
Sebuah perjalanan yang meresahkan, di kawal dua orang wanita pengawal yang sangat tegas dan berwibawa, jangankan diajak kompromi, di ajak bercanda saja Dinia tidak bisa melakukannya.
“Nama kalian lucu ya, jadi bagaimana aku harus memanggil kalain?”
Tanya Dinia basa-basi, sekedar pendekatan saja siapa tahu dia bisa menyogok orang-orang itu, dan bisa pergi sendiri saja ketempat tujuannya.
“Nama lengkap saya Maxsimum. kalau nona berkenan bisa memanggil saya Max.” jawab wanita yang menyetir.
“Oh ok Max.
kalau kamu.” Tanya Dinia ke wanita di sebelahnya.
“Nama panggilan saya Min nona.” Jawabnya.
“Ok Min,” Dinia diam setelah itu, apalagi yang bisa ia bicarakan, mood booster yang tadi menganak di pikirannya hilang sirnah seketika saat dua orang itu mengawal dirinya.
“Nona, Anda mau Kerumah kakek anda kan.” Tanya Max meyakinkan.
“Terserah.” Ucap Dinia, Ia sudah pasrah sekarang, kemanapun itu dia sudah bodo amat.
Sampailah di rumah besar dengan pagar yang menjulang tinggi berwarna hitam, Dinia berkaca-kaca, ingin menangis melihat rumah dimana ia di besarkan.
Seorang satpam membuka pagar untuk mereka, dia adalah pak Sudi. Satpam yang sangat akrab dengan Dinia.
Mobil berhenti di depan rumah, Min keluar lalu membuka pintu untuk Dinia.
Di sana Pak Sudi terlihat berlari kecil menghampiri mereka.
“Mba Nia, anda kemari.” Serunya senang.
“Iya Pak, bagaiamana kabar kakek, bagaiamana kabar kalian.” tanya Dinia kepada satpam itu.
Sudi menunduk, wajahnya cemas.
“Pak Wijaya Beberapa hari ini tidak terlalu sehat Mba.”
“Apa! Kenapa bapak tidak memberi tahu aku.” Tanya Dinia cemas.
“Pak Wijaya melarangnya mbak.” Ujar Sudi.
Dinia mengusap wajahnya, lalu berlari kedalam rumah.
Di sana ada Direktur Kakeknya, yang bernama bayu.
“Paman kenapa tidak memberitahu ku kalau kakek sakit.”
“Nia kau kembali, Pak Wijaya sangat merindukanmu.” jawab Bayu.
“Kenapa paman tidak memberitahuku.” Bentak Dinia, Ia menarik kerah baju Bayu yang tidak berterus terang padanya.
”Nona muda!” Max dan Min langsung menenangkan Dinia.
“Kakek yang tidak ingin memberi tahu mu tentang kondisinya.” Suara seorang pria, Dia adalah dokter Fiari yang baru keluar dari Kamar Wijaya.
“Kak Fiari!” Jawab Dinia refleksi. Lalu menghampiri Dokter muda itu.
“Kakek tidak ingin kau Kawatir.” ujar Fiari.
“Bagaiamanapun itu kalian seharusnya memberi tahu aku,” Ujar Dinia marah.
“Aku ingin bertemu kakek.” Dinia menerobos ingin masuk.
”Kakek baru saja tidur Nia, Kalau Nia ke dalam Nanti kakek akan terganggu.” Tutur Dokter Fiari.
“Kita harus bicara.” Fiari Menarik tangan Dinia. Reflek Kedua pengawalnya melepaskan pegangan Fiari di tangan Nona muda mereka.
“Nona anda tidak boleh berpegangan dengan pria sembarangan.”
“Tidak apa-apa, Dia kakak ku.” jawab Dinia.
Lalu membawa Fiari untuk bicara di taman samping rumah.
__ADS_1
Max dan Min mengikuti.
“Siapa mereka?” Tanya Fiari.
“Entahlah, Mereka di tugaskan mengawaliku kalau keluar rumah.” jawabnya lesuh.
“Kau pasti terkekang.” Ucap Fiari Iba.
“Tidak juga.”
Di sebuah bangku taman di samping rumah, Dinia dan Fiari duduk berdua, di awasi Max dan Min dari kejauhan.
“Kenapa tidak memberitahuku kalau kau ingin menikah.” Sesal Fiari yang tidak tahu teman masa kecilnya itu sudah menikah.
“Maaf Kak, Waktu itu sangat mendesak.”
“Bagaiaman pun itu, tidak seharusnya kau melupakan cinta pertamamu kan.” Goda Fiari.
“Apaan sih kak, Itu dulu cuma cinta monyet tahu.” Dinia menyangkal bahwa dirinya dulu pernah memacari dokter tampan itu.
Fiari tersenyum,
“Pasti Suami mu tampan ya. seperti yang di katakan kakek. Ku dengar di seorang CEO.” Ujar Fiari.
Tampan dari mana, Dia tua Bangka, kakek tidak memberi tahu mu ya?
Batin Dinia.
“Apa dia sangat Tampan.” Tanya Fiari sekali lagi.
Dinia hanya menggauk.
Bagaiamana lagi, tidak mungkin kan aku mengaku dinikahi aki-aki.
Batinnya.
“Hmm, Aku jadi ingin bertemu dengannya.” Ujar Fiari lagi.
“Apa!” Dinia syok.
Aku tidak akan memarahinya karena merebut cinta pertama ku, aku hanya ingin memastikan saja.” ujar Fiari.
“Tidak usah.” Dinia spontan berdiri,
“Kakak pulanglah, aku ingin menemui kakek.” Ujar Dinia lalu berjalan kedalam rumah.
