Ternyata Suamiku Tampan

Ternyata Suamiku Tampan
Kesalah pahaman


__ADS_3

“Apa katamu Ham, Ibu dan ketiga adik ku sudah sampai di rumah!” Sean kembali bertanya, memastikan apa yang barusan ia dengar dari Sekertarisnya adalah prihal benar.


“Benar tuan, nyonya Menty dan ketiga Nona muda sudah sampai beberapa menit lalu.”


balas Ham.


“Jadi sekarang merekah sudah menemui Dinia?”


tanya Sean penasaran.


“Benar tuan.” jawab Ham.


Apa yang akan terjadi jika mereka bertemu tanpa mengetahui status masing-masing.


“Ham, ayo pulang.” Ajak Sean.


Sekertaris itupun mengangguk, sama seperti Sean, ham juga sangat penasaran dengan apa yang akan terjadi di rumah itu nanti.


*****


Para pelayan membungkuk hormat kepada keempat wanita-wanita penghuni rumah itu, mereka sudah kembali, dalam arti kegamangan akan segera terjadi.


Prem yang menyambut mengulurkan tangannya, mempersilahkan nyonya rumah yang berkuasa itu, dialah Menty wanita sosialita yang berpenampilan elegan dan glamor. di susul ketiga putrinya yang cantik-cantik bag selebritis mevah.


“Prem, dimana Sean?” Tanya Menty, ia terlihat merindukan putranya.


“Tuan sedang di perjalanan menuju kemari nona.” jawab Prem serayar membungkuk.


“Oh.” Menty terus berjalan, sampai ia berhenti di hadapan Dinia, Dinia yang berdiri tampak memasak wajah tidak kalah arogan.


Jadi ini Ibu dari cucu-cucu ku! berarti dia membantuku.


astaga! aku tidak bisa membayangkan harus memanggilnya apa.

__ADS_1


“Hmm, Anda sudah kembali. selamat menikmati hari-hari anda di rumah ini nyonya Menty.” sapa Dinia sok Ramah, Menty mengernyit.


“Oh ya, Anda tidak usah memanggil saya ibu atau lainnya, panggil saja Dinia.” Dinia mengulurkan tangannya.


Menty hanya membalas jabatan tangan itu sampai seterusnya Dinia berjalan melewatinya menuju cucu-cucunya.


“Kalain sangat cantik-cantik.” puji Dinia.


Ini lagi, sungguh membuat ku sakit kepala setengah gila, mereka terlihat sebaya denganku, bagaimana mungkin aku bisa memanggil mereka Cucu.


batinnya bergidik geli.


“Dan kalain! dengarkan, karena kita terlihat sebaya, kita bisa saling bersapa dengan panggilan nama.


aku Dinia.” Dinia mengulurkan tangannya kepada Aina, Nosi, Lipa. adik-adik ipar yang di kira cucu itu.


“Ah iya kakak ipar senang bertemu dengan anda.” Ujar Aina. anak yang paling ramah diantara kedua kakak-kakaknya.


“Ah, Aku tahu kalian juga canggung, tapi panggilan itu terdengar cocok asal jangan pake ipar.” ujar Dinia protes.


“Entahlah, bisa aja, kak Sean kan emang aneh, tipenya lain dari kada yang lain.” balas Lipa.


“Ihh amit-amit punya kakak ipar Seperti dia. aku merinding melihatnya.” Nosi bergidik ngeri lalu menarik tangan Lipa kearah ibu kandung mereka.


“Mah, mamah ngga salah kan, itu istri kak Sean?” Tanya Nosi dan Lipa memastikan, masih tidak menyangka bahwa Kakak satu-satunya yang teramat tampan itu telah menikahi perempuan aneh seperti Dinia. bahkan Dinia terlihat biasa-biasa saja tidak ada menarik-nariknya, tidak cantik dan sangat biasa-biasa saja.


“Entah lah, kita perlu bicara kepada kakak kalian itu, di mana ia menaruh otaknya sehingga bersedia menikahi perempuan aneh seperti itu.


kalian tahu! dia tidak punya sopan santun, masa memanggil mertua dengan Nama, gila perempuan itu.” ketiga wanita itu menyalahkan Dinia yang terlihat aneh.


Di sana, di ambang pintu itu Aina menarik tangan Dinia, menuju kamarnya yang berada di lantai dua.


“Kakak ipar, apa kakak bahagia tinggal di rumah kami, apa kakak Sean baik padamu.” tanya Aina sambil berjalan memasuki lift.

__ADS_1


“Jangan panggil aku Kakak ipar, itu juga jangan terbalik-balik menyebutkan nama kakek dan kakak mu, yah aku tahu itu hal wajar tapi perasaanku snagat aneh jika nama itu tertukar.” Lagian siapa sih yang menamai mereka berdua.


batin Dinia bertanya-tanya.


Kakak ipar bicara apa sih, Aina jadi ngga paham deh. bukannya kakek udah mendiang ya sudah lama sekali, dan namanya juga "Bagus Radja Dinata," tidak ada mirip-miripnya sama kak Sean.


pasti tidak ada yang beres.


Batin Aina curiga.


“Kakak mau ku tunjukkan isi kamar ku tidak!” tawar Aina.


“Boleh.” ujar Dinia.


“Baiklah silahkan masuk kakak.” Ujar Aina. Puti bungsu keluarga Dinata itu.


Di depan rumah, mobil Ham sudah terparkir, membuat Menty dan kedua putrinya berlari menghampiri Sean.


“Kakak! kakak akhirnya kita bertemu lagi.” ujar Nosi kegirangan.


Sean turun dari mobil, memeluk adik-adik kesayangannya.


“Kalian datang, kenapa tidak menelpon terlebih dahulu.” Protesnya.


“Sayang, kami ingin memberi kejutan padamu, kau juga menikah tidak bilang-bilang, menikahnya sama perempuan aneh pula.


bilang saja jika kau ingin menikah, Ibu punya banyak kenalan keluarga terpandang, Anak mereka cantik-cantik dan berpendidikan.” Menty memulai omongannya.


“Sudahlah Bu, semua sudah terjadi, kalian harus menerima Istriku dan memperlakukannya dengan baik. oh ya Dimana Aina.” Sean berlalu menuju kamar Aina.


“Ih kakak. Aina lagi, Aina lagi, kita juga pengen di perhatiin bukan cuma Aina saja.” protes Lipa.


“Mah, kakak kenapa lebih sayang Aina sih, Nosi juga pengen di perhatiin Seperti itu.”. Rengek Nosi.

__ADS_1


“Diamlah, kalian itu sudah besar-besar, jangan bikin malu. cepat ke kamar Istirahat apa kalian tidak capek.” Grutu Menty, ia mengejar Sean dan masih ada hal yang perlu ia tanyakan kepada putra yang kurang patuh itu.


__ADS_2