Ternyata Suamiku Tampan

Ternyata Suamiku Tampan
Di suruh bekerja


__ADS_3

Drama di tutup dengan lamaran Lipa kepada Fhiari, dan Dinia pun merasa puas dengan pertontonkan yang estetik itu,


saat ini ia tengah menatap takjub kearah Sean yang tertidur pulas bagda subuh itu.


Dia Menyenakan.


Batinnya takjub karena sang suami mampu mewujudkan keinginannya.


Tangan lentik Dinia Seketika menyapu pipi Sean, matanya berbinar kala menatap wajah pualam yang tampan.


Eh.


Seketika Dinia menggeleng, Ada apa dengan ku.


“Hmm Dear.” Sean bergelayut menja di pelukan Istrinya, membuat Dinia gelagapan di campur deg-degan.


Ya ampun jantung ku.


Batinnya, menekan kuat-kuat dada dimana sebongkah merah berada.


lagi-lagi Dinia terjenga kalah melihat senyum teduh yang menyejukkan dari wajah Suaminya.


Senyum yang di penuhi zat adiktif itu mampu membuatnya terbang hingga melampaui alam fiktif.


“Dear.” Sean seperti sengaja menciptakan euforia membuat Dinia hampir musnah dengan jantung yang ingin memberontak dari tempat persembunyiannya.


“Lepas.” Dinia mendorong tubuh Suaminya, tapi Sean memeluknya dengan kencang. pria itu tidur sambil mengigau.


Pria ini, mimpi apa sih, mimpi di jatuhi matahari kali, makanya senang sekali seperti itu.


Batin Dinia mengada-ada.


Hap.


Sean membenamkan Wajah di dada snag istri, membuat dia kehilangan kendali.

__ADS_1


Apanih.


Ujarnya panik, dan berlari gelagapan ke kamar mandi.


Sepeninggalan Dinia, Sean duduk dari baringnya, Tersenyum licik menatap pintu kamar mandi.


pria itu benar-benar sengaja menjahili Istrinya.


Di rumah yang sama tapi kamar yang berbeda.


Empat gadis berkumpul di kamar Lipa.


jarang-jarang mereka bisa akur seperti ini. mungkin karena lamaran Lipa yang estetik Membuat gadis yang lain ingin meminta penjelasan darinya.


“Lip, Kamu dapat keberanian dari mana melamar Dokter Fhiari. aku aja dari dulu ingin bangat melamar Sekertaris Ham tapi tidak seberani itu.” Alenta berkomentar, komentar yang di penuhi iri dan dengki.


Lipa hanya tersenyum, tidak mampu berkata-kata. lamaran yang di terima sungguh jadi kado terindah yang turun dari langit untuknya.


“Melamar dokter Fhiari sih perkara mudah kak Alen, tapi kalau Kak Ham aku ngga yakin deh.” Balas Aina bergidik ngeri.


Membuat Alenta menciut nyali.


“Ngga ih, Khadijah aja duluan melamar Rasulullah.” Ujar Aina.


“Aku setuju kak Lipa nikah sama dokter Fhiari.” Aina mendukung.


“Makasih dek.” Lipa.


Drtttt drtttt.


gawai berderit pelan, para gadis memeriksa ponsel mereka, dan ternyata itu milik Aina, Seseorang menghubungi dirinya.


“Aina handphone kamu bunyi tuh.” Ujar Nosi memberi tahu.


“Dari siapa kak.” Aina bertanya, pasalnya ia meletakkan Gawai di atas nakas yang lebih dekat dengan Nosi.

__ADS_1


“Dokter Fhiari.” Ujar Nosi membacakan nama kontak itu, Seketika mata para perempuan itu menatap Aina, seolah bertanya ada apa Antara kamu sama dokter Fhiari.


*******


Pagi yang cerah, Dinia pelan-pelan keluar dari ruang ganti, menatap kanan kiri, melihat apa kah snag suami masih di atas Ranjang.


Huffff.


Syukur dia sudah pergi


batinnya lega, belakangan ini ia sering sekali tersipu malu saat sang suami menatapnya, membuatnya tidak percaya diri bila harus bertemu sering dengan Sean, sialnya mereka selalu bertemu tiap detik, menit dan kapan saja.


“Dear kau mencari ku.” Ujar Sean yang muncul dari dalam lemari, ia tahu Dinia menghindarinya sejak subuh itu, membuatnya semakin suka menjahili istri kesayangannya.


Brukkkk.


melemparkan setelan jas ke wajah Sean, dengan wajah jutek Dinia berkata.


“Pergi bekerja, anak mu mau makan apa jika ayahnya sibuk rebahan saja.”


Sean memeluk setelan jas itu, seolah ingin protes.


“Aku kan bosnya, mau rebahan dan ngga pergi ke perusahaan uangku tidak bakal habis tujuan turunan,” ingin sekali ia berucap demikian, tapi di urungkan. Karna kalau sampai kalimat itu keluar, Dinia akan marah besar karena ketakabburan suaminya.


“Aku akan bekerja, tapi mulai besok ya. hari ini aku ingin bersamamu. Chup." mencium pundak seputih susu milik Dinia.


“Tidak, kau harus pergi sekarang, anakmu harus memiliki masa depan yang cerah, kalau kamu bermalas-malasan begini, apa jadinya nanti.” Dinia menepis bibir Sean yang menempel di pundaknya.


“Baiklah dear.” Sean mengalah, bersiap diri menuju Perusahaan.


Wajahnya begitu tidak rela, jika Dinia mengijinkannya ia masih ingin bersama dengan Dinia tidak perlu ke perusahaan sekalian.


“Aku pergi dear." pamitnya dengan wajah kecut.


“Tunggu.”

__ADS_1


Dunia mencegat Sean.


“Mmmuuuaaahh. semangat bekerja sayang.”


__ADS_2