Ternyata Suamiku Tampan

Ternyata Suamiku Tampan
Sebuah pertunjukan part 3


__ADS_3

Pementasan membawa dampak positif bagi beberapa wanita, seperti Alenta yang berperan sebagai Cinderella dan Ham yang ia sukai sebagai pangerannya.


Ini adalah peran yang ia sukai, beradu akting dengan seorang pujaan hati yang sandiwaranya di bawah rata-rata, dengan mimik wajah yang begitu-begitu saja, Ham tak pernah gagal membuat Alenta gelagapan, tapi malah membuat Prem gregetan.


“Mau berdansa dengan saya.” tawar Ham dengan pandangan kedepan, badan kaku tangan keras terulurkan.


“Ayolah tuan Ham, bisakah menghayati sedikit saja, dari tadi expresi anda begitu-begitu saja, saya tahu anda tidak suka, tapi cobalah untuk sedikit menerima.” gumam Prem geregetan dengan pria yang sama sekali tidak bisa bersandiwara itu.


Alenta menyambut uluran tangan itu, berpikir untuk menolak? yang benar saja, Alenta memiliki sejuta keinginan untuk berdansa dengan Ilham Rajeksa.


Dinia selalu bertepuk tangan kesenangan, tidak perduli akting Ham yang mengesalkan, yang jelas ia sangat terhibur.


“Coba lihat mereka, pasangan yang serasi bukan.” Dinia berkomentar.


Sean mengangguk, demi apa? ia tidak tahu. tapi setiap kalimat yang keluar dari mulut istrinya ia hanya mampu membenarkannya.


“Kau benar dear,”


Dinia menarik Sean agar mendekat kearahnya, membisikkan sepatah dua kata lalu bertepuk tangan dengan Gembira, sambil sesekali melirik kearah dua pemeran utama.


Apa? jangan bilang anda memiliki saran menjodohkan saya dengan Alenta, nona itu ide yang buruk.


Tatapan ham Seperti mengintimidasi.


Hehehehe.


Dinia tertawa miring memiliki kegiatan baru selanjutnya.


Jam di dinding berbunyi, tepat di jam dua belas malam, saat ini adalah saatnya Cinderella undur diri dari pesta karena efek sihir dari ibu peri akan sirnah di jam dua belas malam.


“Pergilah, sudah jam dua belas.” Ujar Ham kepada lawan mainnya, karena Alenta benar-benar enggan beranjak dari tempatnya.


“Lha ko' Cepat sekali!” Sungut Alenta tidak terima.


Di sana, Dinia berdiri dari duduknya, menatap Prem yang kelihatan mengintip dari balik layar, Seketika semua berhenti, sound dan lampu-lampu.


Dinia interupsi.


“Pak Premium bagaiamana sih? katanya ini sungguhan, kok jamnya jam buatan, harus menyesuaikan jam di kehidupan nyata dong.” protes Dinia.

__ADS_1


Seketika semua orang menoleh ke jam yang ada di aula. mata mereka Melotot memperhatikan jarum di jam itu.


Apalagi Ham, Darah tingginya hampir saja kumat.


Yang benar saja Nona, saya akan terus berdansa dengan makhluk Alien ini sampai jam dua belas, apa anda bercanda, sekarang kan masih jam sembilan malam.


Batin Ham meradang.


sedangkan Alenta tersenyum sumringah, menatap bangga dan segala Terimakasih tercurah kepada Kaka iparnya.


Kakak ipar, I love you so much.


Yang benar saja nona.


******


Semua berjalan dengan keinginan Dinia, selama dua jam penuh Alenta puas berdansa dengan prianya, sedangkan yang lain melakukan aktivitas mereka di sela-sela pemeran utama pria dan wanita.


Dinia sudah beralih dari duduk ke baringnya, Prem memang perfect, menyiapkan segala ranjang untuk nona mudanya menyaksikan drama itu.


Sampai di ujung Cerita, Cinderella hidup bahagia dengan mas tampan pangeran Ilham Rajeksa.


Para pemain bergantian jeda, Istirahat dan memulihkan stamina, sedangkan Dinia masih setia menyaksikan penuh dengan semangat meski hari menyambut fajar.


“Dear, sudah ya.” Sean yang menguap, meminta di sudahkan, tapi apa yang ia dapatkan.


Plakkkkkkk. tamparan dari Dinia.


“Tidur saja kalau mau, jangan mengganggu ku.”


“Baik dear.” Sean tertidur di bahu Dinia, sang istri mengelus-elus kepala Suaminya Sambil cekikikan dengan drama selanjutnya.


Semua sukses di pentaskan, tinggal dua lagi yang belum di panggung kan.


“Aduh aku sudah ngga kuat Pak Prem, cari pemeran nenek lampir lain saja ya.” Ujar Menty yang mengeluh padahal ia sudah tidur lama.


“Tapi nyonya.” gelisah Prem.


“Tidak apa-apa, biar aku yang menggantikan nyonya.” ujar Delete.

__ADS_1


“Baiklah kalau begitu, lanjut ya. pertunjukan kali ini snow white.” ujar Prem


tapi ia kebingungan, Lantara tidak menemukan Lipa dan Dokter Fhiari sebagai pemeran utamanya.


“Bibi Del, Nona Lipa belum turun juga dari atap?” tanya Prem.


“Blum pak Prem, nona masih meyakinkan dokter fhiari.” Jawab Delete.


“Duh bagaimana, kegelisahan mulai mengudara di balik layar itu, Sedangkan yang lain sudah tidak terlihat batang hidungnya, Aina Alenta dan juga Nosi sudah memasuki kamarnya. hanya tinggal pelayanan-pelayanan yang lain Disana.


“Kalau jadi Putri salju sih, saya bisa pak prem.” Ujar Menty.


Wahai penduduk Novel, mari kita tertawa, ternyata oh ternyata , nyonya Menty tidak terima juga segala peran yang ia terima selalu nenek lampir yang buruk hatinya, sesekali ia juga ingin menjadi pemeran utama.


Dinia dengan mata yang berbinar mulai menyaksikan,


Begitu menyimak di setiap adengan. sesekali ia bertanya dan protes jika adengan yang di lakukan tidak pas dengan versi cerita Disney.


“Apa-apaan ini.” kesalnya saat melihat ibu mertuanya menjadi pemeran utama.


“Cat.” Timpalnya berkelabat, wanita yang sedang hamil muda itu memegangi perutnya sambil berjalan ke atas panggung.


“Dear hati-hati.” Sean menuntun sang istri, sedangkan Ham turut mengamati.


Permainan macam apa ini? Tuan anda sudah lama tidak ke perusahaan demi sebuah pertunjukan, Seperti inikah jatuh cinta, sampai-sampai anda lupa akan kewajiban anda di perusahaan, anda harus menyetujui banyak proyek, sadarlah tuan, kumohon sudahi kebucinan ini.


Batin Ham meringis.


Dinia memasuki panggung, bersama dengan Sean yang selalu mendampinginya.


“Sudahlah Bu, biarkan peran ini menjadi milik ku.” Menggigit apel merah merekah di tangannya.


seperti yang ia lakukan di dalam kamarnya waktu itu. seketika ia pingsan kedada Sean yang siap menangkapnya.


“Dear.”


“Giliranku ya.” Dinia yang memejamkan mata mulai memberi isyarat agar pemain lama Semuanya menuruni panggung.


dengan langkah terbata semua menuruni panggung dan duduk di kursi penonton. sekarang berbalik alih, merak yang menyaksikan Sean dan Dinia melakukan sandiwara mereka.

__ADS_1


__ADS_2