Ternyata Suamiku Tampan

Ternyata Suamiku Tampan
Kesalahan Maximum


__ADS_3

“Kak Max ngga salah! ini tempatnya.” Ujar Aina, menggibas-gibas ujung jilbabnya ke wajah agar sedikit lebih Adem.


“Benar Nona.” Jawab Max.


“Gila ini keren banget, ayo serbu, kapan lagi bisa makan di pasar.” Berbeda dengan Aina, Lipa terlihat bersemangat.


Ini benar-benar Keren, lain kali aku akan mengajak Kak Dinia, hanya kami berdua.


Pikirnya.


Ketiga gadis itu duduk di meja di lengkapi tiga kursi.


“Menunya apa aja Kak Max.” Tanya Lipa.


“Ini nona, yang rekomendasi Seblak level lima, tapi saya sarankan nona Lipa pesan level tiga saja. dan nona Aina level satu saja.” Ujar Max.


“Kalau kak max pesan level berapa?” Tanya Lipa dan Aina serentak.


“Kalau saya tentu saja level lima nona.” Ujar Max sambil berfose, tangan ceklis di bawah dagunya, di lengkapi senyuman yang menyebalkan.


“Kalau kakak ipar biasanya pesan level berapa?” Tanya Lipa lagi.


“Kalau nona Dinia pesannya level Lima nona.” jawab Max.


“Kalau begitu aku juga level lima deh.” Lipa.


“Tapi Nona.” Max

__ADS_1


“Biarkan aja kak Max, Aina juga mau tuh yang level lima.”


“Baiklah nona-nona.”


*********


Dinia ketiduran sepanjang perjalanan, membuat Sean harus menggendong Istrinya menuju kamar.


“Selamat siang tuan.” Prem yang menyambut Kedatangan mereka terlihat panik dengan keadaan dunia.


“Nona muda tidak kenapa-napa kan Tuan.”


“Dia baik-baik saja.” ujar Sean terus berjalan melewati Ibu dan Nosi.


“Mah kak Dinia kenapa.” Tanya Nosi penasaran.


“Hus mama ngga boleh ngomong gitu,” Nosi menarik tangan Menty mengikuti langkah Sean.


Di depan rumah, Ham bertanya kepada Prem.


“Nona Lipa dan nona Aina sudah sampai pak Prem?”


“Belum tuan.” Ujar Prem.


Ham mulai curiga.


Masa sih, padahal ia menyetir sudah sangat lambat, atas perintah Sean tadi, tidak mungkin Dua nona mudanya belum juga sampai.

__ADS_1


“Baiklah Pak, aku pulang dulu ya.”


“Hati-hati di jalan tuan Ham” Ujar Prem.


Ham menyetir mobilnya, ia tahu Kemana harus pergi,


Pria itu melajukan mobilnya secepat mungkin menuju pasar, yang sebentar lagi akan rata dengan Tanah itu.


Pasar Ramai, Pasar yang dulunya tempat Sean dan Dinia pertama kali bertemu, pasar yang sebentar lagi akan di jadikan Mall oleh perusahaan Swalla group.


Ham berjalan menuju tempat makan itu, dimana dulu ia pernah menguntit Dinia dan kedua pengawalnya makan seperti orang kesurupan.


dan kali ini Ham menemukan kedua nona mudanya itu sudah seperti kepiting rebus, wajah dan telinga mereka memerah setelah menikmati Seblak level lima.


Ham melotot ke arah Max yang tidak tahu diri itu, bukankah Ham sudah memperingatkan untuk tidak melanggar batasan, tapi kali ini Pengawal itu melakukannya lagi, meski tidak kepada Dinia, tapi kepada adik tuan mudanya, itu sama berharganya bagi tuan muda Sean.


“Max.” Ujar Ham, matanya melotot ingin keluar.


“Tuan Ham.” Max menunduk, bergetar dan takut. ham menghampiri.


Plakkk plakkkkkkk Plakkk.


“Gila sih, ini enak bangat, aku seperti lupa diri. bisa-bisanya melihat Sekertaris Ham datang kemari, benar-benar mengagumkan.” Lipa bicara Sambil mendobrak meja.


“Nona, kalian harus pulang.” Ham menuntun Lipa ke mobilnya, Sedang Max menuntun Aina yang sudah tidak berdaya.


“Panas.” ujar gadis itu.

__ADS_1


Setelah memasukkan Lipa dan Aina ke dalam mobil, Ham sempat-sempatnya menendang betis Max dihadapan khalayak ramai itu sebagai teguran pertama, setelah sampai, pengawal itu akan mendapat ganjaran yang setimpal.


__ADS_2