dinia lalu berjalan menuju meja makan.
“Berani-beraninya kau menghinaku,” Menty sangat kesal, tapi ia tidak bisa berbicara lagi, apa yang harus ia katakan, Si Dinia jelek! Si kampungan! si Tomboy yang tidak menarik, semua itu tidak pernah membuat Dinia kesal, malah dirinya yang menjadi kesal karena kata-kata Dinia yang ada benarnya itu.
Apa iya akhlak ku seperti Fir'aun, ini sangat berbahaya.
__ADS_1
Menty segera memasuki kamarnya, mencari komunitas mengaji ala muslim sosialita kelas tinggi, yang hanya di hadiri para pejabat dan konglomerat dari berbagai kalangan tingkat tinggi.
tapi ia tidak menemukannya, karena memang mempelajari ilmu agama itu tidak bisa di golong-golongkan, semua smaa Saja, tidak ada yang kaya dan tidak ada ayang miskin dalam sebuah kumpulan grup mengaji.