Ternyata Suamiku Tampan

Ternyata Suamiku Tampan
Sebuah pertunjukan part 1


__ADS_3

Masih dalam posisi yang sama, Kakek Wijaya dan beberapa wanita penghuni rumah sedang mengadakan unboxing barang-barang bayi pemberian Wijaya, meski kakek itu tidak berkenan untuk membukanya tanpa Dinia, tapi wanita-wanita penghuni rumah itu begitu antusias mengobrak-abrik barang-barang yang terkesan imut dan menggemaskan itu.


“Pak Wijaya, apa kau bercanda? ini kan baju bayi berusia dua tahun. mana mungkin anak Sean dan Dinia bisa memakainya saat lahir nanti.” Protes Menty yang melihat baju-baju bayi berusia dua tahun itu.


“Oh begitu ya, saya tidak tahu harus membeli yang seperti apa, saya hanya membeli yang terlihat manis di pakai anak kecil.” ujar Wijaya polos.


“Ngga apa-apa kek, nanti kalau Dedek bayinya sudah gede kan bisa di pakai lagi, Aku juga suka semuanya, lucu dan menggemaskan.” Balas Aina sambil memeluk erat baju-baju itu.


“Tapi, bayi kakak ipar Cowok apa cewek ya? kenapa kakek membelikan baju-baju cowok semua, bagaiamana kalau anaknya cewek.” Alenta berkomentar.


Semua orang terjenga, usia kandungan Dinia memang masih sangat muda, kelamin pada janin masih belum terlihat, tapi sang kakek malah membeli pakaian bayi laki-laki.


“Tidak apa-apa, Apapun jenis kelaminnya nanti. kalau memang perempuan, baju-baju ini bisa di pakai untuk adeknya yang akan lahir mendatang, dan kalau laki-laki aku sangat bersyukur, lagi pula ini sebuah bentuk Doa, siapa tahu anak Dinia lahir sebagai anak laki-laki tangguh seperti ibunya.” ujar Wijaya.


Menty menatap tidak suka.


“Lah kok seperti ibunya sih, ibunya akan perempuan.” protes Menty.


“Iya, ibunya Menag perempuan, tapi ibunya kan sangat tangguh.” Jawab Wijaya.

__ADS_1


“Tapi pak Wijaya bilang anak Dinia lahir sebagai anak laki-laki yang tangguh seperti ibunya, kebalik donk pak, seharusnya anak laki-laki yang tangguh seperti Ayahnya.” protes Menty.


“Lah tidak bisa nyonya Menty, Ayah nya tidak setangguh ibunya, jadi tidak salah saya berujar demikian.” Wijaya tidak mau kalah.


Menty mulai kehilangan akal mulus nya, mulai mencibir di balik kipas motif bunga-bunga yang menutupi mulutnya.


“Dasar kakek-kakek Julit tidak mau kalah, tidak heran Diniah besarnya seperti itu, ternyata dia di asuh oleh tua Bangka Seperti ini, tidak tahu mana yang cocok untuk Perempuan dan mana yang seharusnya untuk laki-laki.”


Suasana lengang itu kembali mencair dengan ocehan Nosi.


“Tunggu dulu, kalau di perhatikan lagi, sepertinya anak kakak ipar cewek deh. pasalnya kakak ipar selalu menyukai film princess Disney dan sejenisnya.” ujarnya memberi pendapatnya.


“Yah, seperti yang seharusnya. saat mengandung kakak kalian. Mama selalu menyukai hal-hal yang berbau laki-laki, dan kalian juga sama , mama selalu menyukai hal yang berbau perempuan, seperti make up, memasak, shopping. ya begitulah.” jawab Menty.


“Berarti nanti, bayi kakak ipar cewek donk, Asyikkkk, Aina mau ajarin lukis ah, biar sama kayak Tantenya.” ujar Aina.


“Kalau aku, pasti akan ku dandani jadi cantik setiap hari.” Nosi menambahi.


“Tidak perlu di dandani juga pasti bayi kakak ipar sudah cantik, lihat saja ayah dan ibunya, pasti bayinya juga meniru fisik dari orang tuanya.” Ujar Alenta. sambil memberi tanda perfect dari jemarinya.

__ADS_1


“Ya jelas donk anaknya nanti cakep, wong ayahnya Tampan begitu.” ujar Menty tersenyum-senyum sendiri.


“Ibunya tidak kalah cantik, mudah-mudahan keturunan Dinia meniru wajah dari dirinya.” Wijaya tidak mau kalah, menyulut emosi bagi Menty yang begitu mudah darah tinggi.


“Sudah-sudah, jangan berkelahi, seperti apapun fisiknya, seperti ibu atau ayahnya, tidak perduli cantik atau ganteng. bayi kakak ipar akan menjadi kesayangan semua orang di rumah ini.” balas Aina sambil memeluk barang-barang bayi di hadapannya.


“Benar, Aina memang benar.”


Akhir dari saling tersulut emosi adalah kedamaian, dimana mereka kembali tertawa dengan gemas sambil memperhatikan sekian banyak hadiah itu.


tiba-tiba Prem datang menengahi mereka berkata dengan tunduk, wajahnya penuh gamang dan seolah tidak percaya diri.


“Ada apa pak Prem?”


“Anu nyonya, Tuan muda menyuruh semua anggota rumah mengadakan pertunjukan Putri Disney kearifan lokal.” sambil menyerahkan sebuah naskah drama yang baru saja di ketik di ruang buku, sungguh pertunjukan yang mendadak bukan?.


“Apa?”....


“Kau tidak salah pak Prem?”

__ADS_1


Semua tercengang, apa lagi sekarang? apakah semua penghuni rumah akan terlibat sekarang? begitu juga dengan kakek kehormatan Wijaya? seorang kakek yang ahli di bidang pertambangan itu akan menjadi salah satu tokoh di dalam cerita Disney kearifan lokal?.


__ADS_2