Dinia memasuki kamar Wijaya.
dan pria tua itu tengah bersender di bantal diatas kasurnya.
”Nia.” Panggilan lembut. “Kau disini.”
“Kakek.” Dinia berlari mendekati kakeknya, memeluk erat.
“Kenapa kakek tidak bilang kalau sedang sakit.”
“Kakek tidak apa-apa Nia, kakek tidak bisa tidur memikirkan mu di sana, apa kau menderita, apa pria tua itu mengusik mu.” tanya Wijaya.
“Aku baik-baik saja kek, Semua orang sangat baik padaku, dan kakek tua tidak berani berbuat macam-macam denganku. Kakek tidak usah kawatir, rawatlah diri kakek, aku akan lebih sering mengunjungi kakek kedepannya.” ujar Dinia, ia memijat-mijat lengan kakeknya.
Wijaya mengusap tangan dini yang memijat lengan kirinya,
“Kau pasti berbohong, Nia Ku tidak baik-baik saja di sana kan, katakan saja yang sejujurnya pada kakek. kau lihat dokter Fiari, dia sangat cocok dengan mu. Kakek akan membuatmu bercerai secepatnya dan menikahkan mu kepada Fiari.” Ujar Wijaya, keputusasaanlah yang membuat ia menjadi Seperti itu.
“Astgfirulloh kek, tidak boleh begitu, Nia baik-baik saja. Nia tidak mungkin meminta cerai kalau suami Nia tidak bersalah, lagi pula jika Nia pergi dari rumah itu–perusahaan kakek akan jatuh ke tangan mereka, Nia hanya tidak ingin melihat jerih payah kakek terbuang sia-sia, bagaiamana nanti menghidupi anak-anak panti kalau kakek bangkrut dan pensiun, mereka butuh hidup kek.”
“Tapi kakek tidak bisa membuatmu menderita Cucu ku.” Wijaya berkaca-kaca.
“Nia bahagia kek, Akan tetap bahagia selagi kita masih bisa bertemu.” Dinia memeluk Wijaya. kakek itu mengusap kepala cucu kesayangannya.
Aku yang salah, memilihkan jodoh yang salah untuk mu, aku pantas kehilangan segalanya.
__ADS_1
Tunggu saja cucu ku, aku pasti akan membawa mu keluar dari rumah itu.
Batin Wijaya.
Di penghujung Siang, setah istirahat dan melakukan shalat dhuhur nya, Nia kembali menemui max dan Min.
“Kalian mau makan apa?” tanya Dinia kepada dua orang Wanita itu.
”Apa perlu repot-repot nona..” jawab keduanya.
Hei, memangnya kalian malaikat, tidak perlu makan dan minum. dasar aneh kalian sama anehnya dengan tuan kalian itu.
Batin Dinia kesal
“Kita akan makan di luar, sekalian jalan-jalan, kalain pasti bosan kan.” Ujar Dinia.
\*\*\*\*\*\*\*\*
“Hacccciuhhh.”
Gedung MOSEA lantai paling atas, seorang pria tampan tengah bersin beberapa kalai.
“Sialan, siapa yang berani mengataiku.” gumamnya pelan.
“Tuan, makan siang sudah disiapkan.” Ucap Sekertaris Ham, lantas meletakkan beberapa menusiatas meja di ruangan itu.
“Baik.” Sean berdiri dari kursi kerjanya. lantas beralih duduk di meja berukuran sedang itu.
Sementara Sean makan, Sekretaris Ham memasang wajah serius sambil melihat layar gaiwainya.
Sean yang melihat itu lantas bertanya.
“Ada apa?”
Sekertaris Ham menunjukkan layar gawai.
Pfffff. Sean menyemburkan makanan di mulutnya ke wajah Sekertaris Ham karena kaget dengan apa yang dilihatnya.
“Maaf.” Sean refleksi mengambil tissue dan membersihkan wajah Sekertaris Ham.
\*\*\*\*\*\*
Sementara disana, Pasar daerah kekuasaan Dinia. Seorang wanita di kawal dua orang bodyguard berpengalaman. Duduk bersama dan menyantap beberapa makanan ekstrim di pasar.
Max dan min ikut menyantap makanan yang di beli oleh Dinia yang jumlahnya sangat banyak itu.
“Mas-mas, mbak-mbak pesan saja Saya yang bayar.”...
“Ihhh makasih banyak ya mbak Dinia, semoga makin makmur dan jaya hidupnya ya. titip salam sama suami.” ucap para kenalan pasar yang membuat dunia canggung.
Mereka bertiga memutuskan pulang setelah kenyang dan lelah. Badan bercampur keringat karena suasana pasar yang begitu panas dan ramai.
“Mbak Dinia, apa kabar.”..
“Itu mbak Dinia? ya Tuhan beda banget.”
“Ini neng Dinia? akang pangling penampilannya beda. udah pindah haluan sekarang nya? udah nggak tomby lagi.”
Beberapa sapaan dari beberapa penjual hingga pengunjung di pasar membuat Max dan min melotot karena nona mereka selalu diajak bicara oleh orang-orang asing.
Sampai Usman datang dengan pakaian lusuhnya bau keringat dan bau pasar bercampur di tubuh pria itu.
“Mbak Nia.” Antusias Usman ketika melihat teman dekatnya itu...
Ia sangat gembira sampai-sampai memeluk Dinia.
BRUKKKK.
tentu saja Max dan min tidak terima jika nona mereka berpelukan dengan pria lain..
Tubuh Usman yang kurus terlempar beberapa meter karena di tendang oleh dua orang bodyguard Dinia.
__ADS_1
“Astaga, Usman.” Dinia cepat-cepat membantu sahabatnya dan meminta maaf kepada pria kurus itu.
BERSAMBUNG